Banjir Sumatera, Tinjauan Sosial dan Lingkungan

Oleh: Marfu’ah*

Bencana banjir yang terjadi di Sumatera tengah viral di media sosial. Banjir yang terjadi berulang, mendapat perhatian dari berbagai kalangan pengguna media sosial.

Ini menunjukkan bahwa peristiwa itu bukan sekadar bencana alam, melainkan persoalan kompleks yang melibatkan faktor lingkungan, sosial dan aktivitas manusia.

Satu sisi, tingginya curah hujan, kondisi geografis, alih fungsi lahan dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan menjadi faktor utama penyebab banjir.

Di sisi lain, peran media sosial terbukti mampu membentuk opini publik dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap bencana banjir. Berbagai rekaman video, foto dan laporan tersebar di media sosial memperlihatkan kondisi permukiman warga yang terendam air, aktivitas masyarakat yang lumpuh dan upaya evakuasi yang dilakukan aparat serta relawan.

Banjir Sebagai Fenomena Berulang
Banjir merupakan salah satu bencana alam yang kerap terjadi di berbagai wilayah. Di Sumatra Barat misalnya, sejak beberapa waktu lalu sering mengalami banjir bandang akibat luapan sungai, terutama di daerah yang berada di sepanjang aliran sungai dan wilayah dataran rendah.

Kondisi geografis yang didominasi perbukitan serta curah hujan yang tinggi menjadi faktor alam yang berkontribusi terhadap terjadinya banjir.

Namun demikian, faktor manusia juga memiliki peran yang signifikan. Alih fungsi lahan, pembukaan hutan secara tidak terkendali serta aktivitas pertambangan dan pembangunan yang kurang memperhatikan aspek lingkungan menyebabkan berkurangnya daerah resapan air.

Selain itu, sistem drainase yang belum memadai dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai turut memperparah dampak banjir.

Fakta bahwa banjir di Sumatra terus berulang dan kembali viral menunjukkan bahwa permasalahan ini belum ditangani secara efektif dan berkelanjutan.

Peran Media Sosial dalam Penyebaran Informasi
Media sosial memiliki peran yang sangat besar dalam menyebarkan informasi mengenai banjir yang terjadi di berbagai wilayah Sumatra. Melalui platform seperti Instagram, Facebook dan TikTok, masyarakat dapat mengetahui kondisi banjir secara cepat dan visual.

Informasi yang tersebar luas ini menjadikan banjir sebagai peristiwa yang viral dan mendapat perhatian nasional.

Satu sisi, media sosial berperan positif dalam meningkatkan kepedulian masyarakat, mempercepat penyaluran bantuan, serta mendorong respon dari pihak berwenang.

Sisi lain, media sosial juga berpotensi menjadi sarana penyebaran informasi yang tidak akurat apabila tidak disertai dengan sikap kritis. Karena itu, masyarakat dituntut untuk menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.

Dampak Sosial dan Ekonomi
Banjir yang terjadi di berbagai wilayah Sumatra memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Di Sumatra Barat misalnya, banjir menyebabkan terganggunya aktivitas pendidikan karena sejumlah sekolah terpaksa diliburkan.

Selain itu, akses transportasi antarwilayah terhambat akibat jalan yang terendam atau rusak.

Dari sisi ekonomi, banjir mengakibatkan kerugian materi bagi masyarakat, terutama petani dan pelaku usaha kecil. Lahan pertanian yang terendam air, kerusakan rumah, serta hilangnya mata pencaharian sementara menjadi persoalan yang harus dihadapi masyarakat terdampak.

Selain kerugian materi, banjir juga menimbulkan dampak psikologis, seperti rasa cemas dan trauma, terutama bagi masyarakat yang setiap tahun harus menghadapi bencana serupa.

Upaya Pencegahan dan Kesadaran Lingkungan Peristiwa banjir yang viral seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga lingkungan. Upaya pencegahan banjir tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.

Penataan tata ruang yang baik, pelestarian hutan, perbaikan sistem drainase dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan merupakan langkah-langkah penting yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Kesimpulannya, fenomena banjir yang viral di media sosial di berbagai wilayah Sumatra mencerminkan permasalahan lingkungan dan sosial yang masih menjadi tantangan serius.

Banjir tidak dapat dipandang semata-mata sebagai bencana alam, melainkan sebagai dampak dari interaksi antara faktor alam dan aktivitas manusia yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan.

Maka itu, viralitas peristiwa banjir seharusnya tidak hanya berhenti pada simpati sesaat, tetapi juga mendorong lahirnya kesadaran kritis serta tindakan nyata pemerintah, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan.

Melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan peningkatan kesadaran kolektif, diharapkan dampak banjir di wilayah Sumatra dapat diminimalkan demi keberlangsungan hidup masyarakat yang lebih baik. (*)

* Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam PIQ Sumatera Barat

Exit mobile version