PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Peta persepsi publik terhadap anggota DPRD Provinsi Riau dari daerah pemilihan Kota Pekanbaru mulai bergerak dinamis. Di tengah dominasi sejumlah nama senior, muncul satu figur yang mengalami lonjakan citra paling mencolok dalam survei terbaru Lembaga Survei Opini Rakyat.
Nama itu adalah Sumardany. Dalam survei yang dirilis Senin (18/5), tingkat citra publik Sumardany tercatat naik hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan itu dinilai bukan sekadar angka statistik. Ada perubahan persepsi masyarakat yang mulai melihat pola kerja politik baru di tingkat legislatif daerah.
Survei dilakukan pada 24 April hingga 16 Mei 2026 dengan melibatkan 290 responden yang tersebar di 15 kecamatan di Kota Pekanbaru. Komposisi responden dibuat seimbang antara laki-laki dan perempuan agar representasi penilaian publik lebih proporsional.
Ketua Lembaga Survei Opini Rakyat, Adlin, mengatakan survei ini dirancang untuk membaca arah penilaian masyarakat terhadap para wakil rakyat setelah lebih dari setahun menjalankan mandat politik hasil Pemilu 2024.
Menurutnya, dinamika persepsi publik mulai terlihat jelas setelah masyarakat merasakan langsung pola komunikasi dan kerja para legislator di lapangan.
“Survei ini menggambarkan bagaimana masyarakat menilai kinerja dan citra anggota DPRD Provinsi Riau setelah lebih dari satu tahun menjalankan amanah,” kata Adlin.
Dari seluruh nama yang masuk dalam survei, Sumardany menjadi figur dengan peningkatan paling signifikan. Ia memperoleh tingkat citra publik sebesar 11,38 persen. Angka itu melonjak tajam dibandingkan survei April 2025 yang masih berada di kisaran 4 persen.
Kenaikan tersebut menjadi salah satu temuan paling menarik dalam survei tahun ini. Di tengah ketatnya persaingan citra politik di Pekanbaru, peningkatan itu memperlihatkan adanya penguatan pengenalan publik terhadap figur Sumardany.
Adlin menilai lonjakan tersebut menunjukkan adanya respons positif masyarakat terhadap aktivitas representasi politik yang dijalankan selama awal masa jabatan.
“Jika dibandingkan tahun lalu, Sumardany menunjukkan peningkatan yang cukup tajam. Ini menjadi salah satu dinamika menarik dalam peta persepsi publik DPRD Riau di Pekanbaru,” ujarnya.
Fenomena ini dinilai tidak lepas dari intensitas komunikasi politik yang mulai dibangun secara lebih terbuka kepada masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, publik perkotaan seperti Pekanbaru cenderung lebih responsif terhadap figur legislatif yang aktif hadir di tengah masyarakat, terutama dalam isu pelayanan publik, aspirasi warga, hingga respons terhadap persoalan sosial.
Kenaikan citra politik juga sering kali dipengaruhi tingkat visibilitas seorang anggota dewan di ruang publik. Tidak hanya melalui kegiatan formal, tetapi juga pendekatan komunikasi yang dianggap dekat dengan masyarakat.
Dengan capaian 11,38 persen, Sumardany kini masuk dalam kelompok anggota DPRD Provinsi Riau dengan citra publik cukup kuat di Pekanbaru. Bahkan, posisinya mulai sejajar dengan sejumlah legislator yang lebih dulu dikenal publik.
Meski demikian, survei masih menempatkan Ayat Cahyadi sebagai figur dengan tingkat citra tertinggi. Ayat memperoleh angka 20 persen dan berada di posisi teratas.
Di bawahnya terdapat Parisman Ikhwan dengan 14,48 persen, lalu Ahmad Tarmizi sebesar 14,14 persen.
Sementara Robin P Hutagalung dan Sumardany sama-sama mengoleksi angka 11,38 persen.
Posisi berikutnya ditempati Munawar dengan 10 persen, disusul Ginda Burnama sebesar 7,24 persen, Kasir 6,9 persen, dan M Vadel Variza di posisi terbawah dengan 4,14 persen.
Bagi pengamat politik lokal, tren ini memperlihatkan bahwa masyarakat Pekanbaru mulai lebih rasional dalam menilai wakil rakyat. Popularitas semata tidak lagi cukup. Publik kini cenderung melihat konsistensi kerja, kemampuan menyerap aspirasi, serta kedekatan emosional dengan konstituen.
Hal itu sejalan dengan karakter pemilih perkotaan yang semakin kritis terhadap kinerja pejabat publik. Apalagi, media sosial dan keterbukaan informasi membuat masyarakat lebih mudah mengawasi aktivitas politik para legislator.
Adlin menegaskan hasil survei ini bukan hanya bicara soal tingkat keterkenalan figur politik. Lebih jauh, survei tersebut menjadi cerminan hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat yang mereka representasikan.
“Hasil ini menunjukkan bagaimana masyarakat menilai kinerja dan citra para anggota DPRD serta dapat menjadi acuan bagi masing-masing wakil rakyat dalam meningkatkan pelayanan politik kepada masyarakat,” jelasnya.
Di tengah meningkatnya tuntutan publik terhadap transparansi dan kerja nyata legislatif, hasil survei ini bisa menjadi alarm sekaligus peluang bagi para anggota DPRD Provinsi Riau.
Bagi Sumardany, lonjakan citra publik menjadi modal politik penting untuk memperkuat posisi di mata pemilih Pekanbaru. Namun di sisi lain, ekspektasi masyarakat juga dipastikan ikut meningkat.
Sebab dalam politik modern, kenaikan citra publik tidak hanya harus dipertahankan, tetapi juga dibuktikan lewat kerja konkret yang dirasakan langsung oleh masyarakat. (bsh)
