162 Hotspot Riau Terpantau Hari Ini, BMKG: Waspadai Lonjakan Karhutla di Sumatera

Ilustrasi. Titik panas atau hotspot di Riau meningkat drastis. (Foto: FokusRiau.Com)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Jumlah hotspot atau titik panas di Riau, Rabu (18/3/2026) kembali naik drastis. Berdasarkan data terbaru BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, tercatat 162 titik panas terdeteksi di Riau.

Angka ini meningkat signifikan dibandingkan sehari sebelumnya yang hanya 46 titik, sekaligus menjadikan Riau sebagai provinsi dengan hotspot terbanyak di Pulau Sumatera.

Forecaster BMKG Pekanbaru, Alfa Nataris menyebut, lonjakan ini perlu diwaspadai sebab berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang rawan dan memiliki lahan gambut.

Sebaran Hotspot Riau Terbanyak di Pelalawan dan Bengkalis

Dari total 162 titik hotspot Riau, sebaran terbanyak terdeteksi di Kabupaten Pelalawan dengan 61 titik. Disusul Kabupaten Bengkalis sebanyak 46 titik, yang selama ini dikenal sebagai wilayah rawan karhutla.

Selain itu, Kota Dumai juga mencatat angka tinggi dengan 41 titik panas. Sementara Kabupaten Rokan Hilir terpantau memiliki 10 titik hotspot.

Adapun wilayah lain yang turut terdeteksi, meski dalam jumlah lebih kecil, masing-masing satu titik berada di Kabupaten Kampar, Kepulauan Meranti, Siak, dan Indragiri Hilir.

Kondisi ini menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Riau mulai terdampak peningkatan suhu dan potensi kebakaran lahan.

Riau Jadi Penyumbang Hotspot Terbesar di Sumatera

Secara keseluruhan, BMKG mencatat terdapat 267 titik hotspot di seluruh Pulau Sumatera pada hari yang sama. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuhnya berasal dari Riau.

Beberapa provinsi lain juga mencatat adanya titik panas, di antaranya Kepulauan Riau sebanyak 30 titik dan Bangka Belitung 19 titik.

Kemudian Aceh dan Jambi masing-masing mencatat 12 titik, disusul Sumatera Selatan dan Lampung masing-masing 10 titik. Sumatera Utara terdeteksi 8 titik, Bengkulu 2 titik, serta Sumatera Barat hanya 1 titik hotspot.

Dominasi jumlah hotspot Riau ini memperkuat indikasi meningkatnya risiko karhutla di wilayah tersebut, terutama memasuki periode cuaca kering.

Risiko Karhutla Meningkat, Masyarakat Diminta Waspada

Lonjakan hotspot Riau tidak hanya menjadi indikator meningkatnya suhu permukaan, tetapi juga sinyal awal potensi kebakaran hutan dan lahan yang bisa berdampak luas, termasuk kabut asap lintas wilayah.

BMKG mengingatkan bahwa kondisi ini dapat diperparah oleh aktivitas manusia, terutama praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.

“Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan,” ujar Alfa.

Selain itu, peningkatan hotspot juga berpotensi mengganggu kualitas udara, kesehatan masyarakat, serta aktivitas transportasi jika tidak segera diantisipasi.

Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan meningkatkan patroli serta kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi karhutla, termasuk memperkuat sistem deteksi dini dan penanganan cepat di lapangan.

Upaya Pencegahan Jadi Kunci

Pengendalian hotspot Riau membutuhkan sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat. Pencegahan dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menghindari bencana yang lebih besar.

Langkah-langkah seperti sosialisasi larangan membakar lahan, patroli terpadu, serta pemantauan hotspot secara berkala menjadi strategi penting yang harus terus ditingkatkan.

Dengan kondisi hotspot yang terus meningkat, kewaspadaan semua pihak menjadi kunci agar bencana kabut asap seperti tahun-tahun sebelumnya tidak kembali terulang. (trp/bsh)

Exit mobile version