Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Ekonomi

Sentimen Negatif, Harga Batubara Masih Terus Tertekan

Sabtu, 20 April 2013


JAKARTA-Harga batubara masih terus mengalami penurunan sampai ke level harga terendah sejak April 2009. Sentimen negatif dari indikasi perlambatan ekonomi global yang ditandai dari melambatnya kinerja sektor industri China, masih membayangi pergerakan harga batubara.

Harga batubara untuk pengiriman Mei 2013 di ICE Futures, Kamis (18/4), turun 1,1 perse menjadi US$ 85,25 per metrik ton. Dibanding harga sehari sebelumnya. Harga batubara anjlok 4,37 persen dalam sepekan. Menurut analis senior Harvest International Futures, Ibrahim, pergerakan harga batubara kemungkinan besar masih akan turun, pekan depan. Kalaupun ada penguatan, sifatnya hanya sementara.

Belum jelasnya implementasi kebijakan dari beberapa bank sentral, seperti Federal Reserver di Amerika Serikat (AS), European Central Bank dan Bank of Japan, menyebabkan pelaku pasar menahan posisi. Pasar berharap, adanya stimulus moneter agresif untuk memutar roda industri yang tersendat dan bisa mendongkrak harga batubara.

Indeks manufaktur dari beberapa negara Eropa, China dan AS di awal pekan depan belum bisa mendongkrak pergerakan harga. Selain AS, indeks maufaktur negara-negara Eropa dan China diperkirakan akan turun. Bila prediksi para analis ini benar, harga batubara akan melanjutkan penurunan.

"Peningkatan kinerja industri AS saja tidak akan mampu mendongkrak harga batubara, justru saat ini yang menjadi fokus pasar adalah China, sebagai negara konsumen batubara terbesar di dunia," papar Ibrahim.

Sementara analis Philip Futures Indonesia, Juni Sutikno menambahkan, harga batubara cenderung tertekan karena situasi perekonomian global saat ini masih belum stabil. Selain itu, akan sulit bagi batubara untuk terus mengandalkan permintaan dari China. Pemerintah China sudah menetapkan aturan emisi baru bagi beberapa industri di negara tersebut, terkait tingginya polusi udara di beberapa kota besar.

Di Amerika Serikat, penggunaan batubara kemungkinan makin berkurang dan diganti dengan berbagai sumber energi baru yang lebih bersih. Hal ini akan semakin menekan harga.

Secara teknikal, Ibrahim melihat adanya sinyal bearish pada pergerakan harga batubara. Indikator bollinger band 11 menunjukkan harga 100 persen sudah menyentuh bollinger bawah. Indikator moving average (MA) juga menunjukkan harga 100 persen sudah menyentuh bollinger bawah, mengindikasikan kuatnya sinyal bearish.

Selama sepekan mendatang, Ibrahim memprediksi, harga batubara masih bergerak turun di kisaran US$ 84,20-US$ 86,70 per metrik ton. Juni memprediksi adanya penurunan harga pada kisaran US$ 82,58-US$ 89,92 per ton. (kci/lin)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus