Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Pokok Pikiran

Strategi SIAGA Lembaga Kursus dan Pelatihan Non Formal Menghadapi MEA dan Pasar Bebas Dunia

Sabtu, 22 April 2017

Ziko Fransinatra. (Foto:Istimewa)

Oleh: Ziko Fransinatra SS, MM*

Terhitung tanggal 01 Januari 2016 MEA telah dimulai, namun masih banyak diantara kita yang belum mengerti tentang MEA. MEA merupakan singkatan untuk bahasa Indonesia namun dalam bahasa Inggris ditulis dengan istilah ASEAN Economic Community (AEC) yang artinya bentuk kerjasama antar anggota negara-negara ASEAN yang terdiri dari Brunei, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Di samping itu, terdapat persaingan ketat di era pasar bebas dunia saat ini. Indonesia merupakan pasar terbesar. Sebagai pasar terbesar, Indonesia merupakan tempat yang menjadi tujuan banyak negara. 

Dari situasi tersebut, beberapa persyaratan umum harus dimiliki sebuah negara supaya produk barang dan jasa bisa bersaing antara negara yakni negara-negara tersebut haruslah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang trampil, cerdas, dan kompetitif. Apabila para pekerja profesional tidak bersiap dengan baik mereka akan kalah bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain. 

Menyikapi keadaan ini seharusnya ini menjadi cambuk keras bagi kita untuk merubah pola pikir serta berupaya dengan semaksimal mungkin dalam mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Perlu kita ingat bahwa SDM merupakan hal yang vital dalam perkembangan ekonomi suatu negara, dan Indonesia dianugerahi dengan jumlahnya yang sangat melimpah. Namun, akan sangat disayangkan jika potensi SDM nya tidak dipersiapkan dan dikelola dengan baik karena kita tidak bisa hanya bergantung pada kekayaan alam semata yang semakin menipis. Meningkatkan kualitas SDM adalah harga mati bagi Indonesia bila ingin membangun ekonomi yang lebih baik nantinya agar tidak terus-menerus tertinggal dan dieksploitasi oleh negara lain.

Akan tetapi, perubahan keinginan personal yang ingin maju yang harusnya tumbuh sayangnya menjadi sangat menurun. Peningkatan kualitas SDM seakan tidak begitu dikhawatirkan justru yang bermunculan adalah kecemburuan sosial di masyarakat sebagai suatu penyakit sudah membudaya. Pernahkah kita mendengar istilah, “ Ini negara kita, kita pribumi. Sebaiknya kita yang bisa menjadi penguasa di bumi pertiwi. Bukan mereka.” Atau mungkin kita juga pernah mendengar istilah, “ Kenapa harus orang asing yang menempati jabatan itu? Kenapa bukan kita?” Tapi pernahkah kita menanyakan kenapa mereka bisa dan kenapa kita tidak. Umumnya, kita banyak yang belum sadar bahwa kita hidup di era globalisasi. Kita harus serba bisa dan siap bersaing dengan siapa saja dan memiliki nilai jual yang tinggi terhadap kemampuan yang kita miliki. 

Saat ini persaingan semakin ketat. Selama ini, pengelola kursus berlatar belakang pemain alam. Itu karena tidak ada pendidikan manajemen kursus di perguruan tinggi. Akibatnya, dengan bertumbuhnya kursus asing di Indonesia yang biasanya masuk dalam bentuk waralaba berkualitas, lembaga kursus yang tidak profesional akhirnya banyak tutup. Lembaga kursus dituntut membenahi manajemen kelembagaannya seiring dengan semakin ketatnya persaingan tersebut. Untuk itu lembaga kursus diharapkan lebih profesional ke depannya. Pelaku dunia pendidikan, dituntut untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan dari segala sisi. 

Tidak bisa dipungkiri, dengan berbagai perkembangan di atas, pendidikan sekarang ini sudah mengarah pada proses industrialisasi. Dunia pendidikan tidak bisa lagi dianggap semata sebagai lembaga sosial, tetapi harus diperlakukan sebagai industri yang harus dikelola secara profesional. Karena, dengan semakin ketatnya persaingan, lembaga pendidikan akan ditinggalkan jika dikelola seadanya. 

