pemerintah daerah kabupaten pelalawan
Home    

Mereka Siap Bertaruh Nyawa Demi Menjaga Kebun Sawit dari Eskavator
Minggu, 19 Januari 2020 - 06:49:27 WIB

Mereka Siap Bertaruh Nyawa Demi Menjaga Kebun Sawit dari Eskavator

PELALAWAN-Sebanyak 500 personel gabungan Polres Pelalawan, Polisi Hutan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan TNI berhadapan dengan Radisman dan ratusan petani sawit lainnya. Para petani mengaku tidak gentar, meski harus berhadapan dengan aparat hukum.

"Ini menyangkut soal hidup kami ke depannya. Kami akan pertahankan apapun risikonya," terang Radisman di sela berlangsunya proses eksekusi lahan petani sawit dan PT Peputra Supra Jaya (PSJ), Sabtu (18/1/2020).

Saat itu, perlahan tapi pasti eskavator terus menumbangkan kebun sawit PT PSJ. Mereka tampak tak dapat melawan saat kebun perusahaan ditumbangi. Namun cerita lain akan terjadi bila pohon sawit mereka ikut ditumbangkan.

Para petani pemilik lahan mengaku siap berhadapan dengan petugas yang tampak menenteng senjata, Jumat (17/1/2020) kemarin. Ratusan petani sawit plasma Desa Gondai yang berinduk di PT Peputra Supra Jaya (PSJ) itu tampak berjaga di masing-masing lahan mereka.

Tahap awal, lima eksavator menumbangkan deretan sawit produktif di perkebunan yang berdiri sejak medio 1990 itu. Jumlah ekskavator akan terus bertambah hingga 40 unit untuk meratakan pohon tempat bagi ribuan jiwa.

Sebagian di antaranya merupakan lahan inti PT PSJ. Sementara ribuan hektare sisanya merupakan lahan plasma, salah satunya milik Radisman. Pohon-pohon sawit yang awalnya berdiri kokoh tak kuasa bertahan dengan gempuran baja keras. Eksekusi dengan cara menumbangkan pohon sawit produktif tinggal menunggu waktu hingga sampai ke lahan plasma masyarakat.

Radisman dan ratusan warga yang marah sempat menyampaikan aspirasinya kepada polisi yang mengawal kegiatan eksekusi. Mereka membawa semua anggota keluarga. Mulai dari bayi, anak-anak hingga sesepuh mengiba belas kasih polisi agar berpihak pada mereka. Para petani kecil yang hanya bertahan hidup dari kerasnya dunia.

Beberapa dari mereka menggunakan bahasa setempat. Namun, usaha itu sia-sia. Polisi berpangkat Ajun Komisaris dari Polres Pelalawan bernama Adi berulang kali meminta warga bubar.

Kebun Sawit Langgar Aturan
Kepala Seksi Penegakan Hukum DLHK Provinsi Riau, Agus menyebut, pihaknya segera menyelesaikan penumbangan pohon sawit perusahaan dan milik petani. Agus yang memimpin kegiatan eksekusi itu mengatakan, ada 3.323 hektar kebun kelapa sawit di sana, bersama Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Pelalawan. 

Menurut Agus, eksekusi itu berdasarkan putusan Mahkamah Agung nomor 1087 K/PID.SUS.LH/2018. Dalam putusan itu, perkebunan sawit yang berdiri belasan tahun itu menyalahi regulasi. Karena masuk dalam kawasan konsesi tanaman industri. Dalam putusan juga disebutkan hamparan sawit itu akan diserahkan ke PT NWR.

"Saya ingin luruskan, ini bukan eksekusi, tapi pemulihan dan penertiban kawasan hutan. Lahan ini masuk dalam kawasan konsesi PT NWR. Itulah makanya kita tertibkan, kita pulihkan menjadi kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI), lantaran kawasan ini memang Kawasan Hutan Produksi," kata Agus.

Menurut Agus, setelah sawit ditumbangkan, lahan itu langsung ditanami bibit akasia. Ratusan bibit akasia juga lengkap dengan pupuk kimia.

Bahkan meski masyarakat menolak, Agus bersikukuh eksekusi tetap akan dilakukan. Walupun, saat ini ada upaya peninjauan kembali (PK) di tingkat Mahkamah Agung yang dilakukan pengacara masyarakat, Asep Ruhiat.

"Meski ada penolakan, putusan MA tetap kita laksanakan. Upaya PK juga tidak menghalangi penertiban ini," ujarnya.

Di lokasi, aparat brimob Polda Riau mendirikan tenda atau barak. Mereka menyebar di sejumlah titik untuk mencegah masyarakat mendekat. Sementara, perwakilan PT NWR juga berada di lokasi, bersama dengan aparat yang tengah bertugas.

Di sana, juga da ratusan masyarakat yang berjaga. Mereka mendirikan tenda-tenda kecil, lengkap dengan dapur darurat. Pria wanita anak-anak bersama di dalam tenda, berjaga 24 jam.

Tempuh Jalur Hukum
Sementara Kuasa hukum Koperasi Gondai Bersatu, Asep Ruhiat SH MH dalam keterangan tertulisnya mengatakan, tengah menyiapkan gugatan perdata kepada pihak terkait.

"Kami tengah menyiapkan gugatan perbuatan melawan hukum secara keperdataan kepada pihak-pihak terkait yang dengan arogansinya membabat habis sawit yang sedang produktif," kata Asep.

Asep menyebut, terdapat ribuan jiwa masyarakat yang menggantungkan hidup mereka di kawasan perkebunan PT PSJ. Pemerintah diharapkan menjadi solusi pemecahan masalah ini.

Sebelumnya PT PSJ dilaporkan oleh PT Nusa Wana Raya (NWR) ke Mabes Polri terkait Izin Usaha Perkebunan (IUP). Pada sidang tingkat pertama di Pengadilan Negeri Pelalawan, majelis hakim memutuskan PT PSJ tidak bersalah hingga bebas demi hukum.

Kemudian PT NWR melakukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA) yang kemudian mengabulkan gugatan tersebut. Asep mengatakan saat ini upaya PK tengah berlangsung.

Masalah lebih besar lagi jika pengajuan PK yang dilakukan oleh PSJ dikabulkan, maka menurut Asep negara justru bisa menanggung kerugian. "Bagaimana dengan tanaman yang sudah dieksekusi jika ternyata PK dikabulkan? Hal ini yang harus dipertimbangkan," kata Asep.

Meski demikian, Asep berharap semua pihak menahan diri, termasuk pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Riau serta NWR sampai ada putusan PK. "Saya juga mengajak para pakar dan pegiat lingkungan tidak membangun opini publik dengan tidak mengatakan yang berbau negatif terhadap PT PSJ yang jelas pro rakyat," imbuhnya. (*)



Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Merdeka.com






berita sebelumnya
 
       
 
  fokusriau www.pelalawankab.go.id
PEMKAP PELALAWAN © 2018