Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Utama

Tim BBKSDA Riau Kehilangan Jejak Harimau Bonita Usai Ditembak Bius dan Pingsan

Sabtu, 17 Maret 2018

Bonita masih berkeliaran di Inhil. (Foto:Istimewa)

PEKANBARU-Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menyebut, tim gabungan kehilangan jejak harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) bernama Bonita, meski sebelumnya berhasil ditembak menggunakan peluru bius di areal perkebunan sawit Kabupaten Indragiri Hilir. 

Kepala BBKSDA Riau Suharyono mengatakan, tim kehilangan Bonita setelah raja hutan tersebut tersadar dari efek bius. "Baru saja, Bonita bangun dan tidak terpantau lagi," kata Suharyono, Jumat malam di Pekanbaru. 

Dijelaskan, kondisi perkebunan yang minim penerangan dan cenderung gelap gulita menyulitkan tim gabungan pencari dan penyelamat melacak Bonita. Namun Haryono memastikan, sebelum kehilangan jejak, Bonita berhasil ditembak bius dan sempat dalam kondisi pingsan. 

Hanya saja, tim tidak serta merta langsung mendekati dan menangkap Bonita karena perlu memastikan kondisi benar-benar aman. Namun, ketika saat akan didekati, ternyata Bonita tersadar dan langsung menghilang. "Tadi memang sempat pingsan. Suasanya ditengah kebun, gelap. Situasi terakhir memang tidak terpantau lagi," ujarnya. 

Dikatakan, saat ini kondisi tim dilapangan cukup kesulitan karena mobil yang mereka kendarai harus terjerembab dan masuk ke dalam kanal. "Jadi sekarang tim kita menyatu disatu titik sembari menunggu bantuan cahaya serta alat berat untuk evakuasi kendaraan. Mohon doanya agar tim kami selamat di lokasi sekarang," ujarnya. 

BBKSDA Riau sebelumnya mengkonfirmasi berhasil menembak bius harimau Bonita yang menyebabkan dua warga kabupaten Indragiri Hilir meninggal dunia. Lokasi pembiusan Bonita berada di areal perkebunan sawit PT Tabung Haji Indo Plantation (THIP) Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran Kabupaten Indragiri Hilir. 

"Lokasi tepatnya di dekat box trap (perangkap harimau yang dipasang BKSDA) 3 dan 4, jalan poros tengah (perkebunan sawit) eboni," kata Haryono.

Sesuai rencana, jika kondisi kesehatan Bonita memungkinkan, harimau tersebut akan langsung direlokasi ke Pusat Rehabilitasi Harimau di Sumatera Barat. "Yang jelas tidak dibawa ke Pekanbaru. Kami akan bawa ke Dharmasaraya Sumbar. Kenepa disana, karena peralatan dan tim lebih lengkap dan siap di sana," tuturnya. 

Bonita, harimau sumatera betina yang diperkirakan berusia 4 tahun dalam dua bulan terakhir berkeliaran di areal pemukiman warga dan perkebunan sawit PT THIP. 

Jumiati menjadi korban pertama yang meninggal, awal Januari 2018. Perempuan berusia 33 tahun tersebut diserang Bonita saat bekerja di KCB 76 Blok 10 Afdeling IV Eboni State, Desa Tanjung Simpang, Pelangiran, Indragiri Hilir. Terakhir, Yusri Efendi (34) meregang nyawa di desa yang sama, namun berjarak sekitar 15 kilometer dari lokasi tewasnya Jumiati. (antara)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus