Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Utama

Tempe di Pekanbaru Masih Terus Produksi

Selasa, 24 Juli 2012


PEKANBARU-Sejumlah pengrajin tempe di Pekanbaru, Provinsi Riau, masih terus memproduksi tempe dan tahu. Meski harga kedelei mulai naik, naik mereka belum mau menurunkan jumlah produksi. Para pengrajin tempe ini berusaha mencari solusi lain, seperti memperkecil ukuran dan menaikkan harga. Beruntung peminat tempe dan tahu di Pekanbaru masih tinggi.

Pengamatan FokusRiau.Com di Pasar Pagi Arengka, Pekanbaru, Selasa (24/7), terlihat pedagang tempe masih terus menggelar dagangannya. Asril, salah seorang pengrajin tempe dan tahu mengatakan, walau harga kedelei naik, namun pembuatan tempe dan tahun masih terus dilakukan. 

Dikatakan, harga kedelai sebulan terakhir sekitar Rp8.000 per kilogram, padahal beberapa bulan lalu masih Rp5.200. Dengan naiknya harga kedelei, terpaksa kita harus menaikkan harga tempe, walaupun tidak bisa terlalu tinggi. Karena kalau terlalu tinggi, bisa-bisa tidak dibeli," ujarnya, Selasa (24/7) di Pekanbaru. 

Asril berharap, pemerintah segera membantu untuk menstabilkan harga kedelai atau paling tidak mencarikan solusinya agar petani tempe dan tahu tidak gulung tikar. 

Imbauan Mogok
Sementara itu, para perajin tempe dan tahu di Bogor, Jawa Barat siap mogok sesuai surat edaran Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia yang bertuliskan imbauan untuk mogok selama tiga hari, mulai 25-27 Juli nanti.

“Ya boleh dibilang yang ada ini produksi tempe terakhir, sebelum melakukan aksi mogok lusa nanti," kata Mualifi, perajin tempe di Bogor, Selasa (24/7). Menurut Mualifi, dia hanya mampu membuat tiga kuintal tempe yang akan dipasarkan, Rabu (25/7) malam ke Pasar Merdeka. Mualifi mengaku mendukung mogok tersebut bersama dengan puluhan perajin tempe lainnya di Kota Bogor.   

Sebelumnya, imbauan mogok telah disebarkan ke sejumlah produsen dan pedagang oleh Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) cabang Kota Bogor. Dalam surat edaran Primkopti bertuliskan imbauan mogok selama tiga hari dan mengingatkan pengrajin agar memperhatikan surat edaran dengan baik agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.   

"Mogok dilakukan sebagai aksi solidaritas kami agar pemerintah bisa membantu menekan harga kedelai yang terus naik," katanya. Sejak harga kedelai naik menjadi Rp8.000, pengrajin tempe mengaku kesulitan mengatur produksi. Selain itu, laba yang diperoleh juga tipis.   

Untuk membuat tiga kuintal tempe, kata Mualifi, dirinya harus mengeluarkan modal kurang lebih Rp1,5 juta yang digunakan untuk membeli kedelai tiga kuintal, plastik tiga kilogram, daun pisang tiga kilogram, ragi dan ongkos produksi untuk gas dan listrik. "Kami sudah mengupayakan agar tetap produksi. Ukuran tempe sudah kami kurangi dari sebelumnya, harga juga terpaksa kami naikkan," katanya.   

Dikatakan, mogok yang akan dilakukan juga bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat terkait kenaikan harga kedelai. Sementara itu, di Bekasi sejumlah perajin tempe dan tahu di wilayah RT 04/RW 11 Kelurahan Jakasampurna, Kecamatan Bekasi Barat juga mengeluhkan dengan harga kedelai yang setiap hari makin melambung. Perajin tempe dan tahu yang berjumlah sekitar 80 Kepala Keluarga (KK) ini berharap pemerintah pusat dapat menekan kenaikan harga kacang kedelai, bahan baku pembuat tempe dan tahu. (ton/sp)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus