Ketika Anak Lebih Pintar Berdebat Ketimbang Beradab

Oleh: Iin Harahap*

Kemajuan teknologi dan perubahan sosial telah membawa pengaruh besar terhadap kehidupan anak-anak di zaman sekarang. Era digital menghadirkan kebebasan berekspresi, keterbukaan informasi dan kemudahan berkomunikasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Anak-anak tumbuh di tengah lingkungan yang mendorong keberanian berbicara, kemampuan menyampaikan pendapat dan kecakapan berargumen. Kondisi ini pada dasarnya merupakan potensi positif patut diapresiasi.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan berargumentasi tersebut sering kali tidak disertai dengan adab dan etika yang baik. Banyak anak mampu menyampaikan pendapat dengan lantang, tetapi kurang mampu menghormati orang lain dalam prosesnya.

Sikap membantah orang tua, meremehkan guru, serta menggunakan bahasa yang tidak santun menjadi fenomena yang semakin sering dijumpai.

Ketika anak lebih pintar berdebat daripada beradab, hal ini menandakan adanya ketimpangan dalam proses pembentukan karakter yang perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Kini, keberadaan media sosial dan berbagai platform digital telah membentuk budaya komunikasi baru. Perdebatan terbuka, adu argumen dan komentar bernada tajam kerap menjadi tontonan sehari-hari.

Anak yang masih berada pada tahap perkembangan moral cenderung meniru pola komunikasi tersebut tanpa memahami batasan etika. Mereka belajar bahwa keberanian menyanggah dan memenangkan perdebatan dianggap sebagai bentuk kecerdasan dan kekuatan berpikir, meskipun harus mengorbankan kesopanan dan rasa hormat.

Dalam masyarakat modern, kecerdasan sering kali diukur dari kemampuan intelektual semata, seperti kepandaian berbicara, berlogika, dan mempertahankan pendapat.

Anak yang kritis dan berani membantah sering dipuji sebagai anak yang cerdas. Padahal, kecerdasan sejati mencakup aspek yang lebih luas, termasuk kecerdasan emosional dan moral.

Anak yang mampu mengendalikan emosi, menghargai pendapat orang lain dan menjaga adab dalam berbicara menunjukkan tingkat kedewasaan yang lebih tinggi dibandingkan anak yang hanya unggul dalam berdebat.

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan karakter anak. Melalui keluarga, anak belajar cara berbicara, bersikap dan menghormati orang lain.

Namun, kesibukan orang tua serta dominasi penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari menyebabkan interaksi dan keteladanan semakin berkurang. Anak lebih banyak belajar dari konten digital dibandingkan dari contoh nyata yang diberikan orang tua.

Ketika adab tidak diajarkan secara konsisten, anak kehilangan pedoman dalam menyampaikan pendapat secara santun.

Sekolah memiliki peran strategis dalam menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan pembentukan karakter. Sayangnya, sistem pendidikan saat ini masih lebih menekankan pencapaian akademik dan kemampuan berpikir kritis.

Pendidikan adab dan karakter sering kali hanya disampaikan secara teoritis, tanpa penerapan yang konsisten dalam kehidupan sekolah. Akibatnya, anak tumbuh menjadi pribadi yang berani berbicara, tetapi kurang mampu menghargai otoritas, norma, dan perbedaan pendapat.

Hilangnya adab pada anak membawa dampak yang luas dalam kehidupan sosial. Meningkatnya sikap egois, menurunnya empati, serta melemahnya rasa hormat terhadap orang lain menjadi gejala yang semakin nyata.

Anak mudah tersulut emosi ketika pendapatnya tidak diterima dan cenderung merasa paling benar. Jika kondisi ini terus berlanjut, masyarakat akan menghadapi generasi yang unggul secara intelektual, tetapi rapuh secara moral dan emosional.

Kemampuan berdebat dan berpikir kritis sebenarnya merupakan keterampilan penting di era modern. Namun, kemampuan tersebut harus diiringi dengan adab. Anak perlu diajarkan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, tetapi harus disampaikan dengan sikap hormat dan bahasa yang santun.

Mengajarkan anak untuk mendengarkan, memahami sudut pandang orang lain, serta mengendalikan emosi merupakan langkah penting dalam membentuk kecerdasan yang utuh.

Menumbuhkan kembali adab anak bukan hanya tanggung jawab keluarga atau sekolah semata, melainkan tanggung jawab bersama. Orang tua harus menjadi teladan dalam bertutur kata dan bersikap. Sekolah perlu mengintegrasikan pendidikan karakter secara nyata dalam setiap aktivitas pembelajaran.

Masyarakat juga harus menciptakan lingkungan yang menjunjung tinggi nilai sopan santun dan saling menghormati.

Kesimpulannya, fenomena ketika anak lebih pintar berdebat daripada beradab merupakan refleksi dari ketidakseimbangan antara kecerdasan intelektual dan pembentukan moral.

Kemajuan zaman seharusnya tidak menghilangkan nilai-nilai dasar dalam kehidupan sosial.

Dengan menjadikan adab sebagai fondasi utama pendidikan, serta memperkuat peran keluarga, sekolah dan masyarakat, anak dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kritis dan tetap menjunjung tinggi nilai kesantunan. Hanya dengan keseimbangan tersebut, kemajuan intelektual dapat berjalan seiring dengan kematangan moral dalam kehidupan bermasyarakat. (*)

* Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam PIQ Sumatera Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *