Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Nasional

Strategi Mengurai Kemacetan di Jalur Mudik Padang-Bukittinggi

Minggu, 10 Juni 2018

ilustrasi.(Foto: InfoSumbar)

PADANG-Bagi sejumlah pemudik tujuan Sumatera Barat, jalur Padang-Bukittinggi merupakan saah satu momok menakutkan, karena rute yang hanya berjarak sekitar 100 kilometer tersebut dalam kondisi normal bisa ditempuh sekitar 2,5 jam. Namun Saat arus mudik Lebaran, jalur tersebut bisa ditempuh 8 jam atau lebih.

Sebagai salah satu jalur utama di Ranah Minang, sebenarnya sudah ada sejumlah jalan alternatif menuju kota yang dikenal dengan ikon Jam Gadang tersebut. Salah satunya adalah jalur Sicincin-Malalak atau bisa juga ditempuh dari Padang melewati Sitinjau Laut, terus ke Solok via Ombilin tembus ke Kabupaten Tanah Datar kemudian menuju Baso.

Namun, kuatnya daya tarik jalur Padang-Bukittinggi membuat para pengendara rela bermacet-macet. Selain pemandangan yang elok, beragam kelezatan kuliner khas Minang hadir di sepanjang jalur yang sayang untuk dilewatkan.

Saat memasuki Lembah Anai yang merupakan kawasan cagar alam, pengendara akan dimanja oleh kesejukan pepohonan yang masih hijau hingga terdapat satu objek wisata yang cukup dikenal, yaitu air terjun Lembah Anai yang posisinya tepat berada di pinggir jalan.

Selepas dari Padang Panjang tepatnya di Koto Baru pemandangan Gunung Marapi dan Singgalang yang tepat berada di sisi kanan dan kiri jalan. Tidak hanya itu, perjalanan ke Bukittinggi juga mengasyikkan karena kontur jalan yang lumayan menantang sarat akan tanjakan dan turunan hingga tikungan tajam.

Belum lagi, beragam kuliner yang tersaji di sepanjang jalan, seperti perkedel jagung di Lembah Anai, satai di Padang Panjang, beberapa rumah makan khas Minang, bika di Koto baru, hingga beragam camilan khas nan nikmat.

Hadirnya beragam kuliner yang nikmat serta pemandangan yang rancak menjadi daya tarik jalur Padang-Bukittinggi di kalangan pemudik. Apalagi, pada saat mudik ratusan ribu kendaraan para perantau dari luar Sumbar juga lalu-lalang sehingga jalanan kian sesak dan padat.

Tidak hanya itu, Bukittinggi sebagai kota wisata juga menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk menghabiskan liburan Lebaran sehingga perjalanan ke kota itu makin ramai.

Popularitas Jam Gadang, Ngarai Sianok, hingga kuliner khas, seperti nasi kapau, itiak lado hijau telah menjadikan Bukittinggi sebagai pusat kunjungan. Berdasarkan identifikasi yang dilakukan Polda Sumatera Barat, ada empat sumber kemacetan di jalur utama Padang menuju Bukittinggi yang selama ini selalu menjadi persoalan saat arus mudik Lebaran.

Empat titik sumber kemacetan tersebut, yaitu Pasar Lubuk Alung, Kawasan Lembah Anai, Pasar Koto Baru, dan Pasar Padang Luar.

Dirlantas Polda Sumbar Kombes Pol. Singgamata menyebut, pihaknya telah menyiapkan skenario untuk meminimalkan kemacetan pada jalur Padang-Bukittinggi, terutama pada lokasi yang menjadi sumber kemacetan.

Di Pasar Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman merupakan pasar tumpah sehingga perjalanan akan tersendat akibat aktivitas jual beli. Pasar yang tepat berada di sisi kanan dan kiri jalan tersebut memang cukup ramai karena menjadi tempat berbelanja warga sekitar serta terdapat terminal angkutan kota.

Untuk itu, akan dilakukan rekayasa arus lalu lintas apabila kepadatan sudah cukup tinggi akan pengendara akan diarahkan melalui jalur alternatif, seperti belok kiri di Simpang Lubuk Alung, Pariaman menuju Sicincin, kata Singgamata.

Di Pasar Lubuk Alung para pedagang yang berjualan di badan jalan akan ditertibkan dan di sisi kiri dan kanan jalan dipasang barikade. Selanjutnya, untuk Kawasan Lembah Anai di Kabupaten Tanah Datar, sumber kemacetan berada di dekat lokasi air terjun. Di tempat itu banyak kendaraan yang parkir di sisi kanan dan kiri jalan menyebatkan antrean kendaraan hingga 10 kilometer.

Biasanya pengendara yang parkir adalah mereka yang hendak menikmati objek wisata air terjun Lembah Anai. Akan tetapi, di lokasi itu kapasitas lahan parkir amat terbatas di sisi kanan dan kiri jalan sebelum air terjun.

Akhirnya para pengendara memakai badan jalan untuk parkir sehingga arus lalu lintas tersendat menyebabkan antrean kendaraan yang terjebak macet di kawasan ini bisa mencapai hingga 10 kilometer panjangnya. "Pada tahun ini kami melarang pengunjung air terjun untuk parkir di sisi jalan karena menjadi pemicu kemacetan," katanya, kemarin.

Berikutnya untuk Pasar Koto Baru di Kabupaten Tanah Datar setelah dilakukan identifikasi permasalahannya adalah kapasitas bangunan yang tidak mampu menampung pedagang sehingga transaksi akhirnya dilakukan di badan jalan.

Kemacetan di Pasar Koto Baru telah terjadi bertahun-tahun dan belum ada solusi tuntas, terutama pada saat hari pasaran. Di pasar yang menjual hasil pertanian itu menjadi tempat pertemuan pedagang dan pembeli hingga memuat barang ke truk yang diparkir di badan jalan.

Terakhir di Pasar Padang Luar yang juga merupakan salah satu pasar tumpah yang cukup ramai akan dipasang barikade di sisi kanan dan kiri jalan agar arus lalu lintas lebih mengalir dan pengendara bisa tertib. "Jika sudah sangat padat akan diberlakukan arus satu arah oleh petugas dan yang lain akan dialihkan," katanya.

Singgamata merasa optimistis pada mudik tahun ini kemacetan di jalur Padang Bukittinggi bisa ditekan dan kelancaran arus bisa lebih baik dibandingkan tahun lalu. (*)

 
 
 
Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Antara


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus