Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Kolom

Sekolah Partai ala PDI Perjuangan

Jumat, 31 Mei 2013


Oleh: Bambang Arianto*

Jelang pesta Demokrasi 2014 yang hanya terpaut berapa bulan ke depan, keberadaan partai politik masih dianggap sebagai sebuah institusi yang paling bermasalah dan tidak memberikan hal yang substansial dalam mengatasi berbagai persoalan bangsa. Prahara partai politik akhir-akhir ini malah semakin memunjukkan taring kejahatan dimata publik dengan terus menampilkan sajian yang membuat rakyat semakin menutup mata rapat-rapat terhadap partai politik.

Prahara demi prahara melanda parpol jelang pesta demokrasi, setelah Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersandung kasus pencucian uang impor daging sapi, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kepleset kasus Hambalang dan terus dilanjuti oleh beberapa kader parpol Golkar. Ironisnya PKS dan Demokrat yang selama ini selalu mengkampanyekan gerakan anti korupsi pun ikut larut menikmati kue kekuasaan yang berakibat semakin melorotnya kepercayaan publik terhadap institusi partai politik.

Sungguh ironis bila parpol semakin dijauhi oleh pendukungnya ditengah upaya berbagai institusi demokrasi bersama-sama membangun proses demokratisasi. 
Kepercayaan Publik. Melihat sepak terjang parpol dekade ini terlihat sebuah spasi kemunduran bagi upaya pendewasaan partai untuk dapat menjadi gerbong baru yang mampu dipercaya oleh masyarakat dan tentunya dapat benar-benar menjadi salah satu pilar demokrasi.

Membangun parpol yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan bangsa bukanlah persoalan mudah, karna banyak faktor yang harus dikedepankan khususnya internalisasi ideologi parpol yang selalu mencair ditengah-tengah derasnya gerakan transaksional para elit parpol. Hal inilah yang menjadikan banyak tumbuh kader-kader parpol yang bermuka tikus atau serigala. Langkah reifikasi sudah saatnya perlu dikedepankan bagi upaya perbaikan citra parpol dimata publik. Reifikasi adalah bagaimana partai mampu memberikan citra dan dampak positif kepada publik dan pendukungnya.

Mengutip sebuah Harian lokal di Yogyakarta beberapa waktu lalu, ada hal yang menarik ketika Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mencoba menjawab menurunnya kepercayaan publik terhadap parpol dengan merevitalisasi lemahnya internalisasi ideologi kader parpol melalui sebuah sekolah partai. Penulis memang mengklaim sekolah partai ini sebagai sebuah sajian menarik dari Bapak Idham Samawi yang kebetulan saat ini menjabat Ketua DPP PDIP. Idham Samawi menjelaskan bahwa DPP PDIP telah mengirimkan beberapa kadernya untuk mengikuti sekolah partai di Jerman Barat, Cina dan Korea Utara menjadi sebuah langkah yang patut diapresiasi.

Sekolah Partai yang kebetulan dinahkodahi HM Idham Samawi, mantan Bupati Bantul itu menjadi salah satu icon perbaikan citra parpol ditanah air. Walau sebenarnya sekolah partai telah digelar oleh beberapa partai ditanah air, tapi setidaknya gerakan sekolah partai yang kembali disebut-sebut sebagai upaya perbaikan citra parpol ini diharapkan akan mampu menepis gelar negatif bagi sejarah parpol di tanah air.

Merujuk beberapa hasil survey kontemporer tetap menempatkan partai politik menjadi institusi yang paling bermasalah saat ini dimata rakyat. Berbagai survey kontemporer yang digelar menunjukkan parpol hanya menempatkan posisi terakhir atau 43 persen dari semua institusi yang tidak dapat dipercaya. Bahkan survey terbaru 85,8 persen responden menilai parpol belum bekerja untuk kepentingan rakyat. (Survei Litbang Kompas 27 Februari-1 Maret 2013).

