PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Langkah para jemaah haji asal Kabupaten Siak, Riau akhirnya sampai di Padang Arafah. Setelah menempuh perjalanan dari Makkah di tengah cuaca panas Arab Saudi, ratusan jemaah kini bersiap menjalani wukuf, fase paling penting dalam ibadah haji.
Sebanyak 440 jemaah yang tergabung dalam Kloter BTH 12 tiba di Tenda Maktab 85 pada Senin (25/5/2026). Rombongan terdiri dari 226 perempuan dan 214 laki-laki.
Kehadiran mereka di Arafah menjadi momentum yang paling dinanti sejak keberangkatan dari Tanah Air. Sebab, wukuf merupakan inti dari seluruh rangkaian ibadah haji yang menentukan sah atau tidaknya pelaksanaan haji seseorang.
Petugas Haji Daerah Kabupaten Siak, dr. Atika Rifiani memastikan, kondisi umum jemaah masih cukup baik. Hingga keberangkatan menuju Arafah, tidak ada jemaah yang menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan haji Indonesia maupun rumah sakit Arab Saudi.
“Alhamdulillah, seluruh jemaah dalam kondisi stabil dan sudah berada di Arafah untuk menjalani puncak ibadah haji,” ujar Atika, Selasa (26/5/2026).
Sebelum memasuki fase Armuzna, petugas kesehatan telah memberikan pembekalan kepada jemaah. Edukasi itu meliputi pentingnya menjaga cairan tubuh, penggunaan masker dan pengurangan aktivitas berlebihan di bawah terik matahari.
Langkah tersebut dilakukan karena suhu di Arafah diperkirakan mencapai lebih dari 40 derajat Celsius pada siang hari. Kondisi itu menjadi tantangan besar, terutama bagi jemaah lanjut usia.
Perjalanan menuju Arafah dimulai sekitar pukul 11.30 waktu Arab Saudi ketika bus penjemput mulai tiba di hotel jemaah di Makkah. Sekitar satu jam kemudian, rombongan diberangkatkan secara bertahap.
Setelah tiba di Arafah, jemaah langsung diarahkan menuju tenda masing-masing. Mereka menerima makanan, buah-buahan, jus, air mineral serta perlengkapan logistik untuk kebutuhan selama berada di Arafah hingga Mina.
Memasuki malam hari, suasana ibadah mulai terasa lebih khusyuk. Jemaah mengisi waktu dengan salat berjamaah, zikir dan doa menjelang pelaksanaan wukuf.
Meski begitu, tantangan di lapangan tetap dirasakan para jemaah. Tim kesehatan mencatat keluhan terbanyak berupa batuk dan pilek ringan akibat perubahan cuaca dan kelelahan fisik.
Selain itu, seorang jemaah lanjut usia kategori risiko tinggi sempat mengalami demam tinggi menjelang malam. Petugas medis segera memberikan penanganan sehingga kondisinya kini dilaporkan membaik.
“Setelah mendapatkan penanganan, kondisi jemaah sudah stabil dan kembali mau makan,” kata Atika.
Kepadatan jemaah dari berbagai negara juga membuat fasilitas umum di kawasan Arafah bekerja ekstra. Antrean panjang terlihat di sejumlah toilet dan kamar mandi yang digunakan bersama antar kloter.
Pasokan air untuk mandi dan berwudhu sempat menjadi kendala. Beberapa jemaah harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan akses air bersih.
Situasi tersebut turut menjadi tantangan bagi jemaah disabilitas. Sebab, fasilitas toilet khusus pengguna kursi roda berada cukup jauh dari area tenda jemaah Siak.
Walau menghadapi berbagai keterbatasan, semangat ibadah para jemaah tetap tinggi. Banyak jemaah memilih memperbanyak doa dan ibadah di dalam tenda untuk menjaga kondisi tubuh tetap prima.
Bagi jemaah asal Siak, perjalanan haji tahun ini menyimpan makna mendalam. Sebagian besar telah menunggu antrean bertahun-tahun demi bisa menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
Fase Armuzna memang dikenal sebagai tahapan paling melelahkan dalam ibadah haji. Selain membutuhkan kekuatan fisik, jemaah juga harus mampu beradaptasi dengan cuaca ekstrem dan mobilitas tinggi.
Karena itu, petugas kesehatan terus mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri dan rutin mengonsumsi air mineral. Langkah sederhana itu dinilai penting untuk mencegah dehidrasi dan gangguan kesehatan lainnya.
Usai menjalani wukuf di Arafah, jemaah Siak akan melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah untuk mabit sebelum bergerak ke Mina guna melaksanakan lempar jumrah.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan cuaca yang menyengat, satu hal yang tetap terjaga adalah semangat para jemaah. Dari Padang Arafah, mereka membawa doa, harapan dan kerinduan pulang ke Tanah Air dengan predikat haji mabrur. (bsh)
