Kasus Perceraian Saat Pandemi Tinggi, Ini Tips Rumah Tangga Awet dari Pakarnya

oleh -16 views
Ilustrasi. (Foto: Detik,com)

PEKANBARU-Kasus perceraian mengalami peningkatan signifikan pada masa pandemi Covid-19. Bahkan, pemberlakuan WFH dikambinghitamkan sebagai salah satu penyebab utama kasus perceraian.

Ironisnya, perceraian terjadi tidak saja dari kalangan muda. Namun pasangan yang sudah lama menikah. Pada masa pandemi, interaksi antar pasangan berlangsung selama 24 jam setiap harinya. Padahal pada masa sebelum pandemi, interaksi antar pasangan terjadi minimal 1 jam sehari.

“Sebelum pandemi, jika sedang bete dengan pasangan, pelariannya ke kantor. Tapi begitu pandemi, mengharuskan bekerja dari rumah. Mau kabur ke kantor nggak bisa, mau ke kafe kena pembatasan karena PPKM. Sehingga situasi ini menjadi pemicu terjadi ketidakharmonisan dengan pasangan,” ungkap konsultan pernikahan Indra Noveldy pada acara talkshow daring bertajuk “Membangun Keluarga Yang Bisa Menjawab Tantangan” dalam event Professional Women’s Week 2021 yang diinisiasi desainer Nina Septiana.

Indra membeberkan data, tingkat perceraian tertinggi didominasi di kepulauan Jawa. Di urutan pertama Jawa Tengah diikuti Jawa Timur kemudian Jawa Barat.

Selain dipicu faktor ekonomi, penyebab perceraian lebih banyak ditenggarai kondisi ketidakharmonisan pada pasangan.

Menurut Indra, banyak terjadi kesalahpahaman dalam memaknai pernikahan. Ada yang mengatakan titik rawan sebuah pernikahan adalah di 5 tahun pernikahan. Memakai istilah jaman sekarang, pernyataan tersebut tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya alias hoax.

Justru, penyesuaian dalam pernikahan terjadi sepanjang usia pernikahan itu sendiri. Sebagai konsultan pernikahan, Indra kerap dicurhati kliennya yang mengaku semakin bertambah usia, tak mengenal pasangannya.

“Seorang klien yang usia pernikahannya 27 tahun datang ke saya, dengan mata nanar. ‘Mas Indra saya udah sukses. Tapi saya menghabiskan masa pensiun dengan siapa ya? Padahal dia masih ada istri, tapi dia merasa tidak mengenal istrinya,” ujarnya.

Indra menyebut, pandemi merupakan miniatur dari masa pensiun seseorang. Namun sayangnya, masa pensiun tidak dipersiapkan secara baik oleh kebanyakan orang. Akibatnya, masa pensiun bukannya menjadi sebuah masa untuk menikmati hidup, malah sibuk melakukan berbagai macam pengobatan untuk sekadar bertahan hidup.

“Karena tidak mempersiapkan sebelum pensiun, akhirnya mereka tidak dapat mengantisipasi intensitas berhubungan 24 jam bersama pasangan. Karena ketemu setiap saat, kebayang gak, pasangan kita suka main hape, sumbu pendek, sedikit-sedikit marah, tukang makan, tukang ngatur, bahkan omongannya tajam. Kesimpulannya, kita ini nggak mengenal siapa suami kita, siapa istri kita. Jadi sekian lama hidup dalam pernikahan, tapi tidak saling mengenal karakter,” lanjut Indra.

Satu hal yang belakangan terjadi, banyak wanita sukses di pekerjaan atau membangun bisnis. Tapi rumah tangganya rapuh.

Indra mengingatkan para wanita multiperan, selalu menempatkan dirinya sebaik mungkin, sebagai istri, ibu dan anak bagi orang tuanya.

“Jangan sampai kita hanya sibuk membangun usaha. Tapi lupa menguatkan keluarga di rumah.
Bahkan sampai lupa pada pasangan , lupa masih punya suami yang perlu diperhatikan. Sehingga tidak jarang banyak suami yang cemburu pada anak-anaknya. Karena sebagai istri hanya sibuk memperhatikan anak-anak. Dalam hal ini suami mungkin gengsi mengakui bahwa dia butuh diperhatikan istrinya,” ujar Indra.

Merujuk pada #akuberdaya yang dikampanyekan PWW 2021, Indra menyebut, hendaknya para wanita sebelum memutuskan berkarier di luar rumah atau menjalankan bisnis, tetap menjalankan peran utamanya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya.

“Sudahkah pasangan Anda merasa dicintai oleh Anda? Karena sekarang ini gak penting lagi klaim kita cinta pada pasangan. Tapi yang paling penting tersirat dari perilaku. Pasangan kita tahu nggak kalau kita mencintai dia?,” tukasnya. (*)


Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Viva.co.id