Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Membangun Desa

Unisi Bukti Keseriusan Indra Muchli Adnan Membangun SDM

Rabu, 30 Januari 2013


Minimnya warga Kabupaten Indragiri Hilir dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, menjadi motivasi tersendiri bagi H Indra Muchlis Adnan untuk menciptakan sumber daya manusia yang andal dan terampil.

Gagasan Indra mewujudkan program pendidikan gratis dan wajib belajar 12 tahun yang sudah terealisasi sejak tahun 2006, ternyata belum membuat suami Hj Syafni Zuryanti ini puas begitu saja.

Ide brilian pun kembali muncul dibenaknya untuk membangun universitas di ibukota Inhil, Tembilahan. Kendati rencana membangun universitas itu terus mendapat kritikan serta cibiran dari lawan-lawan politiknya, namun Indra tak bergeming. Hal itu dibuktikan awal tahun 2008 dengan membentuk tim khusus yang ditugaskan mengurus segala perizinan ke Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Kopertis Wilayah X di Padang, Sumatera Barat.
          
"SDM itu diciptakan, dan butuh waktu, agar kemiskinan dapat dihapuskan. SDM juga dibutuhkan untuk membangun daerah ini. Impian untuk mewujudkan universitas ini harus segera diwujudkan, kalau tidak sekarang, kapan lagi," kata Indra mengomentari kritikan sejumlah pihak terkait rencananya membangun universitas di Tembilahan, sekitar awal tahun 2008.

Dikatakan, ada sekitar 600 ribu jiwa warga Inhil yang terebar di 20 kecamatan, setiap tahun sekitar tiga ribu lima ratus pelajar menamatkan pendidikannya ditingkat SMA. Namun, dari jumlah sebanyak itu, Indra memperkirakan tidak lebih dari seratus pelajar yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi yang ada di Pekanbaru atau kota lainnya di Indonesia.

"Paling banyak dua bus yang mampu kuliah. Masalah ekonomi merupakan faktor utama, sehingga sebagian besar dari pelajar yang tamat SMA tidak melanjutkan kuliah, karena biaya mahal. Kendati Pemkab Inhil memiliki program beasiswa untuk mereka yang melanjutkan kuliah, namun jumlahnya tidak besar sehingga keinginan itu tak mampu  diakomodir seluruhnya. Sehingga, mewujudkan universitas merupakan hal yang mendesak agar semua putra-putri Inhil dapat menikmati bangku kuliah, tanpa kecuali," kata Indra.

Ketika mengagas berdirinya Universitas Islam Indragiri (Unisi), saat itu hanya ada beberapa sekolah  tinggi diploma tiga (D3) di Tembilahan, di antaranya, Sekolah Tinggi Agama Islam, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Politeknik Pertanian. Untuk mewujudkan berdirinya Unisi, Indra meleburkan STIE Sri Gemilang dan Politeknik Pertanian, sedangkan STAI tetap berdiri sendiri. Hal itu, merupakan upaya mendapatkan statuta Unisi. Berkat kegigihan tim mengurus semua persyaratan agar mendapatkan perizinan dari Kementerian Pendidikan dan Kopertis X, akhirnya sekitar bulan Agustus 2008, izin mendirikan Unisi terwujud.

Sebulan kemudian, Unisi langsung membuka pendaftaran bagi calon mahasiswa, dimana waktu itu terdapat lima fakultas, diantaranya, Hukum, Ekonomi, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Pertanian, Teknik dan Ilmu Komputer serta Ilmu Agama Islam. Keberadaan Unisi ternyata masih memiliki tantangan di masyarakat, dimana sulitnya mengubah pola pikir sebagian warga yang menilai pendidikan itu tidak penting. Buktinya, tahun pertama berdiri, jumlah mahasiswa Unisi hanya sekitar 1.000 orang. Indra pun kembali mendapat tantangan baru untuk meyakinkan masyarakat agar dapat melanjutkan pendidikan anaknya di Unisi.

Sejumlah program beasiswa pun kembali digulirkan Pemkab Inhil, seperti beasiswa abadi, beasiswa berprestasi serba bantuan biaya kuliah bagi mahasiswa dari keluarga tak mampu yang jumlahnya mencapai Rp10 miliar setiap tahun. Program itu terus disosialisasikan melalui Dinas Pendidikan sepanjang tahun 2009 dan akhirnya lahirlah program "Satu Rumah Satu Sarjana".

Upaya yang dilakukan Indra, ternyata tidak sia-sia. Itu dibuktikan dengan bertambahnya jumlah mahasiswa baru yang kuliah di Unisi setiap tahun. Mereka umumnya berasal dari sejumlah daerah di Inhil, termasuk pegawai negeri sipil dan tenaga honorer yang bekerja di Pemkab. Peluang untuk mendapatkan pendidikan yang layak, betul-betul dirasakan masyarakat.

"Melalui program multiyears, saat ini Pemkab melalui Dinas PU sedang membangun kampus Unisi sepuluh lantai yang nilainya mencapai Rp200 miliar. Mudah-mudahan akhir tahun 2012 ini, bangunan kampus itu sudah dapat digunakan," kata Indra. Untuk menyediakan tenaga pendidik, Indra juga menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Jawa seperti Unibraw, Malang maupun UII Jogjakarta. Kerjasama ini dalam hal peningkatan kualitas dosen, dimana pada tahun 2012, semua dosen Unisi minimal tamatan pasca sarjana (S2). Selain itu, ada sekitar 30 dosen Unisi yang disekolahkan pada pasca sarjana dan doktor di sejumlah universitas terkemuka di dalam dan luar negeri yang dibiaya Pemkab Inhil.

Rektor Unisi, Prof Sufian Hamim melalui PR I Dr Ririn Handayani, mengatakan, Unisi masih membutuhkan dosen tamatan S3 dan S2 atau sedang menyelesaikan studi untuk jurusan Manajemen, Akuntansi, Bahasa Inggris, Penjas, Budidaya Perairan, Teknik Industri, Sistem Informasi, Ilmu Al-quran dan Tafsir serta Ekonomi Syari’ah. Pada penerimaan mahasiswa tahun 2011, lanjut perempuan berkerudung itu, dari 1.700 calon mahasiswa yang mendaftar, hanya 1.251 yang dapat diterima, dimana tersebar pada enam fakultas.

“Sejak berdiri tahun 2008 lalu, hingga 2012, jumlah mahasiswa Unisi telah mencapai 6.500 orang. Karena masih keterbatasan tenaga dosen dan sarana perkuliahan, maka kita terpaksa membatasi jumlah mahasiswa karena kita juga akan berupaya meningkatkan kualitas untuk menuju akreditasi,” kata Ririn. (hr/satria donald)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler



 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus