PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kelangkaan BBM subsidi jenis Pertalite di sejumlah wilayah Riau memicu antrean panjang di sejumlah SPBU, Minggu (3/5/2026) dini hari. Pengendara mobil dan sepeda motor, bahkan harus menunggu berjam-jam demi mendapatkan bahan bakar.
Fenomena ini terjadi di berbagai lokasi, salah satunya di jalur lintas Sumatera, perbatasan Pekanbaru–Kampar. Sejak pukul 05.00 WIB, antrean kendaraan sudah mengular hingga ke badan jalan. Kondisi serupa juga terlihat pada antrean solar, yang sama-sama mengalami kepadatan.
Sejumlah pengendara mengaku kecewa, karena Pertalite kerap habis saat giliran mereka tiba. Kevin (26), seorang pemotor di Pekanbaru mengatakan, dirinya sudah datang sejak subuh dengan harapan bisa mengisi BBM tanpa antre panjang.
Namun dirinya mengaku tak bisa mengisi pertalite. “Sudah antre lama, tapi petugas bilang Pertalite kosong,” ujarnya.
Akibat kelangkaan ini, sebagian pengendara beralih ke BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo. Namun, lonjakan permintaan membuat antrean di jalur tersebut ikut memanjang.
Hal senada disampaikan Adlis, salah seorang pemilik mobil yang mengantre hampir dua jam di SPBU Arengka, Pekanbaru. Menurutnya, panjang antrean kendaraan mencapai sekitar satu kilometer di kedua sisi jalur pengisian.
“Dari subuh antre, baru dapat setelah dua jam. Kendaraan sangat banyak,” katanya.
Sementara itu, petugas SPBU menyebut, stok Pertalite memang sedang kosong dan masih menunggu pengiriman dari depo. Namun, mereka tidak mengetahui pasti penyebab kelangkaan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi ini memicu pertanyaan publik, mengingat Riau dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak di Indonesia. Warga mendesak pihak terkait segera turun tangan untuk memastikan distribusi BBM kembali normal dan mengusut kemungkinan adanya gangguan distribusi atau penimbunan.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga wilayah Riau belum memberikan penjelasan rinci. Sales Area Manager Riau, Wilson Eddi Wijaya menyarankan wartawan untuk konfirmasi melalui humas.
Kelangkaan Pertalite di Riau kini menjadi sorotan, karena berdampak langsung pada aktivitas masyarakat dan berpotensi mengganggu mobilitas serta perekonomian daerah. (kps/bsh)
