Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Utama

Wahhh.... Indonesia Darurat Tahu Tempe

Kamis, 26 Juli 2012


JAKARTA-Indonesia kini sedang menghadapi persoalan pelik, terkait langkanya tahu dan tempe. Sebagian besar produsen tahu dan tempe di Tanah Air menghentikan produksi mereka, karena tingginya harga kedelai yang menjadi bahan baku makanan rakyat tersebut. Akibatnya, masyarakat yang biasa menjadikan tahu dan tempe sebagai makanan sehari-hari dibuat kelimpungan. 

Ketua II Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia, Sutaryo menyatakan, anggotanya akan mogok berproduksi selama tiga hari, mulai tanggal 25-27 Juli. Aksi itu diambil sebagai protes atas liarnya harga kedelai. Harga yang semula Rp5.000 kini menjadi Rp8.000 per kilogram. Di Jakarta sendiri, nyaris semua sudut pasar tidak ada lagi terlihat tahu dan tempe. Namun, di sebuah pasar Bekasi, masih ada tahu dan tempe, tetapi harganya selangit. Satu potong yang biasanya Rp5.000 menjadi Rp10 ribu. 

Di Sukoharjo, Surakarta, Jawa Tengah, ratusan produsen berunjuk rasa di sekitar Tugu Pancasila, Kartasura. "Pemerintah jangan diam saja," teriak pendemo. Aksi itu menyebabkan kemacetan panjang di ruas Kartasura-Surakarta selama beberapa jam. 

Selain itu, tingginya harga kedelai memaksa sejumlah pengusaha tahu dan tempe di Tasikmalaya, Jawa Barat, merumahkan karyawan mereka. "Saya dan para pembuat tahu tempe lainnya sepakat menyatakan gulung tikar," tegas Taufik Hidayat, produsen. 

Di Yogyakarta, produsen tetap memproduksi, tetapi dengan mengecilkan ukuran. "Tadinya satu tempe 7 ons, sekarang menjadi 5 ons," terang Triyanto, pengusaha tempe di Kasihan, Bantul. Hal yang sama juga dilakukan pengusaha di Subang, Jawa Barat, dan Kupang, NTT. 

Bebas bea impor 
Saat merespons keluhan produsen tahu dan tempe, Menko Perekonomian, Hatta Rajasa menegaskan, pemerintah akan membebaskan bea impor kedelai 5 persen yang berlaku sampai akhir tahun ini. Dengan pembebasan bea itu, harga kedelai akan turun sekitar Rp400 per kg. Menurut Hatta, kebutuhan kedelai Indonesia mencapai 2,2 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri sekitar 700 ribu ton. Untuk memenuhi kebutuhan itu, harus impor sekitar 1 juta ton. 

Hatta meminta para produsen tempe mengimpor kedelai langsung tanpa pihak ketiga untuk menekan harga dengan berkoordinasi bersama koperasi, Kemendag, Kemenkop dan UKM, dan Kemenperin. Menanggapi rencana pembebasan bea impor itu, Ketua II Gakoptindo Sutaryo menyatakan hal itu berpengaruh, tetapi tidak signifikan. "Kami menghargai itu walaupun hanya untuk jangka pendek," tukasnya. (mic)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus