News  

Pembalakan Liar di TNTN Riau Kian Meresahkan, Hutan Gundul Ditanami Sawit

Salah satu pondok pembalak dibakar petugas. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Aktivitas pembalakan liar atau ilegal logging di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) kian meresahkan. Hutan yang menjadi habitat gajah dan harimau Sumatera itu kian gundul.

Penggundulan hutan TNTN dilakukan dengan cara penebangan langsung maupun dibakar. Hutan yang sudah gundul tersebut kemudian disulap menjadi perkebunan sawit.

Sejumlah bangunan semi permanen yang menjadi tempat peristirahatan pelaku ilegal logging bermunculan di sejumlah titik di hutan TNTN.

Kepala Balai TNTN Heru Sutmantoro menjelaskan, lokasi pondok berbeda-beda. Petugas menemukannya setelah mendapatkan informasi adanya kawasan TNTN terbakar.

“Pondok itu didirikan perambah. Lokasinya masuk kawasan hutan, ini juga hasil patroli dalam sepekan belakangan,” kata Heru, Jumat (1/9/2023).

Dikatakan, keberadaan pondok-pondok perambah itu merusak keberadaan hutan alam. Keberadaannya mengancam keberlangsungan populasi gajah, harimau, tapir, macan dahan dan satwa penting lainnya.

“Balai TNTN akan terus melakukan upaya maksimal untuk menghentikan segala aktivitas yang merusak kawasan taman Nasional Tesso Nilo, ini merupakan aset daerah, nasional dan internasional,” ujar Heru.

Penindakan dilakukan setelah di sejumlah lokasi terjadi kebakaran. Benar saja, setelah dicek ditemukan hutan telah dibabat dan berdiri pondok-pondok illegal.

“Petugas menemukan sisa kebakaran hutan yang luasnya mencapai 50 hektare, ada pondok di sekitar lokasi kebakaran,” kata Heru.

Beri Peringatan
Sebelumnya, Balai TNTN sudah memberi peringatan dengan memasang rambu-rambu dan peringatan kepada para perambah, tapi tak dipedulikan pelaku.

Pondok pertama diketahui berada di koordinat 0.241583 S, 101.912962 E. Di sana petugas merobohkan dan memusnahkan pondok perambah yang ada di grid 119. Pondok tersebut berada di lokasi bekas karhutla.

Tak sampai di situ, petugas melanjutkan perjalanan ke titik koordinat di 0.244687 S, 101.921264 E. Di situ petugas menemukan pondok perambah kedua dan langsung dirobohkan.

Selanjutnya, tim bergerak menuju koordinat 0.243766 S, 101.917336 E. Di lokasi juga tim merobohkan pondok perambah yang berdiri di lokasi.

Begitu juga pada grid K18, titik koordinat 0.275541 S, 101.907205 E tim melakukan penanaman tanaman hutan diareal bekas kebakaran.

Kemudian petugas bergerak menuju ke grid K19, tim tiba di lokasi 0.275491 S, 101.919421 E. Lokasi ini merupakan pondok masyarakat yang telah diberi peringatan oleh tim untuk meninggalkan pondok tersebut.

“Mereka tetap nekat membangun pondok, sehingga kita putuskan untuk membongkar dan membakarnya,” tukasnya dilansir FokusRiau.Com dari Liputan6.com. (bsh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *