PASAMAN BARAT, FOKUSRIAU.COM-Rencana pembangunan pabrik pupuk kompos berteknologi nano di Jorong Ladang Rimbo Lubuak Landua, Nagari Lubuak Landua, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, mulai menarik perhatian masyarakat.
Kehadiran investasi baru tersebut dinilai berpotensi membuka peluang ekonomi baru sekaligus menyerap tenaga kerja lokal di tengah kebutuhan lapangan pekerjaan yang terus meningkat.
Perusahaan yang akan menggarap proyek itu adalah PT Andalan Manpower Solusi. Saat ini, perusahaan masih berada pada tahap awal berupa pematangan lahan sebelum masuk ke proses perizinan dan pengembangan fasilitas produksi.
Penanggung jawab lapangan PT Andalan Manpower Solusi, Armon, mengatakan pihaknya masih fokus menyiapkan area pembangunan yang memiliki luas sekitar 0,8 hektare.
Menurut dia, proyek tersebut belum masuk tahap konstruksi penuh karena masih menunggu proses penguatan investasi.
“Sekarang kami masih tahap awal, yaitu pematangan lahan dan pengajuan kepada investor. Kalau semuanya sudah berjalan baik, seluruh izin akan kami lengkapi,” kata Armon kepada wartawan di Simpang Empat, Senin (11/5/2026).
Meski masih tahap perencanaan, keberadaan pabrik pupuk kompos itu mulai memunculkan optimisme di tengah masyarakat sekitar.
Pasalnya, sektor industri pengolahan limbah pertanian dan perkebunan dinilai memiliki prospek besar di Pasaman Barat yang dikenal sebagai salah satu daerah sentra sawit di Sumatera Barat.
Armon menjelaskan, perusahaan juga telah melakukan komunikasi dan sosialisasi kepada pemerintah nagari serta unsur masyarakat setempat.
Langkah itu dilakukan agar rencana investasi berjalan terbuka dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah warga.
“Kami sudah menyampaikan rencana ini kepada wali nagari, pemuda, dan masyarakat sekitar. Prinsipnya kami terbuka,” ujarnya.
Menurutnya, jika pembangunan pabrik nantinya terealisasi, manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat tidak hanya sebatas penyerapan tenaga kerja. Aktivitas industri baru itu juga diperkirakan akan memunculkan perputaran ekonomi tambahan di kawasan sekitar.
Mulai dari peluang usaha transportasi, warung makan, jasa angkut hingga kebutuhan pendukung industri diprediksi ikut tumbuh seiring aktivitas pabrik berjalan.
Selain itu, perusahaan juga berencana menyalurkan program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR kepada masyarakat sekitar.
“Kami berharap nantinya keberadaan perusahaan bisa memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar, baik dari sisi ekonomi maupun sosial,” ulasnya.
Rencana pembangunan pabrik pupuk kompos tersebut juga dinilai relevan dengan kondisi Pasaman Barat yang memiliki potensi limbah perkebunan cukup besar.
Selama ini, limbah tandan kosong kelapa sawit dan sisa sayuran pasar sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal.
Padahal, jika diolah menggunakan teknologi tepat guna, limbah tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat menjadi bahan baku pupuk organik ramah lingkungan.
Armon menyebut, bahan baku utama pabrik nantinya berasal dari limbah tandan buah sawit serta limbah sayur dari pasar-pasar di Pasaman Barat.
Bahan tersebut kemudian akan diolah menjadi produk setengah jadi sebelum dikirim ke pabrik lanjutan di Makassar.
“Di sini prosesnya pengolahan awal. Setelah itu dikirim ke Makassar untuk diproses menjadi pupuk nano yang siap digunakan,” katanya.
Pupuk nano sendiri mulai banyak dilirik sektor pertanian modern karena dianggap lebih efisien dalam meningkatkan penyerapan unsur hara tanaman.
Teknologi ini juga disebut mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia berlebihan yang selama ini menjadi persoalan di sejumlah daerah pertanian.
Produk pupuk tersebut nantinya ditargetkan untuk mendukung sektor perkebunan sawit, pertanian jagung hingga tanaman hortikultura dan buah-buahan.
Masuknya investasi industri berbasis pengolahan limbah itu dinilai menjadi peluang penting bagi Pasaman Barat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Terlebih, daerah tersebut masih menghadapi tantangan terbatasnya sektor industri hilir yang mampu menyerap tenaga kerja secara luas.
Dalam beberapa tahun terakhir, isu hilirisasi produk perkebunan memang menjadi perhatian pemerintah pusat maupun daerah. Pengolahan limbah sawit menjadi produk bernilai tambah dinilai dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus mengurangi persoalan lingkungan.
Armon menegaskan, keberhasilan masuknya investor tidak terlepas dari dukungan pemerintah nagari, tokoh masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat.
Menurut dia, dukungan masyarakat menjadi faktor penting agar proyek investasi dapat berjalan lancar dan memberi manfaat jangka panjang.
“Kami tentu berharap dukungan dari semua pihak agar rencana ini bisa terealisasi dan memberi manfaat bersama,” tuturnya.
Jika proyek tersebut benar-benar berjalan sesuai rencana, maka keberadaan pabrik pupuk nano itu berpotensi menjadi salah satu sektor industri baru di Pasaman Barat yang berbasis ekonomi hijau dan pengelolaan limbah berkelanjutan.
Selain membuka lapangan kerja, proyek itu juga bisa menjadi langkah awal mendorong penguatan industri turunan sawit di daerah.
Di tengah meningkatnya kebutuhan pupuk organik dan ramah lingkungan, peluang pasar industri pupuk nano diperkirakan masih sangat terbuka dalam beberapa tahun ke depan. (def)
