Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Ekonomi

Sri Mulyani Proyeksi Belanja Negara 2018 Mencapai Rp2.349 Triliun

Senin, 12 Juni 2017

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto:Sindonews)

JAKARTA-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan, anggaran belanja dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (R-APBN) 2018 sebesar Rp2.204 triliun sampai Rp2.349 triliun. Itu untuk menopang target pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan berada pada kisaran 5,4 persen sampai 6,1 persen. 

"Dari outlook yang ada, kami perkirakan belanja negara dalam APBN 2018 sebesar Rp2.204 triliun sampai Rp2.349 triliun," ujar Sri Mulyani dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (12/6/2017). 

Dengan proyeksi tersebut, secara hitungan belanja negara meningkat sekitar Rp123,5 triliun sampai Rp268,5 triliun atau secara persentase tumbuh 5,9 persen sampai 12,9 persen, dari alokasi belanja dalam APBN 2017 sebesar Rp2.080,5 triliun. 

Adapun dalam R-APBN 2018 tersebut, Sri Mulyani melihat bahwa belanja pemerintah pusat akan sekitar 9,1 persen sampai 10,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) 2018. Untuk belanja pemerintah, Sri Mulyani melihat, belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebanyak 5,2 persen sampai 6,2 persen dari PDB atau relatif sama dengan persentase di APBN 2017 dan belanja non K/L sebesar 3,9 persen sampai 4,3 persen dari PDB. 

Lalu, transfer ke daerah sekitar 5,6 persen sampai 5,8 persen dari PDB. "Sehingga, belanja total negara sekitar 15,1 persen sampai 16 persen (dari PDB)," imbuh Sri Mulyani. 

Sedangkan di sisi penerimaan negara, Sri Mulyani belum memberikan angka proyeksinya, namun menurutnya, penerimaan negara akan diupayakan pemerintah meningkat dan mampu mengimbangi besarnya belanja negara, sehingga defisit anggaran bisa ditekan.

Menurutnya, penggenjotan penerimaan akan dilakukan dari penerimaan pajak, di mana tingkat kepatuhan membayar pajak (tax ratio) ditargetkan mampu meningkat sebesar 11 persen sampai 12 persen, dari tax ratio saat ini sebesar 10,36 persen. 

Kemudian, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) ditargetkan mampu tumbuh 1,8 persen sampai 2,0 persen dan penerimaan hibah sebesar 0,05 persen sampai 0,7 persen. "Jadi, seluruh pendapatan negara dari pajak dan PNBP sebesar 12,9 persen sampai 14,1 persen dari PDB," kata mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu. 

Adapun pada tahun ini, penerimaan negara yang berasal dari perpajakan ditargetkan mencapai Rp1.498,9 triliun dan PNBP sebesar Rp250 triliun.

Dari proyeksi belanja dan penerimaan negara tersebut, Sri Mulyani membidik defisit anggaran bisa ditekan lebih rendah dibandingkan proyeksi defisit APBN 2017 yang sebesar 2,41 persen. Tak hanya itu, ia juga berani menargetkan defisit bisa lebih rendah dari realisasi defisit anggaran 2016 sebesar 2,35 persen. "Maka, kami perkirakan defisit sekitar 1,9 persen sampai 2,3 persen dari PDB dan keseimbangan primernya minus 0,4 persen sampai 0,6 persen," papar Sri Mulyani dikutip fokusriau.com dari cnnindonesia.com. 

Adapun untuk mengejar target defisit tersebut, Sri Mulyani mengatakan bakal mengupayakan penerimaan pembiayaan pinjaman sebesar 0,3 persen sampai 0,5 persen dan menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) sebanyak 2,7 persne sampai 3,0 persen dari PDB. 

"Dari defisit pengeluaran pembiayaa untuk amortisasi 0,5 persen sampai 0,7 persen. Untuk investasi Penyerataan Modal Negara (PMN) untuk LMAN dan lainnya sebesar 0,2 persen dan 0,4 persen dan pembiayaan lainnya," sebut Sri Mulyani. (zulfiar trisananda)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus