Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Utama

Target Surplus 10 Juta Ton Beras 2014 Terancam

Selasa, 07 Agustus 2012


JAKARTA-Target surplus 10 juta ton beras tahun 2014 dikhawatirkan tidak bisa tercapai. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui, banyak kendala yang menghambat pencapaian target tersebut. Sebelumnya, Presiden telah mengamanatkan pencapaian target itu lewat Inpres No 5/2011, tentang Produksi Beras Nasional.

Inpres tersebut memerintahkan sembilan instansi terkait mengamankan produksi beras nasional. "Kita ingin surplus beras 10 juta ton tahun 2014. Kalau belum bisa dicapai, mendekati ke arah 10 juta minimal," kata Presiden dalam konferensi pers usai rapat koordinasi di Kementerian Pertanian, Jakarta, kemarin. 

Simulasi akumulasi terhadap surplus beras dibagi setiap tahunnya bisa mencapai target tersebut. Perhitungannya, tahun 2011 target surplus 3,2 juta ton, ditambah 2012 sebesar 3,1 juta ton, lalu 2013 ditambah 3,6 juta ton dan tahun 2014 sebanyak 4 juta ton. Jika diakumulasikan, jumlah itu melampaui 10 juta ton. 

Menurut Presiden, banyak kendala yang mengakibatkan target surplus beras ini sulit tercapai, di antaranya iklim dan lahan yang masih kurang. Terkait musim kemarau tahun ini, Kementerian Pertanian menyatakan, sawah yang kekeringan pada Januari-Juli seluas 53.320 hektare. Dari jumlah tersebut padi yang puso hanya 1.358 hektare. 

Karena itu, Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Udhoro Kasih Anggoro yakin kemarau kali ini tidak akan mengganggu produksi pangan nasional. "Kalau terkena kekeringan, itu bukan berarti gagal panen. Kalau jumlah gagal panennya sekitar 1.000 hektare, itu tidak mengganggu produksi pangan. Itu kan hanya sepersekian dari 13 juta hektare," ujarnya. 

Kendati demikian, Anggoro mengakui potential loss akibat puso cukup besar, yakni sekitar 6.790 ton. "Perhitungannya kalikan saja luas lahan dengan 5 ton. Produktivitas per hektare kan 5 ton," ujarnya. 

Data dari Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Kementan menyebutkan, luas lahan yang kekeringan tahun ini lebih rendah ketimbang tahun lalu. Namun, menurut Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir, tingkat kekeringan tahun ini lebih parah ketimbang tahun lalu. "Laporan kekeringan dari petani di Jawa Tengah dan Jawa Barat mencapai 50 persen," tukasnya. (mic) 


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus