Harga Emas Berpotensi Tembus Rp3 Juta per Gram, Dipicu Geopolitik dan Dolar AS Menguat

Harga emas diprediksi bisa menembus angka Rp3 juta/gram. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih belum stabil dalam sepekan ke depan. Tekanan geopolitik global dan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama yang mempengaruhi arah harga logam mulia tersebut.

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai kondisi global yang penuh ketidakpastian membuat harga emas berada dalam fase fluktuatif. Situasi ini dipicu oleh meningkatnya tensi konflik di sejumlah kawasan, terutama Timur Tengah dan Eropa Timur.

Menurutnya, pada penutupan perdagangan terakhir, harga emas dunia berada di kisaran USD 4.671 per troy ounce. Sementara itu, harga logam mulia di dalam negeri tercatat sekitar Rp2.857.000 per gram.

“Jika terjadi koreksi, emas dunia berpotensi turun ke level support di USD 4.543 per troy ounce. Untuk harga logam mulia domestik bisa menyentuh sekitar Rp2.827.000 per gram,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Namun demikian, peluang kenaikan harga emas tetap terbuka. Ibrahim menyebut, meningkatnya konflik global justru dapat mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Ketegangan di Timur Tengah, yang melibatkan sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat dan Iran, berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini biasanya diikuti oleh penguatan dolar AS dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Jika tren kenaikan berlanjut, harga emas dunia diproyeksikan dapat menembus level resistensi di USD 5.080 per troy ounce. Dampaknya, harga logam mulia di Indonesia berpotensi menyentuh angka psikologis Rp3 juta per gram.

“Pekan depan ada peluang harga emas ‘pecah telur’ menembus level baru. Untuk logam mulia domestik, potensi menuju Rp3 juta per gram cukup besar,” jelasnya.

Selain faktor geopolitik, arah kebijakan moneter AS juga menjadi perhatian pelaku pasar. Data ekonomi Negeri Paman Sam yang masih kuat membuka peluang bank sentral mempertahankan suku bunga. Kondisi ini dalam jangka pendek bisa menahan laju kenaikan emas.

Meski begitu, Ibrahim menegaskan bahwa faktor ketidakpastian global, termasuk potensi konflik berkepanjangan dan perang dagang, tetap menjadi pendorong utama harga emas.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah yang diproyeksikan mendekati Rp17.120 per dolar AS turut memperkuat kenaikan harga logam mulia di pasar domestik.

Dengan kombinasi faktor eksternal tersebut, investor disarankan tetap mencermati dinamika global sebelum mengambil keputusan, mengingat volatilitas harga emas masih akan tinggi dalam waktu dekat. (l6c)

Exit mobile version