Harga Emas Anjlok Sejak Perang Iran, Meskipun Trump Tunda Serangan

Ilustrasi. Harga emas dunia anjlok, meski Trump menunda serangan ke Iran. (Foto: canva)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Harga emas sempat meredakan penurunan tajam, Senin (23/3/2026) setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap infrastruktur Iran.

Meski demikian, tekanan terhadap harga emas belum berakhir, dengan logam mulia ini masih mengalami penurunan untuk sembilan hari berturut-turut.

Faktor utama yang memengaruhi hal ini adalah ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, yang membuat daya tarik emas semakin menurun.

Berdasarkan data Reuters, harga emas spot turun 1,8% menjadi US$4.407,06 per ons pada pukul 13:30 waktu New York, setelah sebelumnya mengalami penurunan lebih dari 8% dalam satu sesi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 3,7% di level US$4.407,30.

Pernyataan Trump Mengguncang Pasar
Menurut analis High Ridge Futures, David Meger, tekanan besar pada harga emas sebelumnya disebabkan aksi jual besar-besaran oleh investor.

Aksi ini terutama dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga yang menjadikan emas, yang tidak memberikan imbal hasil, semakin tidak menarik bagi para investor.

Namun, pembalikan arah harga emas terjadi setelah pernyataan Presiden Trump di platform media sosial Truth Social.

Ia menyatakan, AS akan menunda selama lima hari serangan terhadap pembangkit listrik Iran, membuka ruang untuk pembicaraan damai. Dampak dari pernyataan ini tidak hanya terasa di pasar emas, tetapi juga merambah ke pasar energi dan saham.

Meger memperingatkan bahwa volatilitas pasar kemungkinan masih akan terus berlanjut, mengingat ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.

Emas Tidak Lagi Jadi Aset Lindung Nilai
Secara tradisional, emas dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) saat terjadi inflasi tinggi atau ketidakpastian global. Namun, kondisi saat ini menunjukkan kontradiksi.

Meskipun ketegangan geopolitik meningkat akibat konflik Iran, kenaikan harga energi justru meningkatkan ekspektasi suku bunga tetap tinggi lebih lama, yang pada gilirannya menambah “biaya peluang” untuk memegang emas.

Dengan suku bunga yang lebih tinggi, investor lebih cenderung beralih ke instrumen lain yang menawarkan imbal hasil lebih menarik, seperti obligasi atau saham, yang membuat harga emas kesulitan untuk kembali naik.

Dampak Konflik Iran terhadap Pasar
Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap Iran setelah ketegangan meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Walaupun hal ini membuka peluang untuk pembicaraan damai, pernyataan tersebut mendapat tanggapan keras dari Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf yang membantah adanya negosiasi.

Meski demikian, keputusan Trump untuk menunda serangan langsung berdampak besar ke pasar global. Harga minyak langsung anjlok, sementara dolar AS melemah.

Biasanya, dolar yang lebih lemah membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain, yang seharusnya meningkatkan permintaan terhadap logam mulia ini.

Penurunan Harga Emas Lebih Dari 15%
Sejak konflik Timur Tengah memanas pada 28 Februari 2026, harga emas telah turun lebih dari 15%. Harga emas sempat menyentuh level tertinggi di US$5.594,82 per ons pada 29 Januari 2026, namun kini harga emas telah terkoreksi hampir 20%.

Sementara itu, pergerakan harga logam lainnya mencatatkan fluktuasi yang berbeda. Harga perak naik 2,5% ke US$69,47, sementara harga platinum turun 2,7% ke US$1.868,95. Palladium juga mengalami kenaikan 1,7%, mencapai harga US$1.426,77 per ons.

Produksi palladium terbesar dunia, Nornickel, mengungkapkan bahwa permintaan dari industri fiberglass di China berpotensi mencapai 0,8 juta ons per tahun dalam jangka menengah, memberikan prospek positif bagi logam ini. (bsh)

sumber: kontan.co.id

Exit mobile version