Dari situasi tersebut diatas, LKP hendaknya berupaya untuk berbenah diri dengan pola berbisnis dan berbakti. Sebab jika bukan dari kita siapa lagi yang akan memperhatikan kemajuan bangsa ini. Dalam hal ini, LKP hendaknya berupaya keras untuk bangkit dari persaingan yang hampir yang ketat tersebut karena di masyarakat telah menjamurnya lembaga kursus sejenis atau lainnya yang. Terdapat sebuah pepatah asing yang menyebutkan,”Every cloud has a silver lining” yang maknanya, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Semut saja akan menggigit jika sarangnya berada dalam keadaan bahaya. Kenapa kita tidak bisa untuk meniru perilaku sederhana tersebut. 

Selanjutnya, LKP sebaiknya dapat  membantu peserta didiknya mengenal dunia kerja yang dan diharapkan menjalankan Strategi SIAGA. SIAGA bisa diartikan sebagai strategi pengelola yang berupaya keras untuk bertahan terhadap ketatnya persaingan bisnis dalam dunia pendidikan. SIAGA bisa juga diartikan was-was maksudnya waspada terhadap persaingan yang ada. Di samping itu, SIAGA juga dapat singkatan dari SIap Antar JaGA. 

Penerapan strategi SIAGA memberikan telah kontribusi positif. Hal ini tentunya tidak terlepas dari langkah efektif berikut yang diterapkan di LKP Bahasa Inggris.

1. SIAP
SIAP merupakan batu loncatan atau langkah awal dari keberhasilan strategi ini. LKP mempersiapkan peserta didiknya dengan sebaik-baiknya. Inovasi pembelajaran pun dilakukan. LKP tidak hanya memberikan pengetahuan tentang Bahasa Inggris namun juga dikombinasikan dengan Accounting, Correspondence, Flight, Shipping, serta Business Ettiquette serta lainnya. Program yang ditawarkan hendaknya  berupa paket yang melayani private, inhouse training maupun regular. 

Sistem belajar yang digunakan sebaiknya juga berkembang yakni dengan metode demonstrasi, e-learning, dan student center learning.  Materi yang diberikan pada program ini adalah pembentukan kosakata, tata kelola kalimat dalam waktu singkat dengan metode CPR (Circle of Magic, Pictures, dan Roots) yang telah dibukukan dan dipasarkan secara bebas. Disamping itu program yang hendaknya dikembangkan adalah Teachers, Secretarial Practice dan Special Purpose. 

Sebagai pusat pelatihan dan pendidikan Bahasa Inggris, bagi pengelola LKP Bahasa Inggris tidak hanya berfokus pada menata kalimat, cara bicara  dan latihan mendengar tapi juga sebaliknya yakni dengan mengembangkan Program Teachers dengan mempersiapkan peserta didik untuk mampu menjadi Instruktur Kursus Bahasa Inggris bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Pada Program Secretarial Practice peserta didik dipersiapkan untuk dapat menjadi seorang tenaga kerja kantoran yang menguasai surat-menyurat, interpreter, translator. Hal yang dipelajari adalah tata cara bicara, berpakaian dan bernegosiasi serta melakukan pencatatan transaksi keuangan perusahaan dengan kombinasi Accounting, Correspondence, serta Business Ettiquette

2. ANTAR
LKP hendaknya mampu menjadi jembatan yang mengantarkan peserta didiknya ke Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Hal ini tentu menentukan kualitas suatu LKP. 

3. JAGA
Jaga maksudnya adalah menjaga eksistensi dari LKP dan meningkatkan kualitas lembaga. Hal ini merupakan suatu wujud upaya pengelola dalam membangun citra positif LKP di masyarakat. Untuk meraih tempat dan merebut pasar usaha bidang pendidikan, LKP selalu berinovasi dalam sistem pembelajaran. Di samping itu, LKP memberikan transparansi akan program pembelajaran kepada masyarakat melalui: layanan LKP Care. Layanan ini menunjukkan bahwa LKP memberikan perhatian kepada peserta didiknya secara adil dan bersifat responsif. 

Adil maksudnya menerima kritik maupun saran melalui komunikasi langsung dengan orang tua peserta didik ataupun peserta didik itu sendiri. Selanjutnya, responsive berarti cepat tanggap dalam melayani kritik dan saran yang diberikan pelanggan LKP.  Kemudian, untuk memasarkan produknya LKP juga melakukan pomosi melalui media online seperti blog, brosur dan sebagainya

Dengan strategi SIAGA ini, LKP secara otomatis harus meningkatkan pembelajarannya. Setiap paket saat ini hendaknya diajar sesuai standar nasional dan Internasional.

Jadi SIAGA= WASPADA tapi SIAGA = SIAP ANTAR JAGA. (***)


* Penulis adalah dosen salah satu perguruan tinggi di Riau


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus