PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Paris Saint-Germain (PSG) akhirnya menuntaskan penantian panjang yang selama bertahun-tahun membayangi klub raksasa Prancis tersebut. Dalam laga final Liga Champions 2026 yang berlangsung penuh ketegangan di Puskas Arena, Hungaria, Sabtu (30/5/2026) waktu setempat, PSG sukses mengalahkan Arsenal melalui adu penalti dengan skor 4-3 setelah kedua tim bermain imbang 1-1 selama 120 menit.
Kemenangan ini bukan sekadar trofi. Bagi PSG, gelar Liga Champions menjadi simbol keberhasilan proyek besar yang dibangun selama lebih dari satu dekade. Setelah berkali-kali gagal di fase gugur dan final, klub asal Paris itu akhirnya mampu mengangkat trofi paling bergengsi di level klub Eropa.
Final berlangsung dengan tensi tinggi sejak menit awal. Arsenal tampil agresif dan langsung memberikan tekanan kepada pertahanan PSG. Hasilnya terlihat cepat ketika Kai Havertz membawa The Gunners unggul pada menit keenam.
Gol tersebut berawal dari situasi bola liar di area pertahanan PSG. Havertz yang bergerak cepat memanfaatkan celah sempit sebelum melepaskan tembakan yang mengejutkan kiper Matvei Safonov. Bola melambung melewati kepala penjaga gawang PSG dan bersarang di dalam gawang.
Keunggulan cepat Arsenal membuat pertandingan berjalan semakin menarik. PSG yang tidak ingin kehilangan momentum mulai meningkatkan intensitas serangan. Namun disiplin lini belakang Arsenal membuat sejumlah peluang tim asal Prancis itu gagal berbuah gol sepanjang babak pertama.
Memasuki babak kedua, PSG tampil lebih dominan dalam penguasaan bola. Tekanan yang terus dibangun akhirnya membuahkan hasil ketika Khvicha Kvaratskhelia dijatuhkan di dalam kotak penalti oleh Cristhian Mosquera.
Wasit tanpa ragu menunjuk titik putih. Ousmane Dembele yang dipercaya menjadi eksekutor menjalankan tugasnya dengan tenang. Penyerang tim nasional Prancis itu mengarahkan bola ke sisi kiri gawang sementara David Raya bergerak ke arah berlawanan.
Gol tersebut mengubah jalannya pertandingan. PSG semakin percaya diri, sedangkan Arsenal berusaha merespons melalui serangan balik cepat. Meski kedua tim menciptakan sejumlah peluang berbahaya, skor 1-1 tetap bertahan hingga waktu normal berakhir.
Pertandingan kemudian berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Mikel Arteta mencoba menambah energi baru dengan memasukkan Martin Zubimendi dan Eberechi Eze. Di kubu PSG, Warren Zaire-Emery diturunkan untuk menjaga keseimbangan permainan di lini tengah.
Salah satu momen paling kontroversial terjadi pada menit ke-102. Noni Madueke terjatuh di dalam kotak penalti setelah berduel dengan Nuno Mendes. Para pemain Arsenal langsung mengelilingi wasit Daniel Siebert dan meminta hadiah penalti.
Arteta yang berada di tepi lapangan juga terlihat melancarkan protes keras. Namun setelah mengamati situasi, wasit tetap bergeming dan memutuskan permainan dilanjutkan. Keputusan tersebut memicu perdebatan di kalangan pendukung kedua tim.
Pada babak kedua perpanjangan waktu, Arsenal terlihat memiliki energi lebih baik. Para pemain yang baru masuk beberapa kali menciptakan ancaman melalui pergerakan cepat dari sisi lapangan. Sementara PSG memilih bermain lebih hati-hati dan mengandalkan serangan balik.
Meski peluang terus bermunculan, tidak ada gol tambahan yang tercipta. Nasib gelar juara akhirnya harus ditentukan melalui adu penalti, sebuah skenario yang selalu menghadirkan tekanan luar biasa bagi para pemain.
PSG membuka adu penalti dengan sempurna. Goncalo Ramos sukses menjalankan tugas sebagai penendang pertama setelah mengecoh David Raya. Arsenal langsung membalas melalui Viktor Gyokeres yang juga menuntaskan eksekusinya dengan baik.
Momentum mulai berubah saat giliran penendang kedua. Desire Doue berhasil mencetak gol untuk PSG. Sebaliknya, Eberechi Eze gagal membawa Arsenal menyamakan kedudukan setelah tendangannya melenceng dari sasaran.
Keunggulan tersebut memberikan keuntungan psikologis bagi PSG. Achraf Hakimi kemudian memperbesar peluang timnya setelah kembali sukses menaklukkan Raya. Arsenal masih bertahan melalui Gabriel Martinelli yang mampu menjaga harapan tim London Utara tersebut.
Ketegangan mencapai puncaknya pada tendangan terakhir. Beraldo tampil tenang saat mengirim bola ke sudut gawang Arsenal. Tekanan kemudian berpindah ke Gabriel Magalhaes yang wajib mencetak gol agar Arsenal tetap hidup.
Namun momen yang ditunggu jutaan pendukung PSG akhirnya tiba. Tendangan Gabriel melambung tinggi di atas mistar gawang. Seketika para pemain PSG berlari ke lapangan merayakan kemenangan bersejarah yang telah lama mereka impikan.
Gelar Liga Champions 2026 menjadi catatan penting dalam sejarah PSG. Trofi ini sekaligus mengakhiri berbagai kritik yang selama bertahun-tahun menyebut klub tersebut gagal mengubah kekuatan finansial menjadi prestasi di panggung Eropa.
Di sisi lain, Arsenal kembali harus menelan kekecewaan setelah tampil impresif sepanjang kompetisi. Meski gagal mengangkat trofi, performa pasukan Mikel Arteta menunjukkan bahwa mereka kini menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Eropa.
Bagi PSG, malam di Budapest akan dikenang sebagai malam ketika mimpi besar akhirnya menjadi kenyataan. Setelah bertahun-tahun mengejar, trofi Liga Champions kini resmi menjadi bagian dari sejarah klub ibu kota Prancis tersebut. (cnn)
