PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Penjualan mobil murah ramah lingkungan (LCGC) di Indonesia mengalami penurunan signifikan sepanjang 2025. Tren ini menjadi sorotan karena segmen LCGC selama ini dikenal sebagai tulang punggung pasar otomotif, khususnya bagi pembeli mobil pertama.
Berdasarkan data terbaru Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), total distribusi dari pabrik ke diler (wholesales LCGC) sepanjang Januari–Desember 2025 tercatat hanya 122.686 unit. Angka tersebut merosot tajam sekitar 30,6 persen dibandingkan capaian tahun 2024 yang mencapai 176.766 unit.
Tidak hanya dari sisi distribusi, penjualan langsung ke konsumen (ritel) juga mengalami tekanan. Sepanjang 2025, penjualan ritel LCGC turun sekitar 27 persen menjadi 130.799 unit.
Daya Beli Melemah, Kredit Diperketat
Penurunan ini tidak terjadi tanpa sebab. Melemahnya daya beli masyarakat serta kebijakan pembiayaan yang semakin ketat menjadi faktor utama yang menekan pasar.
Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy menjelaskan, segmen LCGC selama ini memang menyasar konsumen yang baru pertama kali membeli mobil.
“Selama ini LCGC merupakan pilihan utama bagi pembeli mobil pertama. Banyak konsumen yang beralih dari sepeda motor ke mobil melalui segmen ini,” ujarnya.
Namun, kondisi ekonomi saat ini membuat segmen tersebut ikut terdampak. Menurut Billy, pembatasan akses kredit kendaraan menjadi salah satu faktor paling terasa.
“Pengetatan pembiayaan dan penurunan daya beli sangat memengaruhi pasar. Dampaknya cukup besar, terutama bagi konsumen first time buyer yang sangat bergantung pada skema kredit,” jelasnya.
Menghadapi tekanan pasar, produsen otomotif tidak tinggal diam. Sejumlah strategi dilakukan untuk menjaga daya tarik produk LCGC di tengah penurunan minat beli.
Salah satu upaya dilakukan Honda melalui penyegaran pada produk andalannya, Honda Brio Satya. Model ini tetap menjadi salah satu kontributor utama di segmen LCGC meski penjualannya ikut menurun.
Billy menyebut, Honda terus memberikan pembaruan fitur untuk meningkatkan nilai jual kendaraan. “Kami terus melakukan refreshment pada Brio Satya, mulai dari peningkatan fitur audio hingga berbagai pembaruan lainnya agar konsumen tetap mendapatkan nilai lebih,” ujarnya.
Langkah ini diharapkan dapat mempertahankan minat konsumen, terutama di tengah persaingan yang semakin ketat dan kondisi pasar yang belum stabil.
Penjualan Brio Satya Ikut Tertekan
Meski masih menjadi salah satu mobil LCGC terlaris, penjualan Honda Brio Satya juga tidak luput dari penurunan. Data Gaikindo menunjukkan, pada Januari 2026 penjualan model ini mencapai 3.430 unit, namun turun menjadi 3.096 unit pada Februari 2026.
Penurunan tersebut mencerminkan bahwa tekanan di segmen LCGC masih berlanjut pada awal 2026. Kondisi ini sekaligus menegaskan bahwa pemulihan pasar otomotif, khususnya di kelas mobil terjangkau, belum sepenuhnya terjadi.
Sejumlah pelaku industri berharap kondisi ini bersifat sementara. Upaya kolaborasi antara produsen dan lembaga pembiayaan dinilai menjadi kunci untuk mendorong kembali pertumbuhan penjualan.
Relaksasi kredit, program promo, hingga inovasi produk diperkirakan akan menjadi strategi utama untuk menarik kembali minat konsumen.
Di sisi lain, pemulihan daya beli masyarakat juga menjadi faktor penentu. Jika kondisi ekonomi membaik, segmen LCGC diyakini akan kembali bangkit mengingat pasar ini memiliki basis konsumen yang besar di Indonesia. (kps/bsh)
