Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Alek Demokrasi

Survei BERC: Angkat Elektabilitas Partai Dengan Media Sosial

Senin, 29 April 2013


YOGYAKARYA-Rilis Survei Jejaring Sosial dan Partai Politik tidak dapat dipisahkan dari jejaring sosial, karena hal ini sudah menjadi senjata baru bagi pemasaran partai politik kepada pemilih khususnya pemula. Akhir-akhir ini, banyak partai politik yang mengambil tempat di jejaring sosial untuk memasarkan jargon parpol dan proses rekruitmen politik.

Dengan memanfaatkan kekuatan kader yang melek akan teknologi informasi, biasanya partai politik menjadikan jejaring sosial sebagai energi baru atau tim marketing politik (political marketing). Hal ini telah terbukti dapat menarik simpati pemilih pemula untuk dapat terlibat dan tertarik dengan partai politik tertentu.

Beberapa waktu lalu, Bulaksumur Empat Research and Consulting (BERC) Yogyakarta, mencoba merilis hasil survey internal yang dilaksanakan tanggal 5-10 Maret 2013 dengan metode wawancara via telpon kepada 410 responden pengguna jejaring sosial facebook dan twitter.

Responden berasal dari mahasiswa diempat kota besar, Yogyakarta, Jakarta, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan. Nyaris hampir semua responden (89,2%) menyatakan, dapat mengenal partai politik melalui jejaring sosial. Ini menunjukkan jejaring sosial mampu menaikkan elektablitas partai politik di mata masyarakat umum dari semua golongan. Hanya 5,9 persen yang menyatakan tidak mengenal, dan sisanya 4,9 persen tidak tahu.  Responden yang rata-rata berasal dari pemilih pemula menilai jejaring sosial mampu memperkenalkan partai yang akan menjadi kontestan 2014.

Jejaring sosial juga mampu menjadi marketing partai politik yang dapat menawarkan pelbagai program kerja maupun biografi sebuah partai politik disemua sendi kehidupan masyarakat. Pemanfaatan Jejaring sosial akan mampu mengurangi biaya iklan politik yang sangat tinggi dan membuat parpol lebih fleksibel lagi dalam melakukan direct selling pada masyarakat mengenai beberapa program partai yang sedang dan akan digelar. Partai pun dinilai mampu lebih bersahabat dan terasa lebih mengetahui persoalan rakyatnya melalui jejaring sosial. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya responden mengetahui pelbagai agenda sebuah partai politik melalui informasi yang di berikan melalui jejaring sosial.

"Bahkan ada beberapa partai politik yang mampu menarik kader maupun pemilih pemula melalui jejaring sosial terlihat disini para pemilih pemula yang selama ini belum tertarik terjun ke dunia partai politik akhirnya tertarik ikut nimbrung dalam partai politik dan menjadi kader masa depan," kata Bambang Arianto, Peneliti Politik di Bulaksumur Empat Research and Consulting (BERC) Yogyakarta melalui siaran pers yang diterima FokusRiau.Com, Senin (29/4).

Gejala korupsi politik yang berakibat menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik membuat semakin membesarnya gejala deparpolisasi. Hal ini membuat partai politik harus merevitalisasi pencitraan sebuah partai politik pada publik dengan cara-cara yang santun dan merakyat tentunya. Tingkat kedikenalan partai politik atau elektabilitas juga bisa diubah melalui jejaring sosial.

Terbukti jejaring sosial dapat mengubah keadaan elektabilitas beberapa partai politik peserta pemilu 2014. Partai Nasdem menjadi partai yang paling dikenal di masyarakat jejaring sosial sebesar 17,3 persen, disusul Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 16,1 persen, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 15,7 persen, Gerindra 13,2 persen, Hanura 12,1 persen, Demokrat 7,9 persen, Partai Golkar 6,2 persen, Partai Amanat Nasional (PAN) 2,1 persen, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 1,7 persen,  Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 1,5 persen, Partai Bulan Bintang (PBB) 1,4 persen,  Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 0,7 persen dan yang tidak memberikan jawaban sebesar 4 persen.

Hasil ini telah membawa kita untuk mampu melakukan pemetaan kekuatan kader partai politik dikalangan pemilih pemula. Hanya partai Nasdem, PKS, PDIP dan Gerindra, yang sampai saat ini mampu dengan sangat rapi melakukan pemasaran politik dalam merebut pemilih pemula melalui jejaring sosial.

Kasus Korupsi daging impor tidak begitu berpengaruh pada pemilih PKS karna rata-rata responden kaum pemilih terdidik, walau banyak responden yang merasa tertipu dengan ulah elit PKS. Banyak responden yang menilai, PKS tidak seperti ketika masih menjadi Partai Keadilan yang masih idealis. Artinya partai politik benar-benar dijadikan gerakan dakwah cultural, sedangkan saat ini PKS lebih condong pada logika kompetisi. "Sehingga apapun dilakukan dengan berbagai cara agar dapat merebut kekuasaan tersebut, padahal ketika kekuasaan tersebut direbut PKS belum menunjukkan hasil yang maksimal seperti di Jawa Barat, kemiskinan dan pengganguran masih merajalela," kata Bambang Arianto.

Sedangkan Gerindra dan Nasdem, diyakini akan menjadi kuda hitam bagi para pemilih pemula. Sangat banyak pemilih pemula menaruh harapan pada kedua partai ini untuk bisa meraup suara sebanyak mungkin di 2014, karna partai ini relatif lebih bersih dan membawa sesuatu yang baru. Sedangkan PDIP masih mempertahankan kader muda yang militan baik itu dari kaum menengah kebawah maupun tradisional dalam menghadapi pemilu 2014. "Sedangkan yang disayangkan adalah merolotnya partai-partai yang selama ini diback up ormas seperti PAN dan PKB, kedua partai ini sangat kurang menguasai wilayah jejaring sosial," ujar Bambang.

Tapi perlu di ingat survey ini tidak bisa menjadi jaminan kita semua, karna responden hanya diambil dari pengguna jejaring sosial, dan hanya berasal dari empat Provinsi. Tapi apa pun itu, setidaknya hasil survei ini telah membawa kita untuk dapat mengambil sebuah catatan penting bagi partai politik peserta pemilu 2014, bahwa parpol harus tetap menjaga proses regenerasi dan kaderisasi. "Parpol yang dapat menarik simpati pemilih pemuda sebagai kader dan membangun militasi kader baik itu melalui sekolah partai ataukah sekolah politik itulah parpol yang bisa berjaya dimasa depan," tukasnya. (ril/den)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus