PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Riau masih mendominasi sebaran titik panas (hotspot) di Sumatera. Berdasarkan pemutakhiran data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Selasa (7/4/2026), dari total 65 hotspot yang terpantau, sebanyak 46 titik berada di wilayah Riau.
Informasi tersebut disampaikan Forecaster On Duty BMKG Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Yasir P. Ia menjelaskan, meskipun jumlah hotspot mengalami penurunan dibanding hari sebelumnya, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum sepenuhnya hilang.
“Penurunan ini memang terjadi, namun kondisi di lapangan tetap harus diwaspadai karena risiko karhutla masih ada,” ujarnya.
Dari pemantauan terbaru, sebaran hotspot di Riau hampir sepenuhnya terkonsentrasi di Kabupaten Bengkalis. Wilayah pesisir itu tercatat menyumbang 45 titik panas, menjadikannya daerah paling rawan saat ini.
Sementara itu, hanya satu titik hotspot terdeteksi di luar Bengkalis, yakni di Kabupaten Pelalawan. Minimnya sebaran di daerah lain tidak serta-merta menghilangkan potensi kebakaran, mengingat kondisi cuaca kering masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah.
Secara regional, provinsi lain di Sumatera juga mencatat kemunculan hotspot, meski jumlahnya tidak sebesar Riau. Kepulauan Riau tercatat memiliki 13 titik, disusul Aceh sebanyak 3 titik. Kemudian, Sumatera Selatan terpantau 2 titik dan Sumatera Utara 1 titik.
Data ini memperlihatkan bahwa Riau masih menjadi penyumbang terbesar hotspot di Sumatera. Kondisi tersebut sejalan dengan karakteristik wilayah yang memiliki lahan gambut luas, yang mudah terbakar saat memasuki periode kering.
BMKG mengingatkan bahwa pemantauan hotspot menjadi indikator awal dalam mendeteksi potensi kebakaran. Karena itu, pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah dengan konsentrasi titik panas tinggi seperti Bengkalis.
Selain itu, langkah pencegahan seperti patroli rutin, sosialisasi larangan membuka lahan dengan cara membakar, serta kesiapsiagaan peralatan pemadam dinilai penting untuk menekan risiko karhutla.
Dengan kondisi cuaca yang masih dinamis, masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Upaya bersama dinilai menjadi kunci untuk mencegah meluasnya dampak karhutla di Riau dan sekitarnya. (trp/bsh)
