Sempat Hilang, Kini Muncul 4 Titik Panas di Riau, BMKG Minta Warga Waspadai Karhutla

BMKG kembali memantau kemunculan titik panas di Riau. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Setelah sempat menghilang, titik panas atau hotspot di Riau kembali muncul. Jumat (17/4/2026) terpantau 4 titik yang tersebar di beberapa kabupaten. Sementara di Sumatera, terdapat 29 titik.

Forecaster BMKG Stasiun Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Ranti Kurniati menjelaskan, jumlah hotspot di Riau saat ini masih dalam kategori rendah. Namun, kondisi tersebut tetap harus diwaspadai guna mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Meski masih relatif sedikit, titik panas ini perlu menjadi perhatian bersama agar tidak berkembang menjadi kebakaran,” ujar Ranti.

Berdasarkan pemantauan, empat hotspot di Riau masing-masing berada di Kabupaten Rokan Hilir, Rokan Hulu, Siak, dan Indragiri Hulu. Setiap wilayah tersebut terdeteksi memiliki satu titik panas.

Secara keseluruhan di Sumatera, Provinsi Jambi menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 7 titik. Disusul Sumatera Selatan dengan 6 titik. Sementara itu, Aceh dan Bangka Belitung masing-masing mencatat 5 titik, dan Sumatera Utara sebanyak 2 titik.

Data ini menunjukkan bahwa sebaran hotspot di Sumatera cukup merata, meskipun jumlahnya masih tergolong rendah. Kendati demikian, potensi peningkatan tetap ada jika tidak diantisipasi sejak dini.

BMKG mengingatkan bahwa kondisi cuaca, terutama pada musim kemarau atau periode minim curah hujan, dapat memperbesar risiko munculnya titik panas baru. Oleh karena itu, peran masyarakat dinilai sangat penting dalam upaya pencegahan.

Warga diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena praktik tersebut menjadi salah satu penyebab utama munculnya hotspot. Selain merusak lingkungan, kebakaran lahan juga berdampak pada kesehatan akibat kabut asap yang ditimbulkan.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan hotspot. Langkah mitigasi juga disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya karhutla di wilayah rawan.

Dengan kondisi saat ini, kewaspadaan dini menjadi kunci agar jumlah hotspot tidak terus bertambah dan dapat ditekan seminimal mungkin. (trp/bsh)

Exit mobile version