Agen Sebagai Aktor Perubahan dengan Pendekatan Ekonomi Perilaku

oleh -0 views
Lamun Bathara. (Foto: Istimewa)

Oleh: Lamun Bathara”

Dewasa ini, berbagai hal dianggap penting untuk direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari, agar manusia dapat menjadi agen perubahan yang baik. Namun, pernahkah kita berfikir bahwa sebagai actor dalam kehidupan nyata, perubahan dengan metode pendekatan ekonomi perilaku adalah sesuatu hal yang dasar dan mejadi sangat penting untuk dapat dilakukan dan diketahui oleh manusia yang sejatinya berperan jadi aktor?

Pada dasarnya, pendekatan ekonomi perilaku terbagi atas tiga sub bidang. Namun setelah di analisis lebih dalam banyak sekali hal dari pendekatan ekonomi perilaku yang tentu sangat menarik untuk dikaji serta diteliti.

Seperti ekonomi tenaga kerja (Camerer et al. 1997), hukum dan ekonomi (Sunstein 2000), ekonomi keuangan (Schleifer 2000; Shiller 2000), dan ekonomi makro (Akerlof 2002). Sejauh ini, pertanyaan paling awal ketika mengaitkan sebuah perubahan dengan pendekatan ekonomi perilaku adalah bagaimana ekonomi tradisional dibangun karena hal tersebut cenderung memiliki dampak yang luas dan penting pada penelitian ilmu ekonomi.

Faktanya, ekonomi perilaku memiliki perbedaan yang signifikan dengan ekonomi tradisional. Perbedaan paling menonjol antara kedua aspek bahasan ini adalah terletak pada karakteristik dari ekonomi perilaku yang memperhitungkan lintasan tempat dan waktu.

Sementara karakteristik teori di bidang ekonomi tradisional memiliki pandangan statis tentang preferensi di mana dalam teori ekonomi tradisional jarang dipengaruhi secara langsung oleh apa yang terjadi sebelumnya atau apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Artinya ekonomi tradisonal kurang memperhatikan aspek perubahan pada hari ini, esok atau masa depan. Para ekonom perilaku telah mengakui bahwa lintasan konsumsi, tindakan dan sebagainya itu adalah unsur yang sangat penting.

Misalnya, ketika mempertimbangkan kemungkinan seseorang makan jeruk pada bulan tertentu, Analisis ekonomi tradisional bertumpu pada asumsi bahwa ada nilai implisit (atau eksplisit) yang ditempatkan pembuat keputusan pada konsumsi buah jeruk dan bahwa dia akan mendapatkan nilai ini dalam waktu satu bulan (yang dapat menyebabkan penilaiannya berkurang daripada nilai sebuah jeruk di masa sekarang, tetapi hanya karena konsumsi di masa depan selalu dinilai lebih rendah daripada di masa sekarang).

Dalam bidang ilmu ekonomi perilaku memperhatikan bahwa faktor-faktor lain mungkin membuat perbedaan. Secara khusus, pembuat keputusan mungkin mendapatkan kesenangan dari antisipasi menerima buah jeruk, atau mungkin peduli tentang apa yang mereka makan sebelum atau sesudah memakan jeruk, atau mungkin peduli jika dan kapan orang lain mendapatkan jeruk yang mereka punya.

Karena itu, perbedaan pendekatan tradisionalnya adalah bagaimana kita mencapai suatu tempat seringkali sama pentingnya dengan apa yang ada di sana.

Selanjutnya, mari kita bahas tentang agen sebagai aktor perubahan dengan menggunakan pendekatan ekonomi perilaku. Agen adalah suatu perusahaan perdagangan nasional yang bertindak sebagai perantara untuk dan atas nama prinsipal berdasarkan perjanjian agar melakukan pemasaran tanpa adanya pemindahan hak atas fisik barang dan/ jasa yang dimiliki/dikuasai oleh prinsipal yang telah memilihnya.

Sementara untuk ekonomi perilaku adalah kombinasi dari ilmu ekonomi dan ilmu sosial lainnya yang lebih mendeskripsikan tentang perilaku. Lebih tepatnya, ekonomi perilaku dihasilkan ketika para ahli ekonomi menggabungkan penelitian dan metode dari ekonomi dan ilmu sosial lainnya dengan tujuan meningkatkan nilai deskriptif teori ekonomi.

