Bagaimana Doa Qunut Subuh Dalam Pandangan Empat Mahzab? Simak Pembahasannya!

oleh -54 views
Ilustrasi. (Foto: Merdeka.com)

PADANG-Qunut subuh biasanya dibaca menjelang akhir sholat pada rakaat kedua setelah rukuk. Membaca doa qunut subuh tidak memang termasuk dalam rukun, sehingga tidak wajib dibaca saat sholat sendiri atau berjamaah.

Dalam haditsnya, Rasulullah SAW menjelaskan, sholat terbaik adalah yang membaca doa qunut paling panjang. Berikut haditsnya.

نْ جَابِرٍ، قَالَ قِيلَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَىُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ قَالَ ‏ “‏ طُولُ الْقُنُوتِ ‏”

Artinya: Seperti diceritakan Jabir, Rasulullah SAW saat itu ditanya: “Sholat seperti apa yang paling baik?” Rasulullah SAW berkata, “Yang dengan doa qunut paling panjang.” (HR Tirmidzi).

Bagi umat Islam Indonesia, pembacaan doa qunut subuh bukan hal asing. M Abdul Wahab, Lc dalam bukunya berjudul Kupas Tuntas Qunut Subuh menerangkan pandangan empat mahzab tentang doa qunut subuh.

Buku itu menjelaskan, mahzab Maliki dan Syafi’i pada umumnya berpendapat ada doa qunut subuh. Namun mahzab Hanafi dan Hambali menyatakan sebaliknya. Menurut mereka doa qunut subuh tidak ada dalam Islam.

“Bagi ulama Hanafiyah, Hanabilah, Sufyan Ats-Tsauri qunut pada sholat subuh tidaklah disyariakan. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud dan Abu Darda. Abu Hanifah mengatakan qunut subuh adalah bid’ah, sedangkan ulama Hanabilah mengatakan qunut subuh adalah makruh,” tulis buku tersebut.

Meski begitu, patut dicatat mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan imam mujtahidin berpendapat doa qunut subuh adalah sunah. Aturan ini dinyatakan Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu.’

“Mahzab kami (Syafi’i) bahwasannya qunut itu dianjurkan (mustahab) baik ketika terjadi bencana (nazilah) atau ketika tidak ada bencana (qunut subuh), inilah pendapat kebanyakan dari ulama salaf dan ulama-ulama setelah mereka atau banyak dari mereka,” tulis kitab tersebut.

Dengan penjelasan ini bisa disimpulkan, hukum doa qunut subuh adalah sunah. Jika ada perbedaan pendapat tidak perlu menjadi penyebab pertikaian.

Bagi yang ingin menerapkan qunut subuh berikut bacaannya dalam Arab dan latin,

Bacaan doa qunut subuh
اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Arab latin: Allahummahdini fî man hadait, wa ‘âfini fî man ‘âfait, wa tawallanî fî man tawallait, wa bâriklî fî mâ a’thait, wa qinî syarra mâ qadhait, fa innaka taqdhî wa lâ yuqdhâ ‘alaik, wa innahû lâ yazillu man wâlait, wa lâ ya’izzu man ‘âdait, tabârakta rabbanâ wa ta’âlait, fa lakal hamdu a’lâ mâ qadhait, wa astagfiruka wa atûbu ilaik, wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa sallam.

Artinya: “Ya Allah tunjukkanlah akan daku sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan. Dan berilah kesihatan kepadaku sebagaimana mereka yang Engkau telah berikan kesihatan. Dan peliharalah daku sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan. Dan berilah keberkatan bagiku pada apa-apa yang telah Engkau kurniakan. Dan selamatkan aku dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan kena hukum. Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau. Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan. Ku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau. (Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.” (*)


Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Detikcom