Kelas Menengah Indonesia Menyusut 1,2 Juta Jiwa, Bambang Soroti Soal Air Galon

Kebiasaan konsumsi air galon disebut menjadi salah satu pengeluaran rutin yang sering luput dari perhatian. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kebiasaan mengonsumsi air minum dalam kemasan, terutama air galon, disebut ikut menggerus kemampuan finansial masyarakat kelas menengah di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan ekonom senior Bambang Brodjonegoro, menyoroti fenomena menyusutnya jumlah kelas menengah nasional.

Menurut Bambang, banyak keluarga Indonesia tidak menyadari bahwa pengeluaran rutin untuk membeli air galon dan air minum kemasan terus mengurangi pendapatan yang sebenarnya bisa dialokasikan untuk tabungan, investasi atau kebutuhan produktif lainnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan terbaru Mandiri Institute yang menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia berkurang 1,2 juta jiwa sepanjang 2025. Sebelumnya ada 47,9 juta orang pada 2024, lalu jumlahnya turun menjadi 46,7 juta jiwa.

“Selama ini secara tidak sadar itu sudah menggerus income kita secara lumayan dengan style kita yang mengandalkan semua kepada air galon, air botol dan segala macamnya,” kata Bambang Brodjonegoro.

Pengeluaran Kecil yang Terjadi Setiap Hari
Bambang menjelaskan, konsumsi air minum kemasan mungkin terlihat sebagai pengeluaran kecil. Namun jika dihitung dalam jangka panjang, nilainya menjadi signifikan karena dilakukan hampir setiap hari oleh jutaan rumah tangga.

Berbeda dengan Indonesia, sejumlah negara maju memiliki sistem penyediaan air minum publik yang dapat langsung dikonsumsi masyarakat. Fasilitas tersebut tersedia di berbagai ruang publik sehingga warga tidak perlu terus-menerus membeli air minum kemasan.

Menurut Bambang, kondisi itu membuat masyarakat di negara maju memiliki beban pengeluaran yang lebih rendah untuk kebutuhan dasar sehari-hari.

“Daya beli kelas menengahnya aman karena untuk air pun mereka tidak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak,” ujarnya.

Bukan Penyebab Utama Turunnya Kelas Menengah
Meski menyoroti konsumsi air galon, Bambang menegaskan faktor tersebut bukan penyebab utama menyusutnya kelas menengah Indonesia.

Ia menilai tekanan terbesar tetap berasal dari pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak pekerja kehilangan pekerjaan dan banyak usaha mengalami kebangkrutan.

Setelah pandemi mereda, masyarakat kembali menghadapi tekanan berupa tingginya suku bunga, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.

Harga beras yang melonjak akibat dampak El Nino juga ikut mempersempit ruang belanja rumah tangga.

Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat sebagian masyarakat yang sebelumnya berada di kelas menengah turun menjadi kelompok aspiring middle class atau kelas menengah rentan.

Mengapa Pernyataan Ini Menarik? Pernyataan Bambang menjadi perhatian, karena menyentuh kebiasaan sehari-hari yang dilakukan hampir seluruh keluarga Indonesia.

Berbeda dengan isu suku bunga, inflasi, atau nilai tukar yang terasa jauh dari kehidupan masyarakat, pembelian air galon merupakan aktivitas rutin yang langsung berkaitan dengan pengeluaran rumah tangga.

Karena itu, pernyataan tersebut memunculkan diskusi baru mengenai bagaimana pengeluaran kecil yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kondisi keuangan keluarga dalam jangka panjang.

Namun para ekonom umumnya sepakat bahwa menyusutnya kelas menengah Indonesia merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks. Faktor lapangan kerja, pendapatan, produktivitas, inflasi pangan, biaya pendidikan, biaya kesehatan, hingga kondisi ekonomi global tetap menjadi penentu utama kemampuan masyarakat mempertahankan status ekonomi mereka.

Laporan Mandiri Institute menunjukkan penyusutan kelas menengah masih menjadi tantangan serius bagi Indonesia. Di tengah tekanan biaya hidup yang meningkat, perdebatan mengenai konsumsi air galon hanya menjadi salah satu bagian dari diskusi yang lebih besar tentang bagaimana masyarakat mengelola pengeluaran dan menjaga daya beli di tengah ketidakpastian ekonomi. (bsh)

Sumber: CNBCIndonesia

Exit mobile version