Oleh: Putri Nurdiani*
Generasi Z adalah kelompok generasi yang lahir pada rentang akhir 1990-an hingga awal 2010-an. Mereka tumbuh dan berkembang dalam era digital yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi, media sosial dan globalisasi yang masif.
Kondisi tersebut membentuk karakter Generasi Z yang kreatif, adaptif dan terbuka terhadap perubahan. Namun, di balik potensi kreativitas yang besar, Generasi Z juga dihadapkan pada tantangan serius berupa krisis identitas.
Fenomena ini menarik untuk dikaji, karena berpengaruh langsung terhadap perkembangan psikologis, sosial, dan kultural generasi tersebut.
Salah satu ciri utama Generasi Z adalah kreativitas yang tinggi. Akses luas terhadap teknologi digital memungkinkan mereka mengekspresikan ide dan gagasan melalui berbagai platform, seperti media sosial, video pendek, desain grafis, musik hingga kewirausahaan digital.
Kreativitas tidak lagi terbatas pada ruang formal, melainkan tumbuh secara organik melalui interaksi virtual dan komunitas daring. Hal ini menjadikan Generasi Z sebagai agen perubahan yang mampu menciptakan tren baru serta solusi inovatif dalam berbagai bidang.
Namun, kreativitas yang berkembang pesat ini sering kali berjalan beriringan dengan krisis identitas. Paparan informasi yang berlebihan, standar kesuksesan yang ditampilkan media sosial, serta tuntutan untuk selalu relevan membuat Generasi Z rentan mengalami kebingungan dalam menentukan jati diri.
Mereka kerap membandingkan diri dengan orang lain, sehingga muncul tekanan psikologis untuk memenuhi ekspektasi sosial yang tidak realistis. Akibatnya, kepercayaan diri dan stabilitas emosional dapat terganggu.
Selain itu, identitas Generasi Z juga dipengaruhi oleh budaya global yang masuk tanpa batas. Nilai-nilai lokal dan tradisional sering kali bersaing dengan nilai global yang dianggap lebih modern dan populer.
Ketika proses internalisasi nilai tidak diiringi dengan pendampingan yang memadai dari keluarga, pendidikan dan lingkungan sosial, Generasi Z berpotensi kehilangan pijakan identitasnya.
Mereka mungkin kreatif dalam berkarya, tetapi rapuh dalam memahami siapa diri mereka sebenarnya dan nilai apa yang ingin mereka pegang.
Peran lingkungan sangat menentukan dalam menjembatani kreativitas dan krisis identitas ini. Pendidikan yang menekankan penguatan karakter, literasi digital dan kesehatan mental menjadi kebutuhan mendesak.
Kreativitas seharusnya diarahkan tidak hanya untuk pencapaian personal, tetapi juga untuk pengembangan makna diri dan kontribusi sosial. Dengan demikian, Generasi Z dapat tumbuh sebagai individu yang tidak hanya inovatif, tetapi juga memiliki identitas yang kuat dan seimbang.
Kreativitas Generasi Z juga sering berada dalam dilema antara keaslian dan validasi. Dorongan untuk mendapatkan pengakuan berupa “likes”, komentar dan jumlah pengikut dapat memengaruhi arah kreativitas.
Karya yang dihasilkan tidak selalu lahir dari refleksi diri yang mendalam, melainkan dari keinginan untuk mengikuti tren yang sedang populer. Kondisi ini berpotensi mengikis makna kreativitas sebagai proses eksplorasi identitas dan justru memperkuat krisis identitas itu sendiri.
Individu menjadi sulit membedakan mana ekspresi diri yang autentik dan mana yang sekadar respons terhadap tekanan sosial.
Di sisi lain, krisis identitas yang dialami Generasi Z tidak selalu berdampak negatif. Dalam beberapa kasus, kegelisahan terhadap jati diri justru mendorong pencarian makna hidup yang lebih mendalam.
Banyak anggota Generasi Z yang mulai kritis terhadap isu kesehatan mental, keadilan sosial, dan keberagaman identitas. Kesadaran ini melahirkan ruang diskusi yang lebih terbuka dan inklusif serta mendorong kreativitas yang bersifat reflektif dan berorientasi pada nilai.
Dengan demikian, krisis identitas dapat menjadi pemicu lahirnya kreativitas yang lebih bermakna dan bertanggung jawab.
Fenomena Generasi Z antara kreativitas dan krisis identitas menunjukkan adanya hubungan yang kompleks dan saling memengaruhi. Kreativitas dapat menjadi sarana pembentukan identitas, tetapi juga dapat memperdalam kebingungan apabila tidak disertai kesadaran diri yang kuat.
Karena itu, diperlukan dukungan lingkungan, baik keluarga, pendidikan, maupun masyarakat, untuk membantu Generasi Z mengembangkan kreativitas secara sehat.
Pendampingan yang menekankan nilai autentisitas, refleksi diri, dan literasi digital menjadi kunci agar kreativitas tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga memperkuat identitas diri Generasi Z di tengah dinamika zaman.”
Kesimpulannya, fenomena Generasi Z menunjukkan adanya dua sisi yang saling berkaitan, yaitu kreativitas yang luar biasa dan potensi krisis identitas. Kreativitas merupakan modal penting bagi kemajuan masyarakat, namun tanpa penguatan identitas, kreativitas dapat kehilangan arah.
Karena itu, diperlukan peran bersama antara keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk membimbing Generasi Z agar mampu mengenali jati dirinya secara utuh.
Dengan identitas yang kuat, Generasi Z tidak hanya menjadi generasi kreatif, tetapi juga generasi yang tangguh dan berkarakter. (*)
* Penulis adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam PIQ Sumatera Barat