Hasilnya adalah bidang penelitian dalam ilmu sosial yang mengandalkan pendekatan teoretis dan metodologis ekonomi, tetapi dengan cermat mengamati perilaku aktual dan menggunakan hasil pengamatan tersebut untuk memodifikasi teori yang ada sehingga muncullah teori ekonomi perilaku.

Ciri dari terus menerusnya tindakan sehari-hari yang melibatkan tidak hanya perilaku individu namun juga perilaku dari orang-orang lainnya adalah monitoring refleksif aktivitas. Aktor tidak hanya mengharapkan orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan aktivitas apa yang dilakukannya sendiri dan senantiasa memperhatikan atau memonitor arus aktivitas orang lain.

Aspek lain baik fisik maupun sosial tempat bergeraknya sendiri juga rutin dimonitor. Untuk menjadi agen-agen sosial yang sesungguhnya, semua aktor sosial harus menjadi teoritisi sosial. Terdapat dua hal yang menjadi kontribusi khas dari fenomenologi.

  1. Kegiatan berteori terus menerus dilibatkan dalam beroperasinya kehidupan sosial.
  2. Bahkan perhatian refleksif yang terus menerus dan mendetail sekalipun turut dilibatkan dalam norma-norma yang paling mapan atau kebiasaan-kebiasaan yang paling bertahan lama.

Semua rutinitas merupakan pencapaian yang memiliki potensi tinggi untuk hancur dan selalu tidak dapat dipastikan, namun hal tersebut merupakan elemen yang paling penting dalam kehidupan sosial (Giddens 2009).

Gagasan Freud mengenai tiga dimensi internal manusia (ego, dan super- ego) menjadi dasar Giddens dalam mengajukan model susukan pelaku tindakan. Mengacu pada tiga dimensi internal manusia yang digagas oleh Freud tersebut, Giddens mengolahnya menjadi tiga unsur dalam diri manusia, yakni kesadaran diskursif (discursive consciousness), motivasi tak sadar (unconscious motive), dan kesadaran praktis (practical consciousness) (Giddens 2010).

Kapasitas seseorang dalam merefleksi dan memberi penjelasan atas tindakan yang dilakukannya menjadi acuan dari kesadaran diskursif. Apabila seseorang ditanya mengapa ia melakukan tindakan tersebut, maka seseorang tersebut akan menjawab dengan skema aturan tertentu penjelasan berdasarkan tindakan yang kita lakukan secara sadar.

Keinginan pelaku yang merupakan potensi tindakan menjadi acuan dari motivasi tak sadar, namun tindakan tersebut tidaklah sendiri. Hal tersebut menjadi penyebab motivasi yang sadar jarang menggerakkan tindakan seseorang secara langsung.

Adapun kawasan diri pelaku yang berisi berbagai pengetahuan praktis dan tidak selalu dapat diuraikan secara eksplisit adalah kesadaran praktis. Level hidup yang merupakan kawasan insting hidup yang sangat jarang kita pertanyakan lagi dan berisi tentang pengetahuan yang diandaikan berada dalam kawasan kesadaran praktis.

Sebagai contoh, seseorang hampir tidak pernah menanyakan tentang mengapa seseorang seseorang menangis waktu sedih, mengapa seseorang tertawa saat senang dan lain sebagainya (Wirawan 2012).

Hanya berdasarkan maksud-maksud tertentu agensi manusia dapat ditetapkan. Siapa saja yang melakukan sebuah perilaku harus memiliki maksud dalam melakukan tindakan tersebut, tujuannya agar sebuah perilaku bisa dianggap sebagai tindakan. Apabila tidak, maka perilaku itu hanyalah sekedar respons reaktif semata (Giddens 2010).

Sedangkan struktur, diartikan oleh Giddens sebagai sebuah aturan atau sumber daya, dalam konsepsi teori strukturasi oleh Giddens, pengesahan status penghayat kepercayaan yang dapat dipahami legitimasi sebagai salah satu dimensi struktur.

Peraturan tersebut menjadi media terjadinya praktik sosial sebagai agen dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan tidak hanya menjadi aturan tertulis. (*)

  • Penulis adalah Mahasiswa S3 Program Pascasarjana Ilmu Kelautan Universitas Riau