Menakar Peluang Investasi Cuan 2022, Mulai Saham Sampai Bitcoin

oleh -30 Dilihat
Ilustrasi. Peluang investasi cuan di tahun 2022. (Foto: Bisnis.Com)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Memasuki tahun baru 2022, strategi investasi harus dibuat sematang mungkin. Setidaknya harus lebih cuan dari tahun sebelumnya.

Berikut sederet proyeksi instrumen investasi, mulai dari saham, emas, rupiah sampai aset kripto yang bisa jadi pertimbangan dalam berinvestasi.

Saham
2022 diyakini akan menjadi tahun bersahabat bagi pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mendapatkan sentimen positif dari pemulihan ekonomi.

Dalam risetnya, Mirae Asset Sekuritas meyakini, pemulihan ekonomi di Indonesia akan terjadi di 2022. Pemerintah sendiri memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2022 di kisaran 5,2 persen.

Optimisme tersebut tentu bisa menjadi katalis positif bagi pasar modal Indonesia, khususnya pasar saham. Head of Research Investment Strategist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya memproyeksikan, IHSG bisa menguat hingga ke level 7.600 pada 2022 mendatang.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo. Dia bahkan memprediksi IHSG bisa mencapai level 7.500 di 2022.

“Prediksi kami dengan mempertimbangkan banyak faktor maka IHSG untuk akhir tahun depan 2022 ada di level 7.500,” tulisnya.

Emas
Harga emas di 2022 diprediksi akan bergerak dalam zona hijau. Aset berkilau ini diyakini akan melanjutkan uptrend bullish jangka panjangnya di tahun ini.

Melansir Kitco News, Minggu (2/1/2022), Kepala strategi emas di State Street Global Advisors, George Milling-Stanley memprediksi harga emas akan diperdagangkan pada level US$ 1.800 dan US$ 2.000 per ounce pada 2022. Bahkan dia menilai harga emas bisa mencapai lebih dari US$ 2.000 per ounce menuju rekor tertinggi yang baru.

“Kami melihat peluang 80% harga emas bertahan di kisaran saat ini untuk bergerak lebih tinggi tahun depan. Bahkan dengan Federal Reserve yang ingin memperketat suku bunga tahun depan, kami pikir emas memiliki peluang yang cukup bagus untuk bergerak lebih tinggi,” tuturnya.

Meski begitu State Street juga memprediksi kasus terburuknya, peluangnya 20% dengan rentang posisi harga emas berada di kisaran US$ 1.600 dan US$ 1.800 per ounce.

Rupiah
Jalan rupiah di 2022 diperkirakan tidak akan mudah. Ada 1 hambatan besar bisa membuat mata uang Garuda terseok-seok.

Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra menjelaskan, salah satu faktor utama yang akan membayangi pergerakan nilai tukar rupiah masih datang dari Federal Reserve alias Bank Sentral Amerika Serikat (AS).

“Faktor utama yang menggerakkan rupiah terhadap dollar AS bakal datang dari kebijakan pengetatan moneter Bank Sentral AS,” tuturnya kepada detikcom.

Diperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 3 kali tahun depan. Hal itu tentu akan memicu penguatan dolar AS karena aliran modal asing kembali ke AS.

“Ekspektasi 3 kali kenaikan suku bunga ini bisa memicu pelemahan rupiah terhadap dollar AS, lebih dalam lagi,” tambahnya.

Meski begitu, rupiah masih memiliki harapan untuk menahan dominasi AS di tahun depan. Harapan itu datang dari pemulihan ekonomi Indonesia dan pandemi yang terkendali.

Kripto
Lika-liku perjalanan aset kripto selama 2021. Tahun ini, Bitcoin cs diprediksi akan memiliki performa yang lebih baik dengan adanya ekosistem terbaru.

CEO Indodax, Oscar Darmawan memprediksi, tahun 2022 akan ada suatu ekosistem baru setelah di tahun 2020 ada DeFi dan di tahun 2021 ada hype NFT dan juga Metaverse. Tentunya, ekosistem ini juga tidak akan ditinggalkan, meskipun ekosistem yang baru terbentuk.

Tidak hanya perihal ekosistem, setelah adanya pergerakan dari negara El Salvador yang menjadikan Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah, tentu akan ada negara lainnya yang menyusul.

Pada tahun ini, Bitcoin menjadi semakin mainstream. Oscar melihat orang awam yang biasanya tidak tahu apa itu bitcoin, menjadi mulai mendengar dan mulai aware soal bitcoin. Tidak hanya itu, Bitcoin pun juga sudah digunakan sebagai devisa negara dan juga masuknya institusi investor.

Tidak hanya soal Bitcoin, Oscar juga membahas perihal kripto market cap terbesar setelah Bitcoin, yaitu Ethereum. Seperti yang sudah diketahui Ethereum sudah berevolusi menjadi Ethereum 2.0.

Dengan evolusi Ethereum 2.0, kecepatan, efisiensi, dan skalabilitas jaringan Ethereum pun semakin meningkat sehingga dapat memproses lebih banyak transaksi dan mengurangi kemacetan. (*)


Editor: Boy Surya Hamta
Sumber: Detikcom

12 / 100