Rendahnya kepercayaan publik terhadap parpol lebih disebabkan ulah kader parpol sendiri yang tidak mampu memainkan peran-peran substansialnya dalam setiap momentum sehingga yang terjadi adalah memburuknya citra parpol dan otomatis akan memunculkan sentimen anti-partai. Kasus korupsi dan suap, konflik internal, deideologi, minimnya proses kaderisasi, dekadensi moral kader, buruknya transparansi dalam hal keuangan serta ditambah belum berfungsi secara optimal proses perekrutan kader disetiap parpol telah menambah deretan panjang proses pelembagaan internal partai politik.

Belum lagi ditambah belum berjalannya fungsi control kinerja pemerintahan, pendidikan politik dan upaya memperkenalkan program kerja kepada masyarakat yang semakin menambah kegagalan parpol dalam upaya pelembagaan. Sekolah Partai yang digelar PDIP setidaknya akan menjawab keraguan publik mengenai buruknya citra partai politik. Lemahnya kaderisasi menjadikan semakin menumpuknya penyakit yang menghinggapi parpol.

Upaya penyegaran kader parpol mutlak diperlukan dengan menggelar sekolah partai secara berkala. Hal ini akan dapat menjawab sebuah pertanyaan publik mengenai masa depan institusi parpol dan akan mampu meningkatkan elektablitas partai politik dan tentunya PDIP sendiri. Sekolah Partai akan dapat mengembalikan deideologisasi kader parpol untuk dapat tampil menjadi artikulator kepentingan rakyat. Langkah ini jelas akan sedikit banyak membantu mengikis sentiment anti-partai.

 Sekolah Partai ini akan menjadi penyeimbang perilaku parpol dalam mencari kekuasaan dengan politik untuk memperjuangkan kepentingan dengan tetap tegas memperjelas ideologi yang menjadi motor pergerakan parpol. Langkah ini akan menjadi spasi baru dalam upaya memperkuat peran partai politik khususnya PDIP dalam menjaga hubungan dengan pendukungnya, dan tentunya dimata pemilih mengambang (swing voter) terbukti untuk saat ini PDIP cukup berhasil dan beruntung telah melahirkan sosok Jokowi di Pilkada DKI.

Pelembagaan Parpol
Rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap parpol dapat dijadikan musuh bersama bagi segenap kader parpol untuk kembali berjuang memperbaiki citra institusi ini. Tidak ada kata lain selain pelembagaan parpol yang menjadi kunci utama untuk mengembalikan kepercayaan, salah satunya Sekolah Partai. Mengutip Vicky Randall dan Lars Svasand, (Party Politics, Vol 8 Januari No 1 Tahun 2002), proses pelembagaan ini mengandung dua aspek, aspek internal-eksternal, dan aspek struktural-kultural.

Empat hal yang perlu ditekankan dalam pelembagaan partai: (1) derajat kesisteman (systemness) (2) derajat identitas nilai (value infusion), (3) derajat otonomi suatu partai dalam pembuatan keputusan (decisional autonomy) dan (4) derajat pengetahuan atau citra publik (reification). Sekolah Partai dituntut mampu membenahi keempat persoalan yang menjadi momok pelembagaan dalam partai politik. Langkah substansial ini bukan hanya milik PDIP akan tetapi mutlak diperlukan bagi semua parpol di Indonesia guna membimbing berjalannya parpol dalam sebuah koridor fungsi-fungsi yang semestinya.

Publik akan tetap menunggu output Sekolah Partai ala PDIP ini. Mampukah Sekolah Partai ala PDIP ini menghasilkan kader yang mampu memperbaiki legitimasi parpol dimata rakyat dan mampu menghambat laju golput dalam setiap pemilihan umum?. Perlu dingat bahwa rakyat akan memilih partai yang mampu memperjuangkan wong cilik bukan partai yang hanya mampu mengumbar hasrat politisnya. Partai politik harus terus tampil cantik dimata rakyat agar mampu melahirkan Jokowi-jokowi muda dikemudian hari. Melahirkan kader terbaik akan lebih penting dari pada menang dalam pemilu sekalipun. Selamat buat Sekolah Partai ala PDIP dan Pak Idham Samawi. (***)

*Pengamat Partai Politik Bulaksumur Empat Research and Consulting (BERC) dan Pendiri Penerbit Bimotry Yogyakarta



Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus