KAMPAR, FOKUSRIAU.COM-Deru helikopter memecah langit sore di Kecamatan Kampar, Sabtu, 23 Mei 2026. Warga Desa Ranah Singkuang berhamburan keluar rumah saat heli water bombing berkali-kali menjatuhkan air ke titik api yang membakar lahan perkebunan di kawasan perbukitan desa itu.
Setelah sempat mereda hampir dua bulan akibat tingginya intensitas hujan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini kembali muncul di Kabupaten Kampar. Situasi itu memicu kewaspadaan dini, mengingat Riau mulai memasuki periode cuaca panas dalam beberapa pekan terakhir.
Api dilaporkan membakar sekitar 4,5 hektare lahan yang didominasi kebun karet dan kelapa sawit milik warga. Lokasi kebakaran berada di area tanah mineral dengan kontur berbukit, sehingga menyulitkan akses tim darat untuk menjangkau seluruh titik api.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung mengerahkan satu unit helikopter water bombing untuk membantu proses pemadaman. Langkah cepat itu dinilai penting agar api tidak meluas ke kawasan lain yang rawan terbakar saat cuaca kering.
Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) Kampar, Adi Candra Lukita mengatakan, laporan kebakaran diterima sekitar pukul 14.25 WIB. Tidak lama setelah itu, helikopter langsung diterbangkan ke lokasi.
“Helikopter fokus menyiram area perbukitan yang sulit dijangkau satgas darat,” kata Adi, Minggu (24/5/2026).
Menurutnya, tim gabungan yang tiba di lokasi langsung membagi pola penanganan. Personel darat fokus memadamkan api di area datar, sementara helikopter menyisir titik panas di lereng dan kawasan semak yang berpotensi mempercepat rambatan api.
“Kami di darat menangani area yang bisa dilalui armada dan personel,” ujarnya.
Tim pemadaman terdiri dari unsur Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kampar, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), kepolisian, serta dibantu warga sekitar. Kolaborasi itu membuat api berhasil dikendalikan sebelum malam.
Meski demikian, kepulan asap tipis masih terlihat hingga larut malam. Petugas tetap berjaga untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali menyala akibat embusan angin atau sisa panas di bawah permukaan tanah.
Adi menyebut kondisi benar-benar terkendali pada Minggu pagi setelah hujan ringan mengguyur hampir seluruh wilayah Kampar.
“Subuh tadi hujan ringan turun cukup merata. Itu sangat membantu pendinginan lokasi,” katanya.
Kembalinya karhutla di Kampar menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran di Riau belum sepenuhnya hilang. Apalagi, wilayah ini memiliki sejarah panjang menghadapi kebakaran lahan setiap memasuki musim panas.
Dalam beberapa tahun terakhir, pola cuaca ekstrem membuat potensi karhutla semakin sulit diprediksi. Saat curah hujan turun tinggi, titik api memang berkurang drastis. Namun ketika panas mulai meningkat selama beberapa hari, vegetasi kering dengan cepat berubah menjadi bahan bakar api.
Fenomena itu membuat pemerintah daerah dan aparat penanggulangan bencana mulai meningkatkan kesiapsiagaan lebih awal. Penggunaan helikopter water bombing sejak awal kejadian menunjukkan pendekatan penanganan yang lebih cepat dibanding menunggu api membesar.
Selain itu, keterlibatan warga dalam proses pemadaman juga menjadi faktor penting. Di sejumlah daerah rawan karhutla, masyarakat sering menjadi pihak pertama yang mengetahui munculnya asap sebelum petugas tiba di lokasi.
Di Ranah Singkuang, warga terlihat membantu membuka akses menuju titik api dan menyuplai air untuk personel lapangan. Sebagian lainnya memantau area sekitar kebun agar api tidak merambat ke lahan produktif milik masyarakat.
Karhutla bukan hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga ekonomi warga. Kebun karet dan sawit yang terbakar dapat menurunkan produktivitas dalam jangka panjang. Jika kebakaran meluas, risiko kabut asap juga dapat mengganggu aktivitas pendidikan, kesehatan, hingga transportasi.
Karena itu, pemerintah terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Edukasi dan patroli rutin dinilai menjadi langkah penting untuk menekan potensi kebakaran sejak dini.
Minggu siang, petugas masih melakukan pemantauan di lokasi kebakaran untuk memastikan tidak ada titik api baru. Pendinginan terus dilakukan di beberapa bagian lahan yang sebelumnya terbakar cukup intens.
Peristiwa di Ranah Singkuang sekaligus menjadi sinyal awal bahwa Riau harus kembali bersiap menghadapi ancaman karhutla 2026. Ketika cuaca mulai mengering, kecepatan penanganan dan kesadaran masyarakat akan menjadi kunci agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana besar. (trp)
