Banyak Perokok Tak Terkena Kanker Paru, Ilmuwan Ungkap Penyebabnya!

Ilustrasi. Faktor DNA jadi pendorong kesehatan para perokok. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Sejumlah perokok ternyata tidak terjangkit kanker paru-paru, padahal risiko penyakit ini cukup tinggi bagi mereka. Peneliti menyebut, faktor genetik menjadi faktor penyebabnya.

Aktivitas merokok diketahui dapat menyebabkan berbagai penyakit, mulai serangan jantung, impotensi dan berbagai jenis kanker, salah satunya kanker paru-paru.

Di Amerika Serikat, merokok menjadi penyebab kematian akibat kanker paru-paru dengan persentase mencapai 90 persen. Cara paling aman untuk menghindari penyakit ini tentu saja dengan tidak merokok.

Namun baru-baru ini, sebuah penelitian menunjukkan ada sekelompok orang yang tetap merokok, tetapi potensi untuk terjangkit kanker paru-paru sangat kecil.

Dilansir Science Alert, di antara orang yang merokok tetapi tidak terjangkit kanker paru-paru, para peneliti menemukan temuan unik. Sel-sel yang melapisi paru-paru mereka tampaknya lebih kecil kemungkinannya untuk bermutasi.

Temuan menunjukkan gen perbaikan DNA bergerak lebih aktif pada beberapa individu tertentu. Hal tersebut lantas dapat melindungi individu tersebut dari kanker yang timbul, bahkan ketika rokok dihisap secara teratur.

Studi yang dilakukan para peneliti ini menggunakan profil genetik yang diambil dari bronkus 14 perokok yang tidak pernah merokok serta 19 perokok ringan, sedang, dan berat.

Sel-sel permukaan yang dikumpulkan dari paru-paru para peserta diurutkan secara individual untuk mengukur mutasi dalam genom mereka.

“Sel paru-paru ini bertahan selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, dan dengan demikian dapat mengakumulasi mutasi dengan usia dan merokok,” jelas Simon Spivack, ahli epidemiologi dan paru dari Albert Einstein College of Medicine, seperti dikutip Science Daily.

“Dari semua jenis sel paru-paru, ini adalah yang paling mungkin menjadi kanker,” imbuhnya.

Menurut peneliti, temuan ini dengan tegas menunjukkan mutasi pada paru-paru manusia meningkat seiring bertambahnya usia, dan di antara perokok, kerusakan DNA yang terjadi bahkan lebih signifikan.

Merokok tembakau telah lama dikaitkan dengan pemicu kerusakan DNA di paru-paru, tetapi studi baru menemukan tidak semua perokok bernasib sama.

Jumlah mutasi sel yang terdeteksi dalam sel paru-paru meningkat sejalan dengan masa merokok, dan mungkin peningkatan pada risiko kanker paru-paru.

Tapi menurut penelitian tersebut, peningkatan mutasi sel terhenti setelah 23 tahun merokok dengan intensitas satu hari satu bungkus. “Perokok terberat tidak memiliki beban mutasi tertinggi,” kata Spivack.

“Data kami menunjukkan orang-orang ini mungkin bertahan begitu lama meskipun mereka perokok berat karena mereka berhasil menekan akumulasi mutasi lebih lanjut. Penurunan mutasi dapat berasal dari orang-orang ini yang memiliki sistem yang sangat mahir untuk memperbaiki kerusakan DNA atau mendetoksifikasi asap rokok,” tukasnya. (cnnindonesia/bsh)

8 / 100
banner 325x300