LIMAPULUH KOTA, FOKUSRIAU.COM-Masyarakat Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Minggu (4/1/2026) dikejutkan dengan kemunculan lubang besar atau sinkhole secara mendadak di area persawahan.
Sinkhole adalah lubang atau depresi di permukaan tanah yang terbentuk akibat runtuhnya lapisan bawah tanah. Di Sumatera Barat, lubang tersebut memiliki kedalaman sekitar 15 meter dan kini mulai terisi air.
Kepala Jorong Tepi, Salim mengatakan, kemunculan sinkhole diawali dengan suara gemuruh yang cukup keras dan mengundang perhatian warga sekitar.
“Terdengar suara gemuruh, atau seperti benda jatuh ke air yang sangat besar. Nah pas dilihat sumber suara ternyata ada lubang di tengah sawah,” kata Salim.
Setelah bunyi gemuruh terdengar, reruntuhan tanah mulai terbentuk sehingga membentuk lubang dengan ukuran yang besar. Untungnya, tidak ada korban dalam kejadian tersebut. Berkaca dari kasus tersebut, akankah sinkhole muncul di wilayah lainnya?
Penyelidik Bumi Utama PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Supartoyo mengatakan, sinkhole yang muncul di Sumatera Barat terjadi di wilayah batu gamping.
“Secara geologi, daerah tersebut tersusun batuan rombakan Gunung Api dan batu gamping,” ucapnya, Selasa (6/1/2026).
Dikatakan, fenomena sinkhole biasanya memang terbentuk di wilayah batu gamping. Adapun kasus yang terjadi di Sumatera Barat, sinkhole tiba-tiba terisi air.
Supartoyo menduga, fenomena itu terjadi karena adanya aliran air di bawah tanah tersebut.
Senada, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari menyampaikan, wilayah batu gamping memang berisiko mengalami sinkhole.
Hal ini karena kawasan tersebut memiliki rongga-rongga. “Batu gamping itu memang ciri-cirinya pasti memiliki rongga,” ucapnya.
Biasanya, batu gamping muncul di permukaan tanah. Namun, di daerah-daerah tertentu seperti di Sumatera Barat, kawasan batu gamping tidak muncul ke permukaan.
“Kawasan batu gamping berada di bawah permukaan tanah. Jadi, dia istilahnya tertutupi lapisan tanah,” ulas Adrin.
Akibatnya, tanah yang berada di atas lapisan batu gamping tersebut tidak memiliki penopang sehingga rawan ambles dan membentuk sinkhole. Menurut Adrin, kemunculan sinkhole dipicu karena hujan deras.
“Ketika ada air hujan yang sangat lebat, tanah itu jadi lemah karena di bawahnya tidak ada penopang. Akhirnya tanah ambles ke dalam lubang yang ada di dalam rongga batu gamping. Nah, itu yang kita sebut dengan sinkhole,” terangnya.
Sederhananya, sinkhole berpotensi muncul di kawasan batu gamping karena tanah yang ambles. Selain di Sumatera Barat, sinkhole juga berpotensi terbentuk di wilayah Sumba.
Sinkhole bisa dipetakan
Menurut Adrin, lubang besar sinkhole bervariasi. Ukurannya tergantung pada diameter rongga batu gamping di bawahnya.
“Semakin besar rongganya, maka sinkhole yang terbentuk akan semakin lebar juga, dan semakin dalam,” ucapnya.
Sebaliknya, jika diameter rongga batu gamping di bawah tanah kecil, sinkhole yang terbentuk juga kecil.
Adrin menegaskan, wilayah-wilayah yang berpotensi muncul sinkhole sebenarnya bisa dipetakan untuk keperluan mitigasi bencana agar tidak memakan korban.
“Bisa. Kalau misalnya batu gampingnya itu ada di bawah permukaan tanah ya kita harus melakukan survei. Jadi kita menggunakan metode geofisika, itu ada beberapa metode,” ucapnya.
Diterangkan, metode geofisika yang digunakan di antaranya adalah metode geologi listrik, metode georadar, dan metode gaya berat. Melalui metode tersebut, rongga-rongga batu gamping di bawah tanah dan dimensinya bisa diketahui sebarannya.
Dari survei itulah, potensi kemunculan sinkhole bisa diketahui. Sinkhole di Indonesia belum dipetakan Setelah melalui survei dan pemetaan, kemunculan sinkhole dapat diatasi.
Menurut Adrin, jika dimensi dari rongga batu gamping yang terbentuk kecil, maka mitigasi yang dilakukan adalah dengan menutup lubang-lubang tersebut.
“Kalau ukurannya kecil-kecil, misalnya masih setengah meter, itu bisa ditutup dengan semen. (Caranya) diinjeksi semen ke rongga-rongga itu sampai rongga tertutup,” terangnya.
Adapun material semen yang digunakan adalah semen yang memadat. Sehingga ketika diinjeksi bisa langsung padat memenuhi rongga-rongga. Sebaliknya, jika rongga batu gamping berukuran lebih dari 1 meter atau mencapai 10 meter, Adrin mengungkapkan, cukup sulit untuk menutupnya.
Sebab, lubang besar itu ukurannya sudah serupa goa. “(Biasanya), rongga-rongga yang besar itu wilayahnya akan dinyatakan berbahaya dan menjadi daerah yang berisiko sehingga tidak layak menjadi tempat tinggal atau perumahan warga,” tuturnya.
Sayangnya, tidak semua wilayah di Indonesia sudah dilakukan pemetaan potensi sinkhole. Padahal, pemetaan diperlukan lantaran sebuah wilayah bisa saja mengalami lebih dari satu sinkhole.
“Saya pikir belum (dipetakan seluruhnya). Belum ya. Sebaran batu gampingnya mungkin sudah. Tapi kalau terkait dengan adanya rongga, kemudian potensi sinkhole itu, saya pikir belum belum ada peta yang menyajikan informasi itu,” ulas Adrin.
Apa yang harus dilakukan jika sinkhole terbentuk? Jika sebuah kawasan terbentuk sinkhole yang berukuran besar, Adrin mengimbau supaya kawasan tersebut dipagari demi keamanan warga.
Pastikan warga tidak melakukan aktivitas apapun di kawasan tersebut. “Kalau sudah seperti itu, wilayah itu menjadi daerah yang dipagarkan saja, menurut saya. Tapi tetap harus ada pengamanan gitu,” ungkapnya.
Penimbunan sinkhole, menurut Adrin tidak terlalu efektif karena ukuran diameternya yang besar sehingga membutuhkan material semen padat yang banyak, bahkan bisa sampai berton-ton. “Kalau ditimbun pun akan tidak bisa menjadi aman juga,” tukasnya. (bsh)
Sumber: Kompas.com




