PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Sepanjang 2025, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mencatat 28 kejadian konflik yang melibatkan manusia dan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).
Kejadian terbaru tahun 2026 di Kabupaten Siak dengan penampakan harimau di kawasan taman Zamrud.
Selama ini, konflik yang terjadi berupa penampakan harimau di sekitar permukiman, kebun masyarakat hingga interaksi negatif yang membahayakan keselamatan manusia maupun satwa dilindungi itu.
Kepala BBKSDA Riau, Supartono menyebut, Riau merupakan salah satu wilayah penting habitat Harimau Sumatera.
“Habitat harimau di Riau tersebar di beberapa lokasi dan hampir terdapat di seluruh kabupaten, kecuali Kabupaten Kepulauan Meranti yang tidak memiliki habitat alami harimau,” kata Supartono.
Dikatakan, kondisi habitat Harimau Sumatera di Riau saat ini sebagian telah mengalami fragmentasi. Aktivitas manusia seperti pembukaan lahan, perkebunan dan permukiman menyebabkan terputusnya kawasan hutan.
Sehingga ruang jelajah harimau semakin menyempit dan meningkatkan potensi konflik dengan manusia.
“Ketika habitat terfragmentasi dan tekanan aktivitas manusia meningkat, harimau akan keluar dari kawasan hutan untuk mencari mangsa. Kondisi inilah yang kemudian memicu terjadinya konflik,” urainya.
Dalam upaya menekan konflik, BBKSDA Riau sudah melakukan berbagai langkah mitigasi di lapangan.
Salah satunya melalui tindakan langsung berupa penggiringan harimau kembali ke habitatnya maupun penangkapan untuk kepentingan rehabilitasi, terutama jika satwa dinilai berpotensi membahayakan keselamatan manusia.
Selain itu, BBKSDA Riau juga intens melakukan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya di wilayah rawan konflik.
“Sosialisasi bertujuan meningkatkan kewaspadaan warga sekaligus mendorong penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam beraktivitas di sekitar habitat harimau, guna meminimalkan risiko interaksi negatif,” tuturnya.
Upaya lain adalah meningkatkan ketersediaan satwa mangsa bagi Harimau Sumatera. Kata Supartono, ini dilakukan melalui pelepasliaran satwa mangsa ke dalam habitat harimau agar kebutuhan pakan tercukupi dan harimau tidak terdorong keluar kawasan hutan.
BBKSDA Riau juga mendorong keterlibatan berbagai pihak dengan membentuk tim mitigasi konflik dan melakukan pemasangan rambu-rambu peringatan bahaya konflik satwa liar di lokasi rawan.
“Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu menekan angka konflik sekaligus menjaga kelestarian Harimau Sumatera di Riau,” tukasnya. (trp/bsh)
