PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Ancaman cuaca ekstrem kembali menghantui Indonesia. Sejumlah model iklim global memprediksi fenomena El Nino tahun ini, berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah modern. Dampaknya bukan sekadar suhu panas meningkat, tetapi ancaman kekeringan panjang, kebakaran hutan dan krisis air bersih di sejumlah daerah, termasuk Riau.
Peringatan itu mulai menjadi perhatian serius para ilmuwan iklim dunia. Fenomena pemanasan suhu laut di Samudra Pasifik tersebut diprediksi berkembang mulai pertengahan tahun dan terus menguat hingga akhir tahun.
Chief Meteorologist and Climate Specialist WFLA-TV, Jeff Berardelli bahkan menyebut, dunia kemungkinan menghadapi kondisi cuaca yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Saya rasa kita akan menyaksikan peristiwa cuaca yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern,” ujarnya dikutip dari Mercury News, Selasa (12/5/2026).
Bagi Riau, ancaman El Nino bukanlah isu baru. Riau memiliki catatan panjang menghadapi kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau ekstrem datang. Dalam beberapa tahun terakhir, kabut asap akibat karhutla, bahkan sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat dan pendidikan.
Karena itu, prediksi munculnya Super El Nino memunculkan kekhawatiran baru. Terutama bagi daerah dengan lahan gambut luas seperti Riau.
Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO menyebut, El Nino diperkirakan mulai berkembang pertengahan tahun ini. Fenomena tersebut berpotensi memengaruhi suhu global dan pola curah hujan dunia secara signifikan.
Secara sederhana, El Nino merupakan pemanasan alami suhu laut di wilayah ekuator Samudra Pasifik. Kondisi itu kemudian mengubah sirkulasi atmosfer dan memicu perubahan cuaca di berbagai negara.
Kebalikan El Nino adalah La Nina. Fenomena itu biasanya membawa suhu laut lebih dingin dan curah hujan lebih tinggi.
Saat ini, panas yang tersimpan di bawah permukaan Samudra Pasifik mulai bergerak ke timur dan naik ke permukaan laut. Proses itu disebut sebagai tahap awal terbentuknya El Nino.
Laporan WMO menunjukkan, suhu permukaan laut mengalami kenaikan cukup cepat dalam beberapa bulan terakhir. Para ahli juga meyakini, peluang terbentuknya El Nino kini semakin besar.
Fenomena ini umumnya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun. Durasi dampaknya bisa berlangsung sembilan hingga dua belas bulan.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah kemungkinan munculnya Super El Nino. Istilah itu digunakan ketika pemanasan suhu laut mencapai level sangat tinggi dan memicu gangguan iklim global lebih besar.
Ilmuwan iklim dari California Institute for Water Resources, Daniel Swain mengatakan, ada indikasi penting yang saat ini mulai terlihat.
“Salah satu elemen kunci agar fenomena ini benar-benar terwujud faktanya sedang terjadi,” katanya.
Meski begitu, Swain menegaskan belum ada kepastian penuh bahwa fenomena kali ini akan berkembang menjadi Super El Nino. Namun potensinya cukup besar dan perlu diwaspadai sejak dini.
Jika pemanasan di Pasifik terus meningkat, maka panas dalam jumlah besar akan dilepaskan ke atmosfer bumi. Kondisi itu dapat memicu gelombang panas lebih kuat, kekeringan lebih panjang, hingga banjir besar di sejumlah wilayah.
“Semua indikator menunjukkan tahun depan akan menjadi tahun yang cukup liar dari sudut pandang iklim global,” ujar Swain lagi.
Di Indonesia, dampak El Nino biasanya terasa pada berkurangnya curah hujan. Musim kemarau cenderung lebih panjang dan suhu udara meningkat tajam.
Badan-badan iklim nasional sebelumnya juga pernah mengingatkan, El Nino kuat berpotensi memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan.
Bagi Riau, situasi tersebut sangat sensitif. Sebab sebagian wilayah masih didominasi lahan gambut yang mudah terbakar saat kondisi kering.
Selain ancaman asap, sektor pertanian juga berpotensi terdampak. Kekeringan dapat mengganggu produktivitas tanaman pangan dan perkebunan masyarakat.
Ketersediaan air bersih menjadi persoalan lain yang perlu diantisipasi. Ketika musim kemarau panjang terjadi, debit sungai dan waduk biasanya mengalami penurunan drastis. Kondisi itu bisa berdampak langsung terhadap kebutuhan rumah tangga maupun aktivitas industri.
Tak hanya Indonesia, El Nino diperkirakan memicu dampak global yang luas. Sejumlah wilayah Amerika Serikat diprediksi mengalami musim panas lebih ekstrem dibanding biasanya.
Di kawasan Amazon, degradasi hutan akibat kebakaran dan kekeringan diperkirakan semakin parah. Sekitar 40 persen wilayah hutan Amazon disebut sudah mengalami tekanan ekologis serius.
Fenomena El Nino yang kuat diperkirakan mempercepat kondisi tersebut tahun depan.
Selain itu, peningkatan suhu global juga diprediksi mencetak rekor baru. Panas berlebih dari El Nino akan bertemu dengan pemanasan global akibat perubahan iklim.
Kombinasi keduanya dikhawatirkan membuat suhu bumi melonjak lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ilmuwan iklim University of Pennsylvania, Michael Mann, mengatakan El Nino memang biasanya meningkatkan suhu global selama satu atau dua tahun.
Namun, setelah itu kondisi umumnya akan berbalik menuju La Nina yang membuat suhu global sedikit menurun.
Meski demikian, tren perubahan iklim global saat ini dinilai membuat dampak El Nino menjadi semakin sulit diprediksi.
Karena itu, sejumlah negara mulai meningkatkan langkah mitigasi lebih awal. Pemerintah daerah di Indonesia juga didorong memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
Di Riau, kewaspadaan terhadap potensi karhutla menjadi perhatian utama. Pengawasan kawasan rawan kebakaran dinilai perlu diperketat sejak sekarang.
Selain itu, masyarakat juga diminta mulai menghemat penggunaan air dan menghindari aktivitas pembakaran lahan.
Fenomena El Nino memang belum sepenuhnya mencapai puncak. Namun tanda-tandanya mulai terlihat jelas. Jika tidak diantisipasi sejak dini, dampaknya bisa jauh lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya. (dtc/zul)
