Alih Kelola Blok Rokan, Antara Realistis dan Mimpi

oleh -8 views
Nawasir Kadir. (Foto: Istimewa)

“Jika tidak berani merubah mindset inovatif dan risiko berinvestasi, jangan harap cita-cita SKK Migas menghasilkan 1 juta barel tahun 2030 akan terwujud”

Nawasir Kadir

PEKANBARU-Jika tidak ada hal-hal yang luar biasa, 8 Agustus 2021 mendatang, PT Pertamina melalui anak usahanya, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) akan mengambil alih pengelolaan Blok Rokan, Riau dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI). 

Beragam tanya pun muncul ke permukaan. Apakah alih kelola Blok Rokan ini akan menguntungkan bagi daerah penghasil dan negara? Apakah Pertamina mampu melakukan tugasnya sebagai BUMN yang dipercaya mengelola Migas tersebut? 

Terkait alih kelola blok Rokan dari PT CPI kepada PT Pertamina ini, FokusRiau.com berkesempatan berbincang dengan salah seorang Ahli Manajemen Perminyakan Indonesia, Nawasir Kadir, Rabu (8/7/2021) lalu.  Berikut petikan wawancara selengkapnya.

Menurut Anda, apa keuntungan yang akan diperoleh Riau sebagai daerah penghasil dan negara terkait peralihan pengelolaan blok Rokan?

Soal Sumber Daya Alam (SDA), semua jelas diatur dalam UUD 45 pasal 33 ayat 3. Bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Dalam konteks ini, mestinya keadilan itu tercermin dalam kemakmuran.

Artinya kemakmuran itu bukan hanya dinikmati oleh orang pusat, tetapi juga didapat masyarakat di daerah. Kenyataannya kan tidak demikian. Sebagai daerah penghasil, masyarakat Riau justru belum memperoleh kemakmuran. 

Saya melihat, dengan diambilalihnya pengelolaan blok Rokan oleh PT Pertamina itu tidak banyak beda. Karena semua sudah terstruktur seperti itu sejak puluhan tahun. Ketika minyak masih banyak-banyaknya, blok itu bisa menghasilkan lebih dari 600.000 barel/hari. Sekarang hanya bisa menghasilkan 160.000 barel/hari.

Jadi, kemampuan untuk memberikan kemakmuran kepada rakyat itu sudah sangat berkurang. 10 tahun lalu, saya pernah menyampaikan hal ini kepada Gubernur Riau saat itu, untuk segera mengambil alih pengelolaan Blok Rokan yang dikuasai CPI.

Karena 10 tahun ke depan, cadangan minyaknya akan habis. Tapi ini tak dilakukan. Baru 2-3 tahun terakhir ini Riau bersuara akan mengambil alih pengelolaan, saat kontrak blok Rokan telah diberikan ke Pertamina dan produksinya sudah jauh menurun. 

Anda pesimis kalau peralihan ini akan membawa kemakmuran bagi masyarakat Riau?

Sekarang kan sumbernya tidak sebanyak dulu. Jadi saya melihat tidak akan memberi tambahan dampak positif dan signifikan terhadap Riau.