PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Model bisnis smartphone murah dengan spesifikasi tinggi yang selama ini menjadi andalan produsen China, mulai kehilangan pijakan. Tekanan biaya produksi dan gangguan rantai pasok global membuat harga ponsel diperkirakan akan terus merangkak naik dalam waktu dekat.
Selama lebih dari satu dekade, vendor asal China mendominasi pasar dengan strategi “harga miring, fitur melimpah”. Namun kini, formula tersebut menghadapi tantangan serius. Lonjakan harga komponen utama, khususnya chip memori, menjadi pemicu utama perubahan drastis ini.
Kenaikan harga tersebut tidak lepas dari meningkatnya kebutuhan industri kecerdasan buatan (AI). Permintaan besar terhadap chip memori berkecepatan tinggi untuk pusat data membuat produsen semikonduktor mengalihkan fokus produksi mereka.
Akibatnya, pasokan memori untuk perangkat konsumen seperti smartphone dan laptop semakin terbatas.
Sejumlah laporan industri menunjukkan bahwa harga DRAM sebagai komponen penting dalam RAM melonjak drastis hingga mendekati dua kali lipat dalam waktu singkat. Sementara memori NAND yang digunakan untuk penyimpanan internal juga mengalami kenaikan signifikan. Kondisi ini berdampak langsung pada biaya produksi perangkat.
Situasi ini mulai terlihat saat ajang Mobile World Congress (MWC) di Barcelona, awal Maret lalu. Sejumlah produsen tampak belum berani memastikan harga final produk mereka.
Dalam kondisi normal, harga sudah ditentukan jauh sebelum peluncuran. Namun kali ini, ketidakpastian biaya komponen membuat strategi harga menjadi lebih fleksibel.
Beberapa vendor bahkan mulai menaikkan harga produk terbaru mereka. Kenaikan ini dilakukan untuk menutup biaya produksi yang terus membengkak. Dalam beberapa kasus, harga ponsel kelas menengah meningkat hingga sekitar 20 persen dibanding generasi sebelumnya.
Tekanan semakin berat bagi produsen skala kecil dan menengah. Berbeda dengan perusahaan besar yang memiliki kontrak jangka panjang, mereka harus membeli komponen dengan harga fluktuatif. Bahkan, harga chip memori dilaporkan bisa berubah dalam hitungan jam, membuat perencanaan produksi menjadi semakin sulit.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik turut memperparah kondisi. Pembatasan ekspor dan intervensi pemerintah dalam industri semikonduktor global memicu ketidakpastian tambahan. Rantai pasok yang sebelumnya stabil kini menjadi lebih rapuh dan terfragmentasi.
Dampaknya mulai terasa di lapangan. Beberapa produsen kecil dilaporkan menghentikan pengembangan produk baru dan menarik perangkat mereka dari pasar. Ini menjadi sinyal bahwa tekanan industri tidak hanya bersifat sementara, melainkan mengarah pada perubahan struktural.
Lembaga riset industri menyebut kondisi ini sebagai fase “reset struktural”, di mana pola bisnis lama tidak lagi relevan. Artinya, era smartphone murah yang selama ini menjadi tulang punggung penetrasi internet global bisa segera berakhir.
Jika tren ini berlanjut, konsumen kemungkinan harus bersiap menghadapi harga ponsel yang semakin tinggi, bahkan untuk segmen entry-level sekalipun. Sementara itu, produsen dituntut untuk beradaptasi dengan strategi baru agar tetap bertahan di tengah tekanan pasar yang semakin kompleks. (kpc/bsh)
