Saksikan Dampak Abrasi Sungai Indragiri, Gubernur Syamsuar Minta BWS Pusat Turun ke Inhu

oleh -12 Dilihat
Gubernur Syamsuar (kiri) mendengarkan penjelasan soal abrasi sungai Indragiri. (Foto: Obrin/FokusRiau.Com)

INDRAGIRI HULU, FOKUSRIAU.COM-Kondisi bantaran Sungai Indragiri di Kabupaten Inhu, Riau cukup memprihatinkan. Sejumlah lokasi mulai mengalami abrasi yang berdampak pada kerusakan badan jalan penghubung antara desa.

Tak hanya ruas jalan, sejumlah rumah warga juga terancam ambruk ke sungai bila tidak secepatnya ditangani.

“Untuk pembangunan bantaran Sungai Indragiri bukan merupakan kewenangan Pemprov Riau, namun menjadi kewenangan pemerintah pusat. Kami akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kementrian PUPR untuk mencarikan solusinya,” ujar

Gubernur Syamsuar kepada FokusRiau.Com, Senin (13/12/2021) di desa wisata Meduyan, Desa Kota Lama, Kecamatan Rengat Barat.

Dikatakan, pihaknya akan meminta Balai Wilayah Sumatera (BWS) dan Kementrian PUPR untuk turun ke lapangan meninjau titik abrasi di bantaran Sungai Indragiri.

Sementara itu, Bupati Rezita yang mendampingi kunjungan kerja gubernur mengatakan, pihaknya bersama instansi terkait dan tokoh adat sudah menyisir sungai Indragiri mengunakan pompong dimulai dari Kecamatan Batang Peranap sampai Kuala Cinaku.

Hasil penyisiran tersebut, kata Rezita, ada 26 titik abrasi. Bahkan sudah ada yang membuat badan jalan antar desa amblas. “Dampak abrasi bukan hanya merusak badan jalan, namun aktifitas masyarakat juga terganggu dan mengancam pemukiman warga sepanjang bantaran sungai,” tuturnya.

Untuk itu, Rezita berharap, Gubernur memberikan perhatian serius agar persoalan tersebut bisa segera teratasi.

Sebelumnya, Kepala Desa Danau Baru, Kecamatan Rengat Barat M Ridwan mengatakan, gubernur bersama rombongan juga sudah meninjau kondisi jalan dan bangunan turap yang ambruk di arena pacu.

“Kami sudah berapa kali mengajukan permohonan pembangunan ke BWS pusat melalui Balai Wilayah Sumatera. Kami berharap, tahun depan pembangunan badan jalan yang menghubungkan desa ke desa bisa terealisasi, karena kondisinya kinihanya tersisa setengah saja,” tukasnya. (*)

Penulis: Obrin
Editor: Boy Surya Hamta

9 / 100