Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Kolom

Ternyata Adzan Jumat di Maroko Tiga kali

Senin, 27 Mei 2013


Oleh: Muannif Ridwan

Maroko biasa dikenal di kalangan bangsa Arab dengan sebutan Negeri Maghrib atau Negeri Matahari terbenam. Negeri yang pernah dijajah Perancis dan Spanyol itu menganut Mazhab Maliki, baik dalam fiqih maupun ushul.

Bahkan Amirul mukminin, julukan Raja Maroko memberikan fatwa untuk mengikuti satu mazhab, yaitu Madzab Maliki. Namun masih ada juga sebagian masyarakatnya yang mengikuti Mazhab Ahmad bin Hanbal seperti yang tampak di masyarakat kota Tanger di Utara Maroko. 

Menurutku, wajarlah jika praktek-praktek peribadatan di negeri ini sangat jauh berbeda dengan apa yang kita lihat dan dilakukan mayoritas muslim di Indonesia, yang notabenenya menganut Mazhab Syafi’i. Salah satu contohnya adalah Adzan Jumat yang dilakukan tiga kali. Dalam pandangan mazhab Maliki, adzan Jumat dikumandangkan tiga kali.

Mereka berpedoman kepada dua dalil hadits Nabi SAW. Pertama: Hadits yang diriwayatkan Yazid Bin Sa’ib: Bahwasannya pada zaman Nabi, Abu Bakar dan Umar, Adzan Jumat itu cukup dikumandangkan saat Khotib duduk di atas mimbar. Kemudian pada masa Utsman, adzan itu dikumandangkan sebanyak tiga kali karena jumlah jamaahnya semakin banyak.

Kedua: Hadits yang diriwayatkan Ibnu Habib dalam kitab al Wadihah fis Sunan: Bahwa Nabi SAW. ketika telah masuk masjid langsung naik mimbar dan duduk, kemudian para muadzin yang berjumlah tiga orang langsung mengumandangkan adzan di atas menara secara bergantian. Ketika mereka selesai, Nabi langsung berdiri untuk memulai khutbahnya. Hal seperti ini dilakukan pada zaman Abu bakar dan Umar, kemudian pada zaman Utsman juga masih berlanjut seperti ini.

Sedangkan menurut Jumhur (Syafi’i, Hanafi, Hanbali) sepakat dengan pendapat Utsman yaitu cukup dengan dua Adzan. Adapun menurut pendapat syeikh Ahmad bin Siddiq Al-Ghumari, beliau mengatakan bahwa tradisi adzan jum’at sebanyak tiga kali ketika khatib naik di atas mimbar itu merupakan perbuatan bid’ah mungkar/sesat yang seharusnya ditinggalkan.

Menurut Syeikh al-Ghumari, yang dimaksud dengan adzan yang ketiga dalam hadits Yazid ibn as-Sa’ib itu adalah iqamah, karena Iqamah itu dalam syar’i disebut adzan. Sebagaimana Nabi pernah mengatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mughoffal, “Di antara setiap dua adzan itu sholat”. Jelas sekali dalam hadits tersebut adzan Jumat hanya dua kali.

Ibnu Rusyd mengomentari Hadits yang diriwayatkan Ibnu Habib, bahwa hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah (dalil). Menurut beliau, “Hadits-hadits yang diriwayatkannya itu da’if (lemah kualitasnya) menurut para ahli hadits, apalagi ketika ia sendiri dalam meriwayatkannya”.

Selain itu, masih banyak beberapa praktek fiqih maliki yang sangat menarik bagi saya, yaitu ketika saya melihat bagaimana orang maroko bisa berwudlu hanya dengan air satu gelas. Apalagi kalau bertayamum, mereka hanya menggunakan sebuah batu sebesar buah kedondong, dengan cukup menggosok-gosokkannya ke muka dan pergelangan tangan.

Lebih mantap lagi, seorang khotib Jumat yang diperbolehkan minum saat berkhutbah. Dan masih banyak lagi tentunya fenomena-fenomena tentang penerapan fiqih Maliki seperti ini, yang mungkin dianggap aneh oleh sebagian kita, bagi mereka yang biasa mempraktekkan fiqih Syafi’i. Bahkan barangkali kita bisa “dikafirkan” oleh sebagian masyarakat kita, ketika kita hendak mengamalkan pratek peribadatan seperti ini. Wallahu A’lam. (***)

* Mahasiswa Jurusan Islamic Studies di Univ. Imam Nafie, Tanger-Maroko



Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus