Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Pokok Pikiran

Syamsuar dan HM Harris (Belum) Habis!

Selasa, 19 Desember 2017

Bupati Pelalawan HM Harris (kanan) dan Bupati Syamsuar. (Foto:Istimewa)

Oleh: Boy Surya Hamta*

TENSI politik di Riau menjelang pemilihan gubernur dan wakil gubernur (Pilgub) Juni 2018 mendatang terus meningkat. Kejutan demi kejutan muncul. Terakhir, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarno Putri mengumumkan dukungannya kepada pasangan Andi Rachman (Gubernur Riau petahana) dan Suyatno (Bupati Rokan Hilir) untuk maju di Pilgubri.

Sebelumnya, pasangan ini juga sudah mengantongi dukungan dari Partai Golkar, kala masih dipimpin Ketua Umum Setya Novanto. Keputusan PDI Perjuangan tersebut memang terbilang mengejutkan. Karena jauh hari, beredar isu pasangan yang akan didukung adalah HM Harris (Bupati Pelalawan) dengan H Yopi Arianto (Bupati Indragiri Hulu). Namun kenyataanya, pemilik 9 kursi di DPRD Riau tersebut malah mendukung sang petahana.

Dengan demikian, sejauh ini baru pasangan Andi Rachman-Suyatno yang terbilang mulus melangkah menuju gelanggang Pilgubri. Bila tak ada perubahan di tubuh Golkar--pasca terpilihnya Airlangga Hartarto sebagai ketua umum menggantikan Setnov-- tentunya Andi Rachman-Suyatno memiliki dukungan kuat melangkah ke Pilgubri. Golkar (14 kursi) dan PDI Perjuangan (9 kursi) tentu cukup untuk membawa pasangan ini melenggang ke arena Pilgubri.

Namun bila putusan Golkar kemudian berubah, seperti yang terjadi di Jawa Barat. Kala Golkar mencabut dukungannya terhada Ridwal Kamil, tentu pasangan Andi Rachman-Suyatno harus bekerja ekstra untuk mencari partai koalisi pendukung.   
 
Sesungguhnya, bila melihat konstelasi politik di Golkar, bukan tidak mungkin kejadian di Jawa Barat bisa berulang di Riau. Itupun bila Golkar realistis dan kemudian menjadikan hasil survei yang dilakukan dua lembaga survei yang ditunjuk partai sebelumnya dan menempatkan HM Harris di posisi pertama dengan elektabilitas tertinggi disusul Andi Rachman dan Syamsuar. 

Bila mengacu kepada karakteristik pemilih di Riau yang terbilang mulai cerdas dan rasional, tentunya Golkar akan menimbang-nimbang putusan mendukung pasangan calon sekarang untuk kemudian kembali melakukan kajian sebelum resmi mengusung pasangan calon. 

Seperti pendapat pengamat politik asal Unversitas Islam Riau Dr Ahmad Tarmizi Yusa, maju sebagai calon Gubernur Riau tak hanya mengandalkan popularitas agar laku di depan publik. Namun yang terpenting adalah karya nyata selama memimpin, sehingga masyarakat bisa menilai dan memutuskan untuk menjatuhkan pilihannya di kota suara. Track record selama memimpin di Riau sangat berpengaruh bagi pemilih nantinya, karena itulah kampanye terbaik yang layak dijual. 

Bicara kader, Golkar di Riau memiliki beberapa kader yang sekarang menjadi kepala daerah. Mereka terbilang berpretasi dan berpotensi untuk diusung sebagai calon gubernur. Seperti di Kabupaten Siak, ada bupati dua periode Syamsuar. Kemudian di Pelalawan juga ada bupati dua periode HM Harris. Setidaknya, kedua kader terbaik Golkar tersebut bisa menjadi alternatif untuk dipertimbangkan. 

"Syamsuar, dia memahami betul kondisi sosial masyarakat. Sehingga tak ada konflik horizontal yang terjadi selama dirinya memimpin Siak. Dia duduk sebagai bapak, mengayomi rakyat yang heterogen," ujar Dr Ahmad Tarmizi Yusa, beberapa waktu lalu. 

Penilaian sama diungkapkan Guru Besar Universitas Riau Prof Sujianto. "Syamsuar itu religius, sederhana, tak ada kasus, perilakunya baik dan yang terpenting Kabupaten Siak terus berkembang sejak dia pimpin tahun 2011 lalu. Syamsuar pandai menghormati senior dan menghargai yunior. Sama Arwin (mantan Bupati Siak dua periode) hubungannya baik, begitu juga dengan wakilnya, Alfedri. Sampai memasuki dua periode, mereka tetap akur," kata Prof Sujianto. 

Saat ini, Syamsuar sudah mengantongi rekomendasi dukungan dari DPP PAN. Ini menjadi modal penting baginya untuk maju dan bisa saja menjadi pertimbangan tersendiri bagi pengurusan Airlangga nantinya dalam memutuskan siapa yang akan diusung. 

Di sisi lain, nama HM Harris juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Dua periode memimpin Pelalawan telah banyak hasil pembangunan yang dirasakan masyarakat. Dia juga dikenal sebagai politisi andal Golkar dan memiliki kemampuan dalam membesarkan Golkar di Riau. 

HM Harris sendiri memiliki basis massa di Pelalawan dan dengan dukungan Yopi Arianto, tentunya basis massa tersebut akan meluas ke Indragiri Hulu. Begitu juga dengan Syamsuar yang berbasis di Kabupaten Siak ditambah Bengkalis, Dumai dan Meranti. 

Namun demikian, bila semua tak menjadi pertimbangan Golkar, bukan berarti Syamsuar dan HM Harris akan mengakhiri perjuangannya untuk bertarung di Pilgubri. Saat ini, HM Harris dikabarkan sedang melakukan pendekatan dengan Rusli Effendi yang akan diusung PPP. Bila PPP dengan lima kursi di parlemen sepakat menyatukan HM Harris dan Rusli Effendi (Harrus), tentunya akan lebih memudahkan langkahnya membangun koalisi partai.

Apalagi dukungan dari Yopi Arianto terhadap HM Harris tak berubah. Bahkan, ada rumor menyebutkan, bila pasangan Harrus tersebut jadi, Yopi bersedia menjadi ketua tim pemenangan. Sungguh bentuk dukungan yang layak diperhitungkan.

Selain itu, HM Harris sekarang kabarnya juga tengah membangun komunikasi cukup intens dengan Gerindra. Bila kemudian Gerindra menjatuhkan pilihan kepada HM Harris, tentunya peluang maju akan semakin terbuka lebar.

Sedangkan Syamsuar, kini masih mengantongi rekomendasi PAN yang memiliki 7 kursi di DPRD Riau. Tak hanya itu, sinyal dari Demokrat (9 kursi) dan Gerindra (7 kursi) juga masih belum redup untuk mendukung Ketua DPD Golkar Siak ini.

Bila memang Demokrat dan Gerindra sepakat mengusung Syamsuar, bukan tidak mungkin PAN dengan senang hati akan mendukung. Bila ini terjadi, tentu akan menjadi kekuatan dan poros baru yang layak diperhitungkan.

Artinya, situasi politik di Riau jelang Pilgubri akan terus bergerak dinamis mencari kesesuaian. Hanya saja, bila partai politik lebih mengedepankan kualitas calon yang akan diusung dan bukan mahar, tentunya Syamsuar dan HM Harris akan menjadi pilihan. 

Sisi lain, sekarang masih ada bakal calon gubernur yang layak dipehitungkan dan memperoleh rekomendasi dari DPP PAN serta memperoleh dukungan PPP dan Demokrat, yakni Firdaus MT. Walikota Pekanbaru dua periode ini dikabarkan akan berpasangan dengan Rusli Effendi (Firrus). Bila hal ini terjadi, tentunya akan menambah tinggi tensi politik di Riau.

Akankah Head to Head
Yang tak kalah mengejutkan dalam beberapa hari terakhir, beredar rumor menyebutkan politisi PKB Lukman Edy dan Ketua DPD Demokrat Riau Asri Auzar telah pula mengklaim memperoleh dukungan dari tujuh partai, di luar PDI Perjuangan dan Golkar. Tujuh partai tersebut adalah PKB, Demokrat, Hanura, Nasdem, Gerindra, PAN dan PPP. 

Bila koalisi tersebut terjadi, maka pertarungan di Pilgubri hanya akan ada dua pasang atau terjadilan drama head to head antara Andi Rachman-Suyatno dan Lukman Edy-Asri Auzar.

Hanya saja, kemungkinan tersebut sulit terujud. Mengingat keberadaan dan pengaruh Syamsuar dan HM Harris yang tak bisa diabaikan. Sekarang, di sisa waktu yang tak lama lagi tentunya semua bisa berubah. Masyarakat hanya bisa mengamati dan diam-diam menentukan pilihan dalam hati masing-masing atas calon yang akan diusung partai. (***) 

*Pemimpin Umum FokusRiau.Com


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus