Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Ekonomi

SP-KMPT Kecewa Pemerintah Perpanjang Kontrak Pengelolaan Blok Corridor 20 Tahun

Senin, 19 Agustus 2019

Massa menyampaikan orasinya. (Foto:Dika CP/FokusRiau.Com)

DUMAI-Ratusan anggota Serikat Pekerja Kilang Minyak Putri Tujuh (SP-KMPT) yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) PT Pertamina RU II Dumai, Senin (19/8/2019) mengampaikan kekecewaannya atas keputusan pemerintah memperpanjang kontrak pengelolaan blok Corridor kepada ConocoPhillips untuk 20 tahun ke depan, mulai 2023.

Sebagai bentuk kekecewaan tersebut, karyawan PT Pertamina RU II Dumai dan Sei Pakning menggelar aksi berorasi dan long march dari Kilang Pertamina keluar gate I kemudian masuk kembali melalui gate II di Jalan Putri Tujuh.

Ketua SP-KMPT Riduan menilai, keputusan pemerintah telah melanggar Permen ESDM Nomor 15 tahun 2015, setelah Permen ESDM Nomor 23 tahun 2018 dibatalkan oleh gugatan FSPPB ke Mahkamah Agung November 2018 lalu. Karena itu, semua kebijakan Kementerian ESDM harusnya berpedoman pada Permen ESDM Nomor 30 tahun 2016 dan Permen ESDM Nomor 15 tahun 2015 yang memberikan hak istimewa kepada Pertamina untuk menjadi operator blok migas yang akan berakhir kontrak kerja samanya.

Selain itu, Pemerintah harus mempertimbangkan alasan-alasan kenapa harus menunjuk Pertamina 100 persen dalam pengelolaan blok migas terminasi antara lain, memperbesar kontribusi NOC dalam produksi migas nasional sehingga meningkatkan ketahanan dan kedaulatan energy. Kemudian Pertamina sebagai BUMN, berarti 100 persen keuntungan akan masuk ke negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Pertamina sudah terbukti dan berpengalaman mengelola blok di onshore maupun offshore hasil alih kelola sebelumnya, bahkan mampu meningkatkan produksi migas di blok-blok tersebut

Keputusan memperpanjang kontraj akan menyandera Pertamina dalam pengelolaan Blok Rokan, karena ketergantungan supply gas dari Blok Corridor. Dimana supply gas tersebut amat vital dalam operasional Blok Rokan dan Kilang Dumai.

Saat ini, Blok Corridor menyumbang sekitar 17 persen dari total produksi gas di Indonesia. Sampai April 2019, produksi gas Lapangan Grisik, Blok Corridor mencapai 1.028 mmscfd (1 BCF per hari). Sedangkan lifting gas sebesar 834 mmscfd.

SP-KMPT & FSPPB mendesak pemerintah membatalkan keputusan perpanjangan Kontrak Kerja Sama Wilayah Kerja Blok Corridor kepada ConocoPhillips selanjutnya memberikan 100 persen hak pengelolaannya kepada PT Pertamina (Persero).

Meminta Kementerian BUMN mengganti Direktur Utama dan Direktur Hulu PT Pertamina (Persero), karena telah gagal merebut blok Corridor. KPK juga diminta segera melakukan audit investigasi atas keputusan Menteri ESDM tersebut.
 
"Bila tuntutan tidak dipenuhi, kami akan melakukan “perenungan kreatif”. Seluruh pekerja Pertamina dari Sabang sampai Merauke, termasuk Pekerja RU II Dumai serentak meninggalkan pekerjaannya beberapa jam untuk bersama-sama merenung," tukasnya. (*)


 
 
Penulis: Dika CP
Editor: Boy Surya Hamta


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus