Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Utama

Wabup Minta BLH Pantau Aktivitas PETI di Sungai Indragiri

Kamis, 23 Mei 2013


RENGAT-Wakil Bupati Indragiri Hulu, Harman Harmaini meminta Badan Lingkungan Hidup dan instansi terkait untuk memantau aktivitas penambangan emas tanpa izin atau PETI di wilayah Inhu. Sebab, pelaku PETI di Kuantan Singingi diyakini akan bergerak mencari tempat baru di Inhu yang dianggap lebih aman.

"Di Kuansing, operasi pemberantasan PETI sedang gencar dilakukan dan dipimpin langsung bupatinya. Bahkan sampai ada aksi balasan dari masyarakat hingga 17 mobil dinas dirusak. Kita tidak ingin ada kejadian seperti itu di Inhu, sehingga sejak awal harus diawasi terutama daerah sekitar Batang Peranap dan sekitarnya," kata Harman disela-sela seminar peringatan hari lingkungan hidup sedunia, Rabu (22/5).

Menurutnya, pelaku PETI biasanya menggunakan mercuri dalam aktivitasnya. Dampaknya, Sungai Indragiri akan tercemar. Padahal, air baku PDAM Tirta Indra yang diminum warga berasal dari Sungai Indragiri. "Jika terus dibiarkan, tentu saja akan berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Sejauh ini, Pemkab Inhu juga tidak pernah memberikan izin terhadap pelaku PETI," tukasnya.

Selain mewaspadai PETI, pencemaran Sungai Indragiri juga berasal dari limbah perkebunan sawit dialiri ke sungai. "Kita tidak ingin lingkungan di Inhu rusak, karena itu saya minta BLH melakukan pengawasan dan pemantauan," ujarnya. Menurut Harman, penegakan hukum dalam kasus lingkungan hidup masih sangat lemah, hingga tidak memberikan efek jera bagi para pelakunya. Bahkan, banyak kasus lingkungan hidup seperti pembakaran lahan, tak pernah ada kejelasan hukuman terhadap para pelaku.

Kepala BLH Inhu, M Bayu SB membenarkan kalau pelaku PETI menggunakan mercuri dalam aktivitasnya. Mercuri merupakan zat logam berat dalam jangka panjang dapat menimbulkan penyakit binamata hingga kulit manusia terkelupas. "Untuk jangka pendek, menyebabkan iritasi dan gatal-gatal," ujarnya.

Dikatakan, berdasarkan hasil uji laboratorium dilakukan BLH Inhu 2012 lalu terhadap air di Sungai Indragiri, ditemukan kandungan mercuri. Bahkan BLH Riau menemukan kandungan logam berat berdasarkan hasil pantauan kualitas air Sungai Indragiri dilakukan tiap tahun. "Kalau untuk saat ini Sungai Indragiri memang sudah tercemar dalam kategori ringan. Tetapi jika aktivitas PETI terus dibiarkan maka pencemaran bisa terus
meningkat hingga masuk kategori sedang dan berat," tukasnya.

BLH Inhu, menurut Bayu, tahun 2012 lalu sudah mensosialisasikan penggunaan alat gold separator bagi pelaku PETI. Gold separator merupakan alat pemisah emas ramah lingkungan dengan tidak menggunakan bahan kimia bebahaya. Hanya saja masyarakat enggan menggunakannya karena gold separator harus menggunakan bahan bakar dan hanya bisa digunakan di darat. Sementara menggunakan bahan kimia, pelaku PETI bisa memisahkan emas langsung di sungai tanpa harus menuju daratan. "Kalau gold separator harganya Rp25 juta," tuturnya.

Dikatakan, tahun ini BLH Inhu akan menyusun kajian menentukan apakah pencemaran Sungai Indragiri dalam kategori biasa, tercemar atau berbahaya. Sedangkan terkait upaya pengawasan pelaku PETI, Bayu menegaskan hal itu sudah pernah dibentuk melalui tim penertiban PETI. Tim ini dipimpin Dinas Pertambangan dan Energi Inhu. (trp/lin)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus