Akhir Petualangan Kimel, Sang Preman Tewas dengan 50 Luka Tusuk

oleh -2 views
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Warga Tak Mau Membantu
Adang Suganda alias Kimel (28), terkapar tak berdaya dengan luka tusukan di sekujur tubuhnya, tepat depan rumah Satiman (37) yang berada di Kampung Babakan Nugraha, Desa Cangkuang Kulon, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.

Menurut Timan, sebelum menemukan Kimel terkapar di depan rumahnya, ia sedang memancing di kolam pemancingan.

Jarak rumah Timan dan kolam pemancingan, sekitar 50 meter. “Saat saya lagi mancing, Kimel sempat ke pemancingan bolak balik,” kata Timan, saat ditemui di rumahnya, Senin (1/2/2021).

Sebelum kejadian, kata Tiaman, korban, lebih dari 5 kali bolak balik ke pemancingan. “Awalnya mungkin jam 7 malam, masuk bawa rokok 3 bungkus, tapi isinya cuman beberapa batang dan rokoknya berbeda-beda,” kata Timan.

Timan mengungkapkan, korban nawarin rokok ke orang-orang yang ada di pamancingan tersebut. “Saat kembali ke pemancingan dia celingak celinguk, kaya cari sesuatu. Makanya sesaat sebelum kejadian, orang yang lagi mancing ada yang bilang si Kimel kaya yang mau ribut,” ucapnya.

Tak lama dari itu, menurut Timan, terdengar gedebag gedubuk, tapi yang mancing anteng gak ada yang lari untuk melihat. “Yang mancing pada anteng karena sudah tahu (latar belakang) si Kimel. Gak ada yang cengkat (berdiri) sebab gak mau kebawa-bawa, biarin aja,” ucapnya.

Timan memaparkan, biasanya kan penasaran kalau ada suara gedebak gedebuk, atau suara apa kalau lagi jalan, tapi ini enggak karena memang tahu Kimel seperti apa dan kerap bikin keributan.

“Nyangkanya paling berkelahi biasa, gak pakai apa-apa, gak sampai menggunakan senjata tajam dan menimbulkan korban kaya gini. Tahu ada yang ngejar tapi gak tau siapa yang dikejar, dan sama berapa orang,” tuturnya.

Memang kata Timan, saat kejadian masih dikejar hingga masuk gang, tapi tak tahu berapa orang yang ngejar karena dia tak melihat. Orang-orang enggan melihat, dan tak ada rasa ingin tahu, karena mengetahui latar belakang Kimel.

“Pas pulang ke rumah, korban tergeletak dan darah berceceran, saya langsung kembali lagi ke pamancingan ngasih tahu ke teman-teman. Lalu lapor ke RT dan Polsek,” katanya.

Timan mengaku, saat menemukan korban di depan rumahnya belum meninggal masih sadar dan masih bisa ngomong, sekitar pukul 00.30 WIB. “Pas dia liat, dia ngomong, tulung bos, tulungan, meni tega,” ujar Timan.

Bahkan menurutnya, saat itu warga yang dikenal oleh korban, disebut namnya dia minta tolong, namun warga gak ada yang berani megang sebelum ada polisi. “Dia bilang, hoyong nangtung, hoyong eueut (mau berdiri, mau minum),” tuturnya.

Meski Korban terkapar di depan rumahnya, Timan mengaku, biasa saja tak ada hal yang berbeda. “Anak saya juga biasa aja karena kan meninggalnya juga bukan di sini, mungkin beda kalau meninggalnya di sini,” ucapnya. (*)


Sumber: TribunPekanbaru