Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Lifestyle

Sekelumit Cerita Kopi Gayo, Dicari Penikmat Kopi Seantero Dunia

Senin, 17 Juli 2017

Kopi Gayo sempat merajai dunia. (Foto:Ilustrasi)

PEKANBARU-Pepatah Tanah Gayo menyebutkan, Uet nome turah kona kupi gayo. Kegere ngupi gere muke emikiren te. Seorang kawan dari Tanah Gayo mengartikan, setelah bangun tidur kita harus minum kopi gayo. Dengan minum kopi pemikiran menjadi terbuka.

Cerita ini dimulai daratan tinggi Tanah Gayo, Aceh Tengah. Terhampar perkebunan kopi dengan varian Arabika, pada ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut. Kopi yang dilahirkan dengan rasa gurih, tingkat kekentalan yang kuat dan hadir dengan aroma harum ini, sekarang sudah berhasil disekolahkan untuk go international.

Beberapa dekade terakhir, dunia mengenal kopi mahal dan berkualitas dari Indonesia dengan nama Kopi Luwak. Sekarang, Kopi Gayo sudah menyusul masuk ke jajaran atas kopi yang dicari penikmat seantero dunia.

Sebenarnya, namanya tak hanya melambung di kancah internasional. Sejalan dengan menjamurnya warung kopi di Tanah Air, penggemar lokal pun tak kalah banyak. Untuk membumikan Kopi Gayo di pasar internasional, pemerintah mendaftarkannya ke World Intellectual Property Organization (WIPO). Sebuah organisasi dunia, yang bergerak dalam bidang kekayaan intelektual.

Kopi Gayo yang telah terdaftar di WIPO, menjadikan komoditas asal Aceh ini diakui sebagai produk asli Indonesia oleh seluruh dunia. Gayo didaftarkan pada 26 Januari 2016. Setelah melewati masa publikasi, akhirnya Kopi Gayo terdaftar sebagai produk indikasi geografis (IG) Indonesia pertama yang dilindungi Uni Eropa, 23 Mei 2017.

Jauh sebelumnya, sebenarnya nama Gayo sudah mentereng. Kopi Gayo mendapat Fair Trade Certified dari Organisasi Internasional Fair Trade pada 27 Mei 2010. Pada tahun yang sama, International Conference on Coffee Science, menominasikan kopi Dataran Tinggi Gayo ini sebagai The Best No 1.

Tanamera Coffee, salah satu coffee shop yang berkembang di Jakarta, menyebutkan kualitas Kopi Gayo sangat dipengaruhi oleh kondisi alam daratan tinggi Gayo.

Lahir dari kondisi tanah vulkanik, jenis tanah yang memiliki unsur hara tinggi, seperti di Lukup Sabun, Bandar Lampahan, Simpang Balik, Kabupaten Bener Meriah, membuat kopi ini diincar oleh perusahaan hulu dan hilir kopi.

Dalam situsnya, tanameracoffee.com, disebutkan karakteristik aroma dan rasa kopi gayo akan membawa penikmat menyentuh pengalaman sensori yang khas berupa sensasi bebungaan (floral notes) seperti teh hitam atau juga rempah-rempahan (spicy notes) seperti jahe, cengkeh dan juga sensasi lainnya sesuai dengan masing-masing individu yang menikmatinya.

Bagi pemerintah kemasyuran Kopi Gayo, tidak sekadar menjadi hiasan teras rumah. Sebagai lima besar produsen kopi terbesar di dunia, tentu hitung-hitungan devisa menjadi potensi yang tak boleh dihiraukan. Dalam catatan ekspor pemerintah, kopi telah menyumbangkan lebih nilai US$1 miliar lebih, dengan rerata pertumbuhan ekspor di atas 10 persen per tahun.

Direktur Merek dan Indikasi Geografis DJKI Fathlurachman mengatakan dengan diakuinya produk IG Indonesia di Eropa, diharapkan juga meningkatkan citra kopi nusantara di mata dunia. “Kami tidak ingin Kopi Gayo saja yang tembus pasar Internasional. Indikasi Geografis lain harus segera menyusul,” tuturnya.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan citra produk IG strategis Tanah Air, diharapkan tak sekadar mengisinya dengan menghadirkannya di pameran internasional.

Akan tetapi, juga membuatnya benar-benar milik Indonesia, dan patut dilindungi. Kekhawatiran banyaknya produk Nusantara yang diklaim negara lain, tentu tak ingin terulang. Pemerintah, dan bahkan para penikmat kopi Tanah Air seharusnya lebih mencintai harta karun yang disediakan alam. Sruput... (kabar24/zulfiar trisananda)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus