Pria Ini Dihukum 1.050 Tahun Penjara Sebab Perkosa Putri Tiri 105 Kali

oleh -444 views
Ilustrasi. Hakim vonis pria ini 1.050 tahun penjara. (Foto: Istimewa)

KLANG-Seorang pria di Malaysia dijatuhi hukuman 1.050 tahun penjara dan 24 cambukan, karena memerkosa putri tirinya sampai 105 kali selama dua tahun. Vonis dijatuhkan hakim Pengadilan Sesi setempat, kemarin.

Hakim Datin M. Kunasundary menjatuhkan hukuman setelah terdakwa mengaku bersalah telah memerkosa anak tirinya yang berusia 12 tahun sebanyak 105 kali selama dua tahun.

Hakim juga memerintahkan terdakwa untuk menjalani hukuman 10 tahun penjara dan dua cambukan untuk setiap tuduhan pemerkosaan dengan hukuman yang dijalankan berturut-turut sejak tanggal penangkapannya, 20 Januari.

Dalam membacakan hukuman yang dijatuhkan, Kunasundary mengatakan pelanggaran itu tidak hanya berat, tapi keji dan telah merusak masa depan korban.

“Saya harap Anda akan bertobat selama di penjara. Seharusnya Anda tidak melakukan tindak kekerasan dan meski hukumannya minimal, pengadilan merasa sudah cukup dengan mempertimbangkan jumlah dakwaan terhadap Anda,” ujarnya, seperti dikutip dari Bernama, Kamis (28/1/2021).

Pria yang menganggur itu didakwa melakukan incest dengan memerkosa putri tirinya di sebuah rumah di Sungai Way, Petaling, Selangor, sejak 5 Januari 2018 hingga 24 Februari 2020. Dakwaan itu didasarkan pada Pasal 376B Undang-Undang Pidana.

Sebelumnya, Wakil Jaksa Penuntut Umum Nurul Qistini Qamarul Abrar mendesak pengadilan menjatuhkan hukuman penjara yang berat dan cambuk maksimal kepada terdakwa dengan mempertimbangkan faktor kepentingan umum.

“Korban dalam kasus ini berusia 12 tahun saat pertama kali diperkosa oleh terdakwa, yang kemudian terus memerkosanya sebanyak 105 kali selama dua tahun,” katanya.

“Sebagai ayah tiri korban, seharusnya dia bertanggung jawab melindungi korban tapi malah menghancurkan harga dirinya. Tindakannya akan menimbulkan trauma seumur hidup bagi korban,” ujarnya.

“Kasus incest adalah pelanggaran yang mengerikan dan terkutuk serta dipandang serius oleh setiap lapisan masyarakat, tanpa memandang agama,” paparnya.

“Tindakan terdakwa serupa dengan haruan makan anak (ikan gabus yang memakan anaknya sendiri) dan dipandang serius oleh masyarakat umum, yang tidak hanya melanggar hukum tetapi juga bertentangan dengan ajaran agama,” imbuh Nurul Qistini.

Terdakwa, yang tak disebutkan namanya, tidak mengajukan banding sehubungan dengan hukuman yang dijatuhkan.

Berdasarkan fakta kasus, orangtua kandung korban bercerai pada 2015 dan sang Ibu menikah dengan terdakwa pada November 2016. Selama kejadian, hanya korban dan terdakwa yang berada di dalam rumah dan korban tidak pernah memberitahu siapapun tentang pemerkosaan karena terdakwa mengancam dan memukulinya.

Korban baru mengungkap kejadian tersebut setelah Ibunya membawanya dan adik perempuannya ke rumah bibi mereka. (*)

Sumber: Sindonews.com

Tentang Penulis: Boy Surya Hamta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *