Karhutla Riau Kembali Terjadi Saat Idul Adha, 14 Hektare Lahan Gambut di Rohil dan Siak Terbakar

Ilustrasi Karhutla di wilayah Riau beberapa waktu lalu. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Saat gema takbir Idul Adha masih terdengar di berbagai penjuru Riau, ancaman lama kembali muncul dari balik semak dan lahan gambut yang mengering. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali muncul di dua daerah berbeda, Rabu (27/5/2026) memaksa tim pemadam bergerak cepat di tengah suasana hari raya.

Api terpantau membakar lahan di Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir dan Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak. Total luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 14 hektare. Sebagian besar area yang terbakar merupakan lahan gambut yang dikenal mudah menyimpan bara di bawah permukaan tanah.

Situasi ini kembali memunculkan kekhawatiran masyarakat. Pasalnya, karhutla di Riau bukan hanya soal api yang membakar lahan, tetapi juga ancaman kabut asap yang berpotensi mengganggu kesehatan, aktivitas warga, hingga transportasi udara jika tidak segera dikendalikan.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto mengatakan, personel Manggala Agni langsung turun ke lapangan usai pelaksanaan Shalat Id. Menurutnya, respons cepat dilakukan agar api tidak meluas ke area lain yang lebih sulit dijangkau.

“Tim sudah kami kerahkan ke lokasi untuk melakukan pemadaman,” ujar Ferdian, Selasa siang di Pekanbaru.

Dijelaskan, penanganan kebakaran di Pasir Limau Kapas dilakukan Manggala Agni Daops III Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara. Sementara penanganan di Kecamatan Kandis dilakukan tim Manggala Agni Daops IV Pekanbaru.

Menurut data sementara, lahan yang terbakar di Pasir Limau Kapas mencapai sekitar 8 hektare. Sedangkan di Kandis luas lahan terdampak diperkirakan sekitar 6 hektare.

Meski belum menimbulkan kabut asap tebal, proses pemadaman berlangsung cukup berat. Tim di lapangan harus menghadapi kondisi medan gambut yang sulit dilalui kendaraan. Selain itu, sumber air di sekitar lokasi juga terbatas.

Petugas terpaksa memanfaatkan air dari kanal-kanal kecil untuk membantu proses pembasahan lahan. Cara itu dinilai paling memungkinkan dilakukan dalam kondisi lapangan saat ini. “Sumber air terbatas. Tim di lapangan memanfaatkan air dari kanal-kanal kecil untuk pemadaman,” kata Ferdian.

Untuk mempercepat pendinginan, upaya pemadaman tidak hanya dilakukan melalui jalur darat. Helikopter water bombing juga diterjunkan guna menyiram titik api dari udara, terutama pada area yang sulit dijangkau personel.

Karhutla yang muncul saat Idul Adha ini menjadi alarm dini bagi Riau. Sebab, memasuki pertengahan tahun, sejumlah wilayah mulai mengalami penurunan curah hujan. Kondisi itu membuat lahan gambut lebih mudah terbakar, terutama jika terdapat aktivitas pembukaan lahan menggunakan api.

Riau sendiri masih menjadi salah satu provinsi yang rawan karhutla setiap musim kemarau. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat sistem deteksi dini, patroli terpadu, hingga operasi modifikasi cuaca untuk mencegah kebakaran meluas.

Namun demikian, tantangan di lapangan masih cukup besar. Banyak titik rawan berada di kawasan terpencil dengan akses terbatas. Di sisi lain, karakter gambut membuat api sering muncul kembali meski permukaan terlihat sudah padam.

Fenomena itu terjadi karena bara api dapat bertahan di bawah tanah dalam waktu lama. Karena itu, proses pendinginan biasanya membutuhkan waktu lebih panjang dibanding kebakaran biasa.

Selain mengerahkan personel pemadam, pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Langkah pencegahan dinilai jauh lebih penting dibanding penanganan setelah kebakaran terjadi.

Karhutla tidak hanya berdampak pada lingkungan. Asap yang dihasilkan juga dapat memicu gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA pada anak-anak dan lansia. Dampak ekonomi pun cukup besar karena dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan distribusi logistik.

Di sejumlah daerah rawan, patroli terpadu kini mulai ditingkatkan untuk memantau potensi titik api baru. Pemerintah berharap keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama agar kebakaran tidak meluas seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Munculnya karhutla tepat saat Idul Adha juga memberi pesan bahwa ancaman kebakaran di Riau belum sepenuhnya hilang. Di tengah suasana hari raya, para petugas tetap berjibaku di lapangan demi mencegah api meluas dan melindungi masyarakat dari ancaman asap.

Hingga Rabu malam, proses pemadaman dan pendinginan masih terus dilakukan di dua lokasi tersebut. Petugas berharap cuaca mendukung agar titik api dapat segera dikendalikan sepenuhnya. (bsh)

Exit mobile version