Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Lifestyle

Ternyata Fogging Secara Berkala Juga Tidak Efektif

Selasa, 21 Mei 2013


PEKANBARU-Fogging atau pengasapan dengan tujuan membasmi nyamuk aidhes aighepty penyebab demam berdarah dengue dinilai tidak efektif dan berbahaya bagi masyarakat. Pasalnya, fogging hanya dapat membunuh nyamuk dewasa dan rentan membuat nyamuk kebal serta tidak berpengaruh bagi jenis jentik-jentik.

Fogging secara berkala juga dapat merusak kesehatan masyarakat, terutama bagi kaum anak-anak. Fogging dinilai efektif, jika dilakukan bila suatu daerah atau tempat tinggal masyarakat terindikasi postif DBD.

“Jadi jika di suatu tempat ada warga yang terkena DBD, barulah efektif untuk dilakukan pengasapan atau fogging. Namun sebaliknya, jika tidak ada yang terindikasi positif DBD, janganlah melakukan fogging. Karena akan membuat nyamuk kebal, dan bisa menimbulkan resiko ke masyarakat,” kata Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P4L) Dinas Kesehatan Riau, T. Zul Efendi di Pekanbaru, Senin (20/5).

Pencegahan DBD, menurut Zul Effendi, bukan dengan cara melakukan pengasapan. Melainkan dengan menguras genangan air, menutup saluran atau wadah yang berpotensi menghasilkan genangan air serta menimbun benda yang bisa menampung air.

“Ada 3M, yaitu menguras, menutup dan menimbun. Misalnya seperti menguras bak mandi, tidak membiarkan genangan air di tampungan Dispenser, dan lain-lain. Bukan dengan cara fogging, hal itu lah yang membuat nyamuk penyebab demam berdarah semakin menjadi-jadi,” tukasnya.

Salah Persepsi

Saat ini masih banyak masyarakat yang tidak tahu dengan bahayanya melakukan fogging atau pengasapan. Menurut Zul Efendi, justru dipikiran masyarakat fogging adalah salah satu membasmi nyamuk penyebab DBD.

“Padahal tidak, ini yang sangat kita sayangkan. Masih banyak ketidaktahuan masyarakat terkait hal ini. Saya tegaskan masyarakat harus mengetahui hal ini, jangan menyangka fogging itu senjata ampuh,” tegasnya.

Selain itu, untuk kreteria dominan yang menjadi sarang nyamuk, lanjut Zul Efendi yakni seperti genangan air di tampungan dispenser, genangan di dalam kulkas dan bak mandi serta genangan air yang beralas plastic dan keramik, lalu semen.

“Nyamuk demam berdarah tidak mau bersarang di kolam yang beralas tanah. Melainkan genangan air di suatu tempat beralas lantai. Pokoknya kecuali tanah. Lalu nyamuk itu jarak terbangnya hanya seratus meter dan diperkirakan hanya berumur satu minggu,” jelasnya.

Sementara sosialisasi atau pemberitahuan akan bahaya fogging dan kapan waktu menggunakan langkah pengasapan untuk membasmi nyamuk penyebab DBD saat ini tumpul. Hal itu juga diakui Zul Efendi, dia mengaku Dinas Kesehatan Kabupaten/kota lemah dalam melakukan sosialisasi ke muka masyarakat.

Terbukti di setiap sudut kota atau daerah tidak ada rekalame sosialisasi bahaya fogging secara berkala. “Kita tidak punya daerah, kalau hal itu seharusnya Diskes Kabupaten/kota,” sebutnya. Zul Efendi mengaku, sosialisasi mengenai hal tersebut bukan wewenangnya. “Tapi wewenang Bidang Promosi, ruangannya ada di bawah lantai saya, pak Sudirman itu. Silahkan saja tanya ke sana,” katanya.

Sementara Humas Diskes Riau, Edison mengatakan, terkait lemahnya sosialisasi terkait pemberitahuan kepada masyarakat terhadap bahaya fogging adal wewenang Diskes Kabupaten/kota.

“Kita tidak bisa turun langsung, itu wewenang mereka (Diskes Kabupaten/kota-red). Mereka yang punya daerah. Kita hanya menerima laporan,” katanya yang juga diaminkan Sekretaris Diskes Riau, Muhammad Yusuf.

Namun yang pasti, terkait koordinasi dengan Diskes Kabupaten/kota terhadap sosialisasi bahaya fogging yang sering menjadi andalan organisasi dalam bhakti sosial, sebutnya sudah dilakukan. “Tapi itu tergantung mereka, kita sudah mengusulkan,” tukasnya. (gga)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus