Situs Portal Berita Riau
facebook twitter fokusriau on google plus
Fokus Utama

Warga Prihatin, Aktivitas Penebangan Bakau Masih Marak

Minggu, 12 Mei 2013


BENGKALIS-Sejumlah warga Desa Teluk Pambang, Kecamatan Bantan mengaku prihatin atas tindakan oknum tertentu yang terus merambah hutan mangrove atau bakau di sepanjang wilayah Sungai Kembung dan menjualnya ke Malaysia.

Selain merusak ekosistem dan lingkungan, pembabatan bakau tersebut akan berdampak pada menurunnya populasi ikan dan sea food lainnya yang ada di Sungi Kembung. “Terus terang kita prihatin dengan tindakan pelaku penebang baku dan seenaknya menjualnya ke Malaysia. Padahal, manfaat yang diperoleh dari menjual bakau tidak sebanding dengn kerugian yang dirasakan masyarakat nantinya,” kata salah seorang warga Teluk Kembung, Hamdan, Minggu (12/5).

Sebagai warga yang pernah bergabung dengan kelompok masyarakat pecinta lingkungan dan aktif menanami bakau, Hamdan kuatir, aktivitas penebangan bakau yang dilakukan terus menerus akan menimbulkan dampak luar biasa bagi kelangsungan hidup masyarakat.

“Kalau bakau di sepanjang Sungai Kembung ini terus dibabat tanpa dilakukan penanaman kembali, saya yakin suatu saat pulau ini akan tenggelam. Sebelum hal itu terjadi, harus ada langkah-langkah dan penanganan  kongkrit dari aparat penegak hukum termasuk aparat desa,” tukasnya.

Sepanjang Sungai Kembung, menurut Hamdan, selama ini telah menjadi lokasi nelayan dan pemancing untuk mendapatkan ikan. Tidak hanya bagi warga sekitar Sungai Kembung, warga Bengkalis juga sering datang pada hari-hari libur untuk memancing, karena ikannya yang cukup banyak.

“Dulu sungai ini pernah menjadi tempat pelaksanaan lomba memancing yang cukup bergengsi. Bahkan Gubernur Riau, HM Rusli Zainal pernah memancing di sungai ini. Selain tenang dan teduh, di sungai ini juga terdapat berbagai jenis ikan,” kata Hamdan.

Semua itu, menurut Hamdan, tidak terlepas dari kondisi tanaman bakau di sepanjang Sungai Kembung yang masih terjaga. “Tapi jangan salah, kabarnya bakau yang lebat itu hanya ada di tepi sungai saja, kalau kita melangkah agak ke dalam sudah banyak bakau yang gundul karena ditebang,” papar Hamdan.

Di tempat terpisah, Direktur LSM Bakhtera Samudera, Defitri Akbar mengatakan, bakau di sepanjang Sungai Kembung yang merupakan hasil tanaman warga Pambang, sebelumnya pernah dikunjungi aktivis lingkungan dari Eropa. “Sangat disayangkan, kalau orang Eropa saja mengakui hutan bakau kita. Akan sangat ironis bila ada oknum yang tidak bertanggungjawab menebanginya demi kepentingan pribadi,” kata Defitri, Minggu (12/5).

Harus ada langkah-langkah untuk menjaga agar hutan bakau di sepanjang sungai Kembung tetap terpelihara. Misalnya dengan  menanam kembali pohon bakau di tempat-tempat yang sudah gundul oleh pelaku penebangan bakau, agar kelestarian alam tetap terjaga. (dal)


Berita terkait :

Terkini
Terpopuler


riau riau
 
situs portal berita riau
fokusriau on facebook fokusriau on twitter fokusriau on google